
“Ningrum, kamu letakkan saja makanan yang kamu bawa di meja, soal pengaturan biarin saja yang punya rumah. Kamu taruh saja dan kamu langsung duduk di sini. Kamu tamu di rumah ini. Jangan kamu ikut membantu,” perintah Wijoyo pada adik iparnya.
“Sejak tadi ada tamu, nyonya rumah enggak peduli atau mikirin apa yang harus dikeluarkan buat tamu. Nyonya rumah cuma berpikir kalau tamunya bawa keuntungan buat dia pribadi, baru dia akan sediakan makanan,” kata Wijoyo di depan mertua juga adik-adik dari Menik. Ibu mertua Wijoyo diam, memang itulah kelakuan putrinya.
Saat itu datang ibunya Wijoyo diantar oleh anaknya Darno, dia datang sendiri karena bapaknya Wijoyo sudah meninggal dua tahun lalu.
“Monggo semua kita minum teh yang sudah disiapkan oleh si mbok tadi,” kata Darno mencoba menurunkan suhu emosi di rumah itu.
“Sebelum makan malam saya beritahukan dulu satu hal penting. Mungkin ada yang belum tahu kalau saat ini kami sedang ada sedikit kesulitan,” kata Wijoyo.
“Kesulitan apa Nang?” tanya ibunya Wijoyo. Biar bagaimana pun namanya ibu pasti dia tak ingin anaknya kesulitan.
“Aisy berulah, dia mengejar cinta seorang laki-laki yang sejak SMP dia sukai. Ketemu kembali bulan lalu di mall. Sudah jelas lelaki tersebut punya dua anak, lelaki tersebut yang bernama Bambang sudah memperkenalkan istrinya. Aisy diperingatkan oleh sahabatnya sejak SMP yaitu Indri tapi Aisy tak mau peduli dia tetap mengejar lelaki tersebut.”
__ADS_1
“Lalu istrinya Bambang memberi peringatan agar Aisy mundur. Namanya juga istri, wajib dia seperti itu.”
“Tetapi rupanya Aisy sama seperti ibunya, senang mengejar lelaki orang lain sehingga kemarin Aisy dilaporkan ke polisi karena menuduh istri Bambang sengaja menyebarkan rekaman percakapan antara Aisy dan ibu Diah istrinya Bambang.”
“Astagfirullah,” kata kedua orang tua Menik dan ibunya Wijoyo. Mereka baru mendengar masalah itu dari mulut Wijoyo. Kalau adik-adiknya Menik semua sudah tahu tapi tidak memberitahu orang tuanya.
“Apa enggak ada lelaki lain yang masih bujangan, kok ngejar-ngejar suami orang yang sudah punya anak dua?” begitu Mbah kakungnya Aisy bicara.
Sedang mbah uti dari Joyo dan mbah uti dari Menik hanya diam mereka tak percaya kalau kelakuan cucu mereka seperti itu.
Sejak kemarin Wijoyo sudah mewanti-wanti malam ini Menik dan Aisy tidak boleh keluar karena ada hal penting yang ingin dia bicarakan. Tapi mereka tak tahu kalau Wijoyo ingin bicara dengan keluarga besar juga. Mereka hanya akan berpikir bicara bertiga saja.
“Itu saja sih yang saya beritahu saat ini. Nanti sehabis makan saya akan mengungkap sesuatu. Sekarang kita makan dulu saja,” Wijoyo pun memapah ibunya untuk ke meja makan.
__ADS_1
“Ini sengaja saya pesankan pada Ningrum karena saya tahu kalau ada tamu istri saya enggak peduli apa yang akan dihidangkan,” kata Wijoyo. Menik hanya diam dikupas di depan semua orang seperti itu. Kenyataannya sejak tadi dia tak pernah berpikir mau diberi makan apa para tamunya. Bahkan teh saja tak dia suruh, pembantu saja yang berinisiatif langsung membuatkan minum bila ada tamu.
“Ningrum masakanmu selalu enak,” kata ibunya Wijoyo. Dia sudah hafal istri dari adik ipar menantunya itu memang jago masak.
“Matur nuwun Mbah Uti,” jawab Ningrum terhadap pujaan mertua Wijoyo tersebut.
“Monggo dihabiskan jangan malu-malu,” kata Wijoyo. Menik dan Aisy masih tetap diam. Mereka tak berani bicara setelah kelakuan Aisy dikupas oleh Wijoyo di depan keluarga besar.
Selesai makan malam Wijoyo mengajak semuanya kembali ke depan. Dia ingin membuka semua permasalahan yang ada.
__ADS_1
