BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
FAKTA DARI BURHAN


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



Burhan melihat wajah ketiga perempuan itu tambah kuyu selepas dari ruang dokter. Burhan mengajak ketiga ibu itu duduk di kafe.



“Maaf yang Ibunya Pak Bambang yang mana ya?” Tanya Burhan untuk memastikan dia tak salah sasaran bicara.



“Saya wakilnya Pak Bambang kalau di bus,” lanjut Burhan sambil memandang Gendis dan Erlina.



“Saya,” jawab Gendis.



“Begini Bu. kemarin sore, di tengah tol Bekasi Pak Bambang bicara pada saya Bu. Pak Bambang berpesan, *kalau ada apa-apa dengan saya saya titip ibu dan dua adik saya* begitu Pak Bambang bicara,” Fitri langsung terdiam mendengar pesan yang Yanto katakan melalui Burhan.



Fitri mengeluarkan tissue dari tasnya dan diulurkan pada Gendis serta Bu Erlina.



“Saya sudah bilang pada Pak Bambang, jangan bicara seperti itu Pak Bambang. Tapi Pak Bambang bilang : *Kita kan enggak tahu apa yang akan terjadi. Yang penting saya sudah titipkan mereka pada anda*,” kata Burhan lagi.



“Saya mohon maaf ya Bu Fitri. Sekali lagi saya mohon maaf saya mau cerita sejak awal sampai tadi dini hari mengapa Pak Bambang bisa celaka.” kali ini Burhan bicara pada Fitri sebagai istri Bambang.



“Awalnya 6 bulan lalu saya dan Pak Bambang itu baru datang dari Jogja ke Bogor. Saya pamit ke kamar mandi sebentar lalu saat keluar kamar mandi saya dihadang orang Bu. Saya tak bisa langsung kembali ke tempat Pak Bambang. Padahal saat saya pamit pak Bambang seperti punya firasat. Dia bilang pada saya *jangan pergi lama-lama*.”



“Saat saya kembali Pak Bambang sudah tidak ada. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Pak Bambang kok bisa meninggalkan saya. Biasanya Pak Bambang tak pernah seperti itu.”



“Lalu sore Pak Bambang kembali dia langsung menegur saya kenapa saya meninggalkan dia terlalu lama.”



“Saya bilang saat saya kembali Pak Bambang sudah tidak ada jadi memang benar-benar saya tahu dari awal bukan membela pak Bambang.”



“Saya benar tahu bagaimana perjalanan Pak Bambang sampai menderita seperti sekarang, saya tidak membelanya tidak ada keuntungan saya untuk membela dia Bu Fitri,” kata Burhan menjeda kalimatnya lalu menyeruput kopi yang dia pesan tadi.


__ADS_1


“Pak Bambang cerita saat dia minum kopi yang dipesan tadi dia langsung pusing dan ada perempuan yang bilang mau mengantarkan dia ke mess. Tapi Pak Bambang bangun sudah ada di rumah perempuan itu bukan di mess. Rupanya pak Bambang tak sadar diri.”



“Maaf Bu, sekali lagi maaf. Pak Bambang cerita dia saat bangun sudah tidak memakai pakaian, tapi dia bilang tak ada bercak darah di sprei kalau perempuan itu masih perawan. Tapi kalau perempuan itu sudah tak perawan pun,  tidak ada bekas ceceran sper-ma seperti biasa kita bermain dengan istri kita,” kata Burhan memaparkan hal yang wajar terjadi saat suami istri berhubungan intim.



“Saat itu Pak Bambang ditodong oleh ibunya perempuan itu, Pak Bambang membuktikan tak ada jajaran sper-ma di kasur lalu Pak Bambang pulang ke mess.”



“Satu bulan kemudian perempuan itu bersama ibunya dan sepupunya datang ke kantor PO. Mereka mengancam Pak Bambang, akan melaporkan kepada kantor PO bahwa Pak Bambang telah melakukan hal pelecehan sehingga perempuan tersebut hamil.”



“Pak Bambang berkeluh kesah pada saya, bagaimana ini kata Pak Bambang saat itu minta pendapat saya. Beliau hanya takut ibu terluka bila tahua da perempuan lain.”



“Saya bilang nikahi aja, tapi jangan pernah sentuh. Sehabis melahirkan ceraikan dan kalau perlu bukti tes DNA. Yang penting Bapak selalu setia pada nyonya atau istri saya bilang begitu. Dan Pak Bambang memang sepengetahuan saya Pak Bambang tak pernah menyentuh karena Pak Bambang itu selalu cerita bahwa dia sangat menyesal dengan pernikahan itu tapi tak bisa apa-apa lagi karena takutnya perempuan tersebut akan melabrak ibu atau ke kantor PO sedangkan Pak Bambang tak ingin Ibu tersakiti itu yang saya tahu Bu.”



Fitri, Gendis dan Erlina diam mendengar fakta dari Burhan.



“Nah kemarin Pak Bambang sudah bawa berkas berobatnya dari Solo. Ternyata, dia pulang ke Solo untuk ambil berkas berobat di dokter yang didatangi bersama ibu.”




