
“Ada yang masih mau kasih saran?” tanya Herry sambil memandang keliling, melihat semua peserta rapat.
“Kalau dari aku ya itu, waktunya kayanya kalau hanya sebentar begitu takutnya peserta pada nggak ngerti,” ucap seorang rekan.
“Mereka sudah terbiasa memberi jadwal 20 menit teori lalu 40 menit untuk praktek. Rasanya karena modulnya sudah baku, saya yakin tidak banyak yang tidak mengerti. Lebih-lebih kita anak sekolah, masa kalah sama para lansia yang sudah biasa di rumah yang sudah lebih jarang mikir. Kalau orang sudah jarang berpikir, olah otaknya tidak secepat kita yang masih aktiv. Nah para lansia itu bisa nangkap dengan baik, lebih-lebih kita kan?”
“Baik kalau begitu rasanya cukup ya. Kita tinggal merangkum semuanya. Saya minta semua seksi segera memberikan rangkumannya program kerjanya agar bisa direkap dijadikan satu kesatuan program kerja angkatan kita,” ucap sekretaris OSIS menutup pertemuan pagi menjelang siang hari ini.
“Siap, insya Allah besok semuanya sudah terkumpul,” kata seorang pengurus.
“Kita tunggu istirahat pertama besok ya. Jadi kita benar-benar bergerak mulai minggu depan. Tidak ada lagi program tertunda. Keinginan saya kita hanya bekerja di semester pertama. Semester kedua kita tinggal mengevaluasi seluruhnya yang belum selesai kita kerjakan atau revisi program yang belum berhasil,” kata Herry. Karena semester kedua itu akan banyak kompetisi di luar sekolah. Dia tak ingin jadwal kerja OSIS jadi terhambat.
“Kalau mau mengerjakan bersama teamnya, bisa juga di istirahat kedua kita kumpul lagi untuk membahas semua yang perlu kita bicarakan. Tapi non formal kalau untuk istirahat kedua. Yang formal adalah pembicaraan di istirahat pertama,” kata Herry.
“Jadi kalau istirahat kedua nanti, kalau yang tidak mau membahas boleh tidak hadir?” tanya seorang anggota.
“Boleh,” kata sekretaris OSIS.
“Boleh saja. Pokoknya yang wajib itu di istirahat pertama.” kata Herry.
Mereka pun masuk ke kelas masing-masing. Sehabis istirahat pertama ini para guru memberikan tugas untuk membentuk pengurus kelas.
“Maaf jangan saya untuk jadi pengurus kelas. Bahkan untuk seksi apa pun, jangan saya. Karena saya sibuk di OSIS. Nanti overlapping. Saya mohon yang lain saja,” pinta Herry. Dia tak mau kelasnya jadi tak terurus karena dia merangkap di OSIS.
Herry terpaku memandang ke luar kelas. Dia melihat kursi di bawah pohon tempat tadi Tria dan Andre duduk. Kursi depan kelas 12 IPS, kelasnya Tria.
__ADS_1
‘Kok mereka makin akrab ya?’ batin Herry dengan pikiran kacau.
‘Bahkan sudah dibawakan jus seperti itu, karena aku tahu itu botolnya sama pasti Tria yang bawakan.’
Herry keluar membawa bekal pada saat istirahat kedua, dia akan makan di ruang OSIS sambil bertukar pikiran dengan teman-teman lainnya. Tapi dia disetop oleh seorang temannya di kelas 10 yang sekarang beda kelas karena naik kelas 11 tentu diacak lagi oleh sekolah.
Kebetulan yang menyetopnya adalah Harry. Tetangga kampungnya juga.
“Aku melihat ada iklan kambing milik adikmu kalau aku beli ada harga diskon nggak?” tanya Harry.
“Kamu bisa hubungi chat di iklan itu saja,” ujar Herry.
“Yah, masak sama temen kamu nggak kasih aku disposisi buat dapat diskon khusus teman baik?” rayu Harry.
“Aku kasih diskon 5000 ya?” kata Herry sambil nyengir.
“Kalau untuk diskon 5000 rupiah, aku tidak mau ngemis sama kamu,” bantah Harry setelah selesai tawanya.
“Memang kamu mau bikin apa?” tanya Herry. Sekarang dia serius.
“Kakakku mau aqiqah anaknya, dia butuh kambing,” jawab Harry.
“Satu atau dua?” tanya Herry menanyakan kebutuhan Harry. Pasti beda kalau yang di aqiqah kan adalah bayinya perempuan atau lelaki.
“Untuk bayi lelaki, berarti butuh dua ekor.”
__ADS_1
“Nanti pulang sekolah kita telepon adikku ya. Jadi kamu aku suruh bicara dengan adikku langsung. Sekarang aku mau meeting dulu sekalian makan siang. Takutnya kalau bicara jam istirahat adikku juga lagi sibuk yang lain, nanti dia malah tak konsen kasih diskon untukmu,” jawab Herry.
“Sedap tuh makan siangnya,” kadang Harry.
“Hanya masakan rumah biasa saja. Masakan adikku pasti sedap,” kata Herry.
“Adikmu sudah bisa masak?” tanya Harry. Dia ingat adiknya Harry itu beda 3 tahun, sekarang baru naik kelas 8. masa sudah mahir masak seperti yang Herry bilang, begitu pikir Harry.
“Lumayan lah kalau masak air dia bisa,” jawab Herry.
“Kamu sejak dulu ya bikin aku terbahak terus,” Harry.
“Adikku lumayan. Hari ini dia mencoba tumis kembang pepaya dan lauknya aku bawa juga hasil masakan dia yaitu ayam masak nanas. Hanya itu sih menunya. aku tentu bawa kerupuk,” uajar Herry.
“Mantap ya. Aku seharusnya juga bawa saja sudah bekal dari rumah setiap sekolah, seperti kamu sejak dulu,” ucap Harry.
“Padahal di rumah juga selalu tersedia menu masakan. Setiap pagi sudah ready walau hanya tumis bayam dengan tempe goreng,” lanjut Harry.
“Kalau sudah ada mending bawa, daripada kamu sekarang kelaparan atau kamu harus antri dulu di kantin,” saran Herry.
“Iya, mulai besok aku bawa lah. Ngapain aku malu,” Harry membulatkan tekad untuk ikut bawa bekal saja.
“Ya, kadang orang gengsi juga sih bawa. Tapi aku memang lebih suka bawa bekal,” kata Herry.
“Ayo aku ditunggu teman-teman di ruang OSIS. Kamu mau ke sana?”
__ADS_1