
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kamu tahu dia jadi istri selingkuhan atau istri kedua dari mana Yank? tanya Yanto saat mereka sedang perjalanan pulang.
“Sudah lama Mas, waktu aku sama ayah dan ibu ke mall waktu kita nginep di rumah kota dulu. Saat kita masih sering pulang pergi ke rumah kota, waktu itu Mas sedang cek motor yang mau di beli dan aku izin ke mall,” kata Fitri.
“Di mall aku ketemu sama teman kuliah lalu kami ngobrol sesaat. Dia cerita kalau Ningsih itu cuma istri simpanan aja bukan istri sah. Dan ada teman yang benci Ningsih karena sering di ejek saat kuliah sedang mencari data istri sah suaminya. Temanku ingin melaporkan Ningsih pada istri sah suaminya itu. Itu mengapa aku tahu status Ningsih.”
“Jadi istri simpanan aja bangga. Istri simpanan itu kan pencuri! Cuma karena dia punya harta mengejek orang yang tak punya. Dia pikir hartanya akan bertahan lama?”
“Harta juga harta warisan. Warisan dari suaminya enggak bakal jatuh ke tangan dia juga, pasti jatuh ke tangan istri dan anak-anaknya yang sah,” kata Fitri
“Nah benar itu, buat apa dia banggain harta orang tuanya bukan orang tua malah mertuanya. Mertua juga bukan mertua sah. Dalam keluarga suaminya saja tak ada yang tahu kalau dia istri anggota keluarganya.”
“Mas enggak terima aja waktu Ningsih bilang CUMA SOPIR, dia enggak tahu aja marketing manager ini lebih cinta sama si sopir, bucin sama si sopir dan lebih posesifan dia sama si sopir,” ucap Yanto. Fitri memang sudah menjabat jadi marketing manager saat keluar dari pekerjaannya di Jogja dulu.
“Dulu marketing manager, sekarang jadi direktur keuangan, tetap aja kan tunduk di bawah sopir bus,” goda Yanto.
“Enggak juga, enggak selalu di bawah sopir bus,” Fitri membalas godaan Yanto. Dia tak sadar akan terjebak pukat harimau dengan kata-katanya itu.
__ADS_1
“Kamu jangan seperti itu deh Yank. Nanti malam aku minta lho kamu tidak di bawah,” ancam Yanto.
“Yaaaaaah, aku salah ngomong dong?”
“Kamu sendiri yang bilang enggak selalu di bawah sopir bus, berarti nanti malam kamu di atas,” jawab Yanto.
“Iiiiiih Papa mah suka gitu deh,” kata Fitri.
“Kita sekalian belanja yuk Pa. Banyak perlengkapan yang habis terutama diapers anak-anak, alat mandi anak-anak dan kebutuhan dapur.”
“Sekalian juga belanja daging, kan kalau ikan sama ayam kita sudah enggak pernah beli lagi. Kalau olahan daging dan dagingnya stock kita habis,” kata Fitri.
“Oke boleh. Kita mampir ke supermarket besar ya,” Yanto tak menolak kalau demi kebutuhan anak-anaknya. Ini juga moment pertama mereka keluar rumah berdua sejak punya anak. Selama ini Fitri tak pernah mau meninggalkan anak-anak di rumah. Pasti dia bawa.
“Ma. Tadi Papa denger siapa itu … Dwi Handoyo?” tanya Yanto.
“Mas ingat enggak waktu aku bawa mobil dan kalian nyariin aku enggak bisa dihubungi sampai sore karena ponselku hilang?”
“Ingatlah, kalau saja kamu tahu perasaanku saat itu. Mas ketakutan terjadi hal buruk. Kamu dapat pelecehan atau kamu celaka. Memang ada apa saat itu?” tanya Yanto. Dia memang sejak dulu tak pernah tanya masa lalu Fitri sebelum dengannya. Yanto merasa masa lalu milik yang bersangkutan dan dia tak perlu membahas atau memikirkannya karena tak mungkin kita ganti dengan cerita lain.
__ADS_1
“Waktu itu aku bilang kan bahwa kami enggak ada dosen, terus teman-teman panas-panasin aku masa ada mobil nggak berani bawa, akhirnya aku bawa lah ke rumah Ningsih itu. Di rumah Ningsih ternyata bukan cuma kita anak-anak perempuan yang dia undang, tapi juga ada beberapa anak laki salah satunya Dwi Handoyo. Dia 2 tahun di atas aku, dia ngejar-ngejar aku sejak aku semester 1 tapi aku enggak gubris.”
“Saat itulah Dwi Handoyo bilang sayang ke aku. ‘Kan aneh, masa ngomong seperti itu di tempat rame-rame ,seperti dia sedang mabuk. Harusnya kayak gitu kan personal tidak sedang rame-rame. Aku merasa seperti buat mainan aja, seperti buat tarohan. Sepertinya Dwi Handoyo ingin membuktikan dia berani mengucap kata-kata itu di depan umum.”
“Tentu saja aku enggak mau, saat itulah ponselku aku cari-cari enggak ada. Aku yakin sih ada teman-teman yang sengaja ambil, cuma akhirnya enggak berani mengembalikan.”
“Lalu siapa tadi yang Salim itu?”
“Ferianto Salim, dia anak konglomerat Solo Ferdinandus Salim, Mas mungkin tahu. Papanya punya banyak perusahaan besar di Solo.”
“Ferdinandus Salim pemilik PO yang di Solo Yank. Yang enggak kasih Mas referensi dulu. Mas tahu bidang usahanya banyak banget,” jawab Yanto tanpa cemburu.
“Waaaah, aku malah baru tahu Mas. Aku hanya tahu perusahaannya bergerak di bidang jasa dan otomotif saja.”
“Ferianto Salim dan Dwi Handoyo satu tingkat tapi beda jurusan. Ferry juga suka sama aku, dia super kaya jauh dari Dwi Handoyo. Kekayaan Ferry empat atau tiga kali lipat Dwi. Tapi aku enggak mau walau dia sudah berjanji mau pindah agama dan Ferry bilang orang tuanya tak keberatan kalau dia pindah agama, enggak jadi masalah. Tapi akunya enggak mau karena sejak dulu kan aku memang enggak gila harta.”
“Maaf, sekali lagi maaf. Apa aku terlihat bangga dengan kekayaan orang tuaku? Apa aku memakai dan membeli barang-barang branded dengan kekayaan ayah? Kan enggak, aku biasa aja. Apa yang aku suka ya itu aku pakai bukan karena mereknya,” kata Fitri.
“Mas ngertiin kok kamu masih mau belanja di pasar Klewer mana ada sosialita mau belanja di pasar tradisional seperti itu sempit-sempitan,” kata Yanto yang beberapa kali pengantar Fitri ke Pasar Klewer. Kalau sosialita pasti sukanya di mall enggak mau ke pasar tradisional yang sempit dan harus tawar-menawar.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok.
__ADS_1