“Kemarin dia ikut periksa karena ingin bertanya pada dokter, bagaimana perempuan tersebut bisa hamil dengan satu kali sentuh kalau memang pernah menyentuh sedangkan dengan ibu belum juga punya anak,” kata Burhan.



“Pak Bambang ingin menunjukkan bukti pemeriksaannya pada dokter yang didatangi oleh perempuan tersebut. Ternyata Pak Bambang malah dapat fakta mengagetkan sebelum dia memperlihatkan hasil pemeriksaan dirinya.”



Burhan sengaja menjeda sebentar untuk melihat reaksi Fitri, tapi Fitri tak mau berkomentar apa pun dia tetap diam akhirnya Burhan melanjutkan ceritanya.



“Saat melihat layar USG, bu bidan bilang kandungan perempuan tersebut sudah 7 bulan Bu. Pak Bambang marah pada bu bidan, kenapa kok sudah 7 bulan sedangkan dia baru menikah dengan Fitri itu hampir 5 bulan,  dan perkenalan mereka yaitu kejadian waktu dia dikasih kopi itu baru 6 bulan Bu.”



“Bu bidan memperlihatkan data pemeriksaan kehamilan Fitri dua minggu sebelum pak Bambang terbangun di kamar perempuan itu dalam keadaan telan-jang. Pak Bambang langsung menggebrak meja bu bidan.”



“Pak Bambang cerita kemarin langsung memberi talak Fitri di depan bu bidan dan langsung pulang ke mess. Sampai di Mess dia cerita semua pada saya sehabis itu pak Bambang tidak bicara lagi. Dia hanya diam  sampai terjadi masuk jurang tadi pagi.”

__ADS_1



“Minggu lalu memang dia sudah bicara \*aku kok pengen masuk jurang ya Han, aku pengen masuk jurang \*itu memang Minggu lalu dia katakan seperti itu pada saya saat dia putus asa karena dia mendatangi ibu di Solo tak pernah bisa bertemu,” kata Burhan



Erlina mendengar itu langsung diam karena sejak dulu dia yakin Bambang itu tak pernah nakal atau melakukan kesalahan jadi dia mengerti apa yang Burhan ceritakan.



Gendis menarik nafas lega setelah mengetahui bagaimana kelakuan anaknya sebenarnya yaitu tidak pernah selingkuh atau bermain perempuan lain selain dengan istrinya.



Fitri ingat dua kali Bambang ke rumahnya tapi dia sudah berpesan pada semua orang di rumah bila Yanto datang tak boleh masuk rumah apalagi sampai masuk kamarnya.



\*‘Rupanya sangat besar dampak penolakanku tak mau bertemu denganmu Mas,’ \*keluh Fitri dengan penuh penyesalan.



“Saya pamit Bu. Hanya itu yang bisa saya beritahu soal Pak Bambang. Saya ingin Ibu tidak menyesal kalau nanti Pak Bambang tidak selamat. Setidaknya fakta ini sudah kita ketahui sebelum dia tidak ada,” kata Burhan.



“Walau jujur saya tidak ingin beliau tidak ada,” ucap Burhan dengan sedih. Fitri tidak menangis, Gendis dan Erlina yang menangis. Fitri hanya diam bengong. Justru itu lebih parah karena memang jiwanya terguncang.



Fitri ingat ekspresi wajahnya Yanto pertama kali dia suapin di mobilnya ketika hari pertama Yanto menjadi sopirnya dulu. Wajah terkejut, senang tapi bingung. Wajah yang membuatnya makin mencintai brondong anak SMK itu.



Fitri ingat wajah Yanto saat dia bilang aku mau panggil kamu Yanto aja ah karena aku adalah bagian keluargamu saat pertama kali Fitri dibawa ke rumah Yanto untuk refreshing di pedesaan.



Fitri ingat bagaimana wajah Yanto saat pertama kali dia bikin bikin pepes patin kesukaan Yanto setelah mereka menikah.



Semua terbayang-bayang kenangan bersama suaminya. Bagaimana Yanto hanya berani memeluknya atau mengecup kening serta mengacak rambut di puncak kepalanya. Suaminya belum berani mencium bibirnya, padahal mereka sudah menikah satu bulan.



Dan mereka baru melakukan hubungan suami istri setelah berada di rumah Jogja. Saat itu Fitri juga ingat Yanto pun minta izin lebih dulu boleh tidak dia mengambil haknya sebagai suami. Jadi Fitri yakin apa yang dikatakan oleh Burhan adalah kebenaran karena Yanto bukan lelaki yang muda tergiur oleh seorang perempuan.



Pada perempuan yang sudah sah sebagai istri saja dia hanya berani memeluk bahu dan mencium kening, masa baru ketemu pagi itu bisa langsung tancap gas? Itu rasanya bukan Yanto. Jadi Fitri yakin semua yang Burhan katakan adalah benar.



Kecuali kalau memang Yanto dan perempuan tersebut sudah lama kenal, mungkin bisa saja terjadi permainan di luar batas. Tapi ternyata kenyataannya mereka baru ketemu pagi itu dan siangnya langsung terjadi sesuatu yang Yanto bilang tak mungkin karena tak ada sisa sper-ma.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok



__ADS_2