
Fitri hanya diam melihat ibu seperti itu.
“Mamas enggak usah rebutan ya. Enggak baik. Kita harus terus berbagi,” bisik Fitri. Dia juga tidak mau ribut dengan orang tua siswa lain.
Daffa pun mengangguk. Dia seperti ayahnya hanya diam dan tersenyum melihat sikap anak seperti itu.
“Ayo semuanya masuk, kita berbaris dulu ya?” kata bu guru mengajak semua siswa masuk kelas saat bell berbunyi.
“Mama di luar ya, sama papa,” bisik Fitri. Sebenarnya Daffa bisa saja ditinggal. Tapi hanya 90 menit di dalam kelas, jadi Fitri memutuskan dia menunggu saja setiap Daffa sekolah.
“Iya,” kata Daffa.
Fitri dan beberapa ibu lain pun duduk di luar. Fitri melihat Daanish yang sedang main pasir bersama dengan suaminya.
“Oalah Bu, kalau aku tadi sudah ngamuk mainan yang sedang dipegang anakku direbut seperti itu,” tegur seorang ibu pada Fitri.
__ADS_1
“Orang seperti itu nanti juga akan kena batunya sendiri. Yang penting kita mengajarkan kepada anak itu sesuatu yang baik. Kita mengajarkan semua hal baik pada anak sejak dini, belum tentu hasilnya anak kita akan baik hasilnya. Kalau kita mengajarkan keburukan nanti hasilnya pun pasti akan buruk.”
“Sama aja kita menanam padi pasti banyak rumput yang ikut tumbuh artinya walaupun kita menanam kebaikan belum tentu anak kita jadi baik tapi bila kita menanam rumput, kita tidak akan mungkin menuai padi. Jadi kalau kita menanamkan keburukan tak mungkin ada kebaikan. Itu saja sih prinsip saya dan suami. Saya berupaya menanamkan semua yang terbaik buat anak saya,” jelas Fitri santai.
“Kami sepaham. Mbak Fitri sama Mas Yanto memang benar-benar orang tua teladan,” ujar seorang eyang yang mengantar cucunya.
“Enggak Bu, kami sama-sama belajar kok,” jawab Fitri merendah.
Dari pakaian semua tak akan mengira Fitri adalah orang kota karena memang dia sejak gadis saja tidak suka bersolek mau pun memakai baju yang branded. Yang penting dia suka dan bagus untuk dirinya itu yang dia pakai.
“Maaf itu, bukan sopir saya. Itu suami saya,” jawab Fitri karena ibunya Farhan menegur soal Yanto yang bermain dengan Daanish.
“Suami? Memang dia enggak kerja?” tanya Ina merendahkan.
“Suami saya sopir. Jadi kami naik mobil juragan kami,” kata Fitri merendah.
__ADS_1
“Oh begitu ya? Jadi enak bisa ke mana-mana bawa mobil juragannya untuk keperluan keluarga.”
“Iya juragan kami kasih pinjam kalau jadwal sekolah, karena suami saya kinerjanya bagus.” jawab Fitri.
“Oh cuma sopir.”
“Iya Bu. Alhamdulillah suami saya sopir,” balas Fitri. Ibunya Farhan juga langsung menganggap rendah Fitri.
“Tapi setidaknya kami dapat izin dari majikan menggunakan mobil pribadinya. Tidak pakai punya pemerintah. Mobil dinas koq dipakai untuk pribadi, cuma untuk anatar jemput sekolah. Kalau ada yang lapor ke atasan nanti mobil disita malah enggak bisa gaya pakai mobil ya Bu. Apa suami jadi pakai motor ke kantor karena Ibu yang pakai mobil dinasnya?” tanya Yanto yang bersuara keras sehingga semua ibu yang antar anak-anak mendengar semua.
“Pak Yanto juragan mobil koq ngaku pakai mobil majikan sih?” celetuk seorang ibu.
“Lha majikan saya kan ibunya Daffa. Dia yang punya semua usaha saya koq. Saya hanya sopir pribadi dia, walau sejak SMA istri saya sudah pakai mobil pribadi,” jawab Yanto enteng sambil duduk di sebelah istrinya yang hanya senyum manis saja.
__ADS_1