
Tak ada yang bisa menolong Aisy atau pun Menik. Sejak semalam Menik dan Aisy mulai packing barang-barangnya. Mereka packing dengan koper yang mereka punya juga kardus-kardus yang ada di rumah. Kekurangannya besok baru akan beli kardus tambahan.
“Bu, kalau nyonyamu mau bawa alat dapur suruh bawa saja,” pesan Joyo pada asisten rumah tangganya.
“Apa saya tawarkan Pak?”
“Ya, besok pagi tawarkan saja barang apa yang mau dia bawa. Kalau mau ambil semua alat dapur dan kulkas berikan saja,” jawab Wijoyo.
“Aku hari ini masih kerja ya Bu. Ibu cari aja rumah kontrakan. Kalau bisa yang dekat kantor aku, biar enggak terlalu beban nanti ongkos kerjaku. Biarpun pakai motor setidaknya bensin lebih irit,” ujar Aisy pada ibunya saat dia akan berangkat kerja. Tak ada lagi sarapan bersama. Sejak pagi Wijoyo sudah keluar rumah.
“Ya Ibu akan cari. Nanti Ibu kabari.” kata Menik. Mereka sekarang hanya berdua jadi memang harus saling menopang. Dulu saat belum seperti ini pun mereka memang kompak. Terlebih sekarang, keluarga besarnya pun tak mau lagi mengakui Menik dan Aisy.
Wijoyo sudah berangkat sejak pagi, dia janjian dengan pengacar kantor sebelum jam masuk kerja. Dia langsung meminta bantuan pengacara di kantornya untuk mengurus surat cerainya. Dia tak ingin lapor sendiri biar semua diurus pengacara saja.
Aisy baru sadar bahwa dia terlalu bodoh memanjakan kemauannya. Terlalu bodoh menuruti semua yang dia inginkan. Tidak memikirkan kalau hasilnya akan seperti ini. Andai kasusnya Bambang tidak mencuat tentu ayahnya masih tetap sabar menerima kebohongan kalau dia bukanh anaknya dan ibunya juga tidak akan dicerai.
Semua gara-gara dia terlalu ambisi mendapatkan cinta dari lelaki pujaannya sejak SMP itu.
“Aku benar-benar bodoh,” kata Aisy. Tak ada yang mendengar keluhannya karena dia sedang mengendarai motornya menuju kantor.
__ADS_1
“Seandainya aku menerima cinta lelaki yang mengejar-ngejar aku sejak SMA atau kuliah, tentu tidak akan seperti ini. Seandainya aku mengikuti saran Indri agar tak mengejar Bambang, tentu tak akan ada kasus ini.”
“Sekarang semua sudah terlambat, aku harus memperbaiki diri. Aku tidak boleh seperti ibu yang tetap mengumbar hawa nafsunya sehingga aku ada di rahimnya. Seharusnya kalau ibu bisa mengekang hawa nafsu tentu dia tidak akan selingkuh.”
“Aku terlalu bodoh mengikuti nafsu, sama seperti ibu. Seharusnya aku bisa ngerem.”
Aisy terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Tapi sekarang nasi sudah menjadi bubur. Dia tak ingin membuang bubur itu, ingin dia olah lagi supaya bisa enak dimakan yang penting belum basi.
“Aku harus bangkit, aku tidak boleh terpuruk dengan kejatuhan ini. Dan aku tak ingin jatuh lagi.
“Mau ditambah Mas?” tanya Fitri.
“Aku sih pengin banget, cuma yang sekarang dilepas itu yang belakang Mas,” jelas Fitri.
“Kok kamu tahu?”
“Kemarin pemiliknya telepon aku,” jawab Fitri.
“Harganya bagaimana?”
__ADS_1
“Dia sih sebutnya sama dengan yang kita ambil ini,” jelas Fitri.
“Kalau begitu kita nego aja karena