
Herry memasuki ruang OSIS sudah banyak orang di sana termasuk lelaki yang bersama Tria tapi kali ini tentu saja dia sendirian. Rapat berjalan mulus. Sesuai dengan agenda, saat itu adalah pemilihan ketua OSIS baru serta pembekuan pengurus lama.
Lelaki yang bersama Tria ternyata adalah seorang siswa kelas 11 IPA akan naik kelas 12. Dia harus meletakkan jabatan karena kelas 12 tak boleh ada yang merangkap menjadi pengurus OSIS. Pengurus OSIS hanya boleh kelas 10 dan kelas 11.
Dengan alot akhirnya secara aklamasi Herry dipilih menjadi ketua OSIS baru untuk tahun depan. Mau tak mau Herry menerima jabatan tersebut.
Semua memberikan selamat pada Herry termasuk Andriansyah lelaki yang bersama Tria beberapa kali. Andriansyah dulu ternyata adalah SIE olahraga di sekolah ini. Sie atau seksi.
“Selamat ya,” kata Andriansyah saat tiba gilirannya.
__ADS_1
“Terima kasih Kak,” jawab Herry dengan sopannya. Biar bagaimana pun dia tak mau ada salah paham kalau dia bilang tidak sopan.
Selanjutnya Herry dan beberapa dan semua pengurus OSIS yang baru berjanji lusa mereka akan meeting kembali untuk membahas program kerja.
“Iya ini aku baru selesai meeting. Sudah plong sekarang karena sudah bukan pengurus OSIS lagi,” demikian Herry mendengar Andriansyah sedang bertelepon dengan seseorang.
“Kamu lagi di kandang ya?” tanya Andriansyah. Herry tak mengetahui siapa yang dibicara, tapi begitu mendengar kata-kata kandang Herry bisa menduga kemungkinan besar yang diajak bicara oleh Adriansyah adalah Tria.
Herry berjalan ke parkiran motor dia bersiap untuk pulang ke rumah dia akan mulai membuat kisi-kisi program kerja. Nanti akan digabungkan dengan program kerja pengurus lainnya lalu mereka diskusikan apa yang bisa dijalankan di tahun pengurusan mereka.
__ADS_1
Herry jadi ingat dengan Satrio, dia ingin agar teman-temannya ikut menggalakkan pemanfaatan limbah sehingga mengurangi polusi tanah dia akan meminta Satrio dan teman-temannya untuk memberi penyuluhan di sekolahnya. Itu mungkin program kerja yang ingin Herry masukkan di kepengurusan OSIS tahun ini.
“Wah aku nggak punya nomornya Satrio karena selama ini nggak pernah berpikir akan berhubungan dengan dia,” kata Herry sambil mengambil kunci motornya. Motornya sekarang motor matic besar dengan harga jauh di atas motor matic biasa. Semua dia beli dengan uang hasil usahanya.
“Nanti aku akan mintalah pada Timah, karena aku yakin Timah masih rajin berhubungan dengan Satrio, walau akhir-akhir ini aku lihat Satrio jarang datang. Mungkin karena Timah tidak mau terima tamu.”
“Bagaimana kamu sreg dengan kampus mu itu?” tanya Arini pada Fabianto.
“Sekarang nggak usah berpikir sreg atau enggak sreg Ma. Sekarang kita itu kuliah yang penting cari ilmu. Nggak usah mikir yang lain,” kata Fabianto berupaya bijak. Dia tak mau lagi buang waktu. Dia sudah banyak kalah dari anak-anak kecil sekarang.
__ADS_1
Selama menganggur ini Fabianto sering nongkrong di bakery mamanya. Dia mengawasi kerja para pegawai, juga memperhatikan para pelanggan yang keluar masuk toko, kadang Fabianto membantu bila ada kesulitan apa pun. Dia kerjakan tanpa malu dan Arini juga tidak melarang karena itu memang sangat bagus buat perkembangan jiwa Fabianto.
Fabianto malah lupa soal keinginannya membuka bisnis sendiri yaitu lukisan batik dia berpikir lukisan batik itu akan terlalu lama muter uangnya. Itu terlalu idealis buat dia. Dia tak mau seperti itu. Harus mencari usaha yang bergerak cepat penghasilannya. Walaupun kecil tapi kalau rutin pasti nanti omsetnya juga besar. Itu yang Fabianto pikirkan saat ini. Tapi dia belum ketemu bidang apa yang akan dia tekuni.