
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
"Mas ke depan sebentar deh," Fitri menarik tangan suaminya.
"Ada apa?" kata Yanto dengan lembut.
"Aku mau bicara sebentar. Tadi mau bilang saat berangkat ke sini malah lupa," kata Fitri.
"Ada apa ?" Yanto penasaran apa yang akan gadis itu katakan.
Gadis?
Ya, Fitri masih gadis karena Yanto belum menyentuhnya sama sekali. Menciumnya saja belum pernah walau sudah beberapa kali mereka tidur berpelukan. Itu mereka ketahui ketika terbangun.
"Mas aku boleh kasih handphone lama aku ke Herry enggak?" Fitri minta izin pada suaminya. Dia tak ingin gegabah bertindak semau sendiri.
"Kenapa?" Yanto ingin tahu alasan istrinya memberi ponsel pada Herry. Adiknya itu sudah bisa diberi tanggung jawab menjaga barang berharga, tentu tak masalah diberi handphone.
"Aku ingin mereka ada alat komunikasi. Kita bisa tahu khabar mereka, tanya apa kebutuhan mereka. Bagaimana kesehatan mereka," jelas Fitri.
__ADS_1
"Handphonenya nggak rusak, waktu itu aku cuma ganti model aja," Yanto tahu semua handphone bekas Fitri masih sangat bagus. Bahkan dengan handphone yang sekarang dia gunakan masih lebih bagus handphone bekasnya Fitri.
"Ya kasih aja, biar dia yang isi nomor." Yanto mengerti maksud istrinya, maka dia mengizinkan.
"Aku udah beli kartu perdananya nanti tinggal Mas daftarkan, karena Herry kan belum punya KTP." Rupanya Fitri sudah menyiapkan segalanya.
"Enggak apa apa ya Mas aku kasih yang bekas aku. Apa mau di belikan yang baru aja?" Fitri takut Yanto tersinggung adiknya hanya diberi ponsel bekas pakai.
"Ya nggak apa-apa kalau kamu bicara seperti ini. Tapi kalau kamu tanpa bicara lalu kamu putuskan sendiri, Mas enggak mau. Mas akan marah," jawab Yanto menegaskan ada aturan dalam rumah tangga mereka.
"Mana handphonenya?" Tanya Yanto. Fitri langsung mengambil di dashboard mobil. Dia mengeluarkan sebuah ponsel jenis baru, hanya satu seri di bawah yang sekarang Fitri gunakan.
'*Ponsel kayak gini sudah jadi ponsel bekas buatnya. Ponsel yang aku gunakan bahkan sejak aku kelas dua STM tak pernah ganti*.' Yanto mengamati ponsel yang serinya jauh di atas yang dia gunakan.
Tapi Yanto tetap tak mau menukar dengan miliknya karena enggak enak. Dia berpirinsip itu memang sudah rejekinya Herry.
Sesudah Fitri dan Yanto mengajari Herry cara menggunakan ponsel, keduanya segera pulang agar tak terlalu lelah karena besok akan ke Jogja.
__ADS_1
Walau belum pernah mempunyai handphone Herry cepat mahir menggunakan alat komunikasi itu.
"Ini nomornya Mbak, ini nomornya Mas Yanto. Kalau ada apa-apa kalian hubungi di nomor ini ya," pesan Fitri tadi sebelum dia pamit.
"Iya Mbak."
"Itu sudah ada pulsanya tidak untuk membuka yang macam-macam. Kamu belajar, fungsinya ponsel untuk alat komunikasi, bukan untuk menonton atau main game," nasihat Yanto pada adiknya.
Yanto sudah mengisikan paket data.
"Paket itu untuk satu bulan Dek jadi nggak mungkin habis sebelum waktunya. Kecuali kamu emang boros menggunakan data."
"Iya Mas aku ngerti." Herry bukan langsung senang dan bersorak mendapat barang mahal seperti itu. Dia malah memikirkan tanggung jawab yang harus dia pikul dengan amanat tersebut.
"Jangan buat mainan ya Dek Ini buat sarana kalian berhubungan dengan kami, terlebih kalau kami sudah pindah ke Jogja."
"Mbak mau pindah ke Jogja," tanya Timah dengan mimik sedih.
"Iya kami kami akan pindah ke Jogja maka dari itu kalian harus jaga ibu baik-baik dan ponsel ini kalian gunakan untuk berkomunikasi dengan kita."
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok
__ADS_1