BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
BUNGA KECOMBRANG


__ADS_3

Hari Minggu mbok Minah hunting sesuatu di pasar. Dia mencari bunga kecombrang. Yanto minta pecel dengan bahan dasar bunga kecombrang tentu saja harus dapat


“Coba cari di tukang bumbu giling. Biasanya ada di sana,” kata seorang bakul yang ditanyai oleh mbok Minah di pasar besar.


Mbok Minah pun mencari dan benar di tukang bumbu giling ada banyak kecombrang. Mbok Minah mencari yang besar-besar karena untuk dibuat pecel beda kalau untuk ditumis pilih yang kecil nanti diiris tipis kalau untuk pecel maka aku harus di suwir setiap helainya.


Saat itulah mbok Minah melihat bunga genjer lagi. Kemarin masih hari Sabtu sehingga belum dimasak tadi karena akan dibawa ke sekolah hari Senin oleh Herry. Mbok Minah kembali membeli genjer dalam jumlah banyak karena genjer juga bisa buat bahan pecel.


Mbok Minah juga membeli kacang tanah untuk bumbu pecel yang diinginkan Yanto tentunya dia juga membeli banyak gula merah.


“Alhamdulillah untungnya dapat,” kata Gendis ketika mbok Minah bawa dua bunga combrang yang ukuran besar serta dua yang ukuran kecil.


“Iya Bu. tadi Mbak Fitri pesan harus dapat. Saya bingung bila tak dapat Bu,” kata mbok Minah.


“Yanto nek ngidam memang begitu. Sudah nggak aneh, tiga anaknya ya kayak begitu. Dia semua yang ngidam kata Gendis lagi.


“Oalah saya pikir mbak Fitrinya yang ngidam maka Mbak Fitri pesan jangan sampai nggak dapat,” jawab mbok Minah.


“Nggak. Fitri nggak pernah ngidam. Yang ngidam Yanto,” kata Bu Gendis.

__ADS_1


Gendis, mbol Minah dan mbok Yani langsung mengeksekusi bumbu pecel dengan lumpang kayu. Mereka buat sambal pecel dalam jumlah banyak sehingga sewaktu-waktu tinggal dicairkan saja sesuai kebutuhan.


Sambel pecelnya dibikin dengan tingkat kepedasan sedang nanti bila ingin tambah pedas tinggal ditambah ulekan cabe rawit kalau mau dibikin supaya kurang pedasnya tinggal ditambah gula merah biar rasa pedasnya berkurang.


“Jangan lupa yang tidak pedas dikirim ke tempat Bu Erlina ya,” pinta Gendis tadi memang dia minta bikin yang kurang pedas untuk Bu Erlina karena pak Suradi harus mengurangi pedas walaupun awalnya pak Suradi itu jago makan pedas tapi sekarang tidak boleh makan pedas.


Kalau yang untuk Bu Erlina sudah jadi dari tadi Bu. Sudah saya taruh di thin wall-nya tinggal diantar saja,” jawab bu Yani.


“Oalah saya pikir malah belum,” kata Gendis.


“Nggak Bu. Takutnya alunya sudah kena pedas nanti nggak enak. Yang nggak pedas buat anak-anak dan eyang kakung sudah dipisahkan lebih dulu,” kata mbok Minah. Rupanya dia mengerti anak-anak juga dipisahkan sedikit.


Siang ini semua senang karena mereka makan pecel dengan kembang kecombrang. Memang kembang combrang atau kecombrang ini jarang yang mengkonsumsinya. Hanya beberapa daerah tertentu yang menu tradisionalnya menggunakan kembang combrang ini. Rasanya memang khas.


“Terima kasih ya Ma,” kata Yanto. Dia makan pecel dengan gorengan bakwan saja tanpa nasi atau pun lontong. Benar-benar hanya itu.



“Terima kasihnya ke mbok Minah yang blusukan di pasar.”

__ADS_1


“Kok hamil ini Papa senangnya makannya sayuran, buah dan segala macam segaran ya Pa? Kesenangan Mama yang Papa sukain,” ucap Fitri.


“Ya nggak apa-apa lah. Yang penting sehat,” jawab Yanto.


Bu Minah dan Bu Yani jadi terkagum-kagum atas kehamilan Fitri. Mereka baru tahu tentang ngidamnya Yanto,


“Sudah lama banget ya Bu kita nggak masak combrang,” kata Timah.


“Iya benar sudah lama banget,” jawab Fitri.


“Selama Mbak di sini saja baru berapa kali kita makan combrang, kalau pas dapat di pasar,” balas Fitri.


“Ya Mbak. Memang jarang yang jual. Kecuali kita punya pohonnya,” balas Timah.


“Wah kalau begitu nanti aku sama Satrio hunting deh umbinya satu buat kita tanam,” usul Herry.


“Nah iya bilang sama Satrio. Dia kan sering memberi penyuluhan ke pelosok. Kalau ketemu minta satu rimpang untuk ditanam,” kata Gendis.


“Tapi lahannya harus agak luas karena dia pohonnya tinggi besar. Tidak seperti empon-empon lain seperti jahe. Rumpunnya dia tinggi setinggi tebu,” kata Yanto.

__ADS_1


“Nggak apa-apa, nanti tanam di belakang kandang kambing saja. Lahannya subur dan teduh,” kata Timah.


__ADS_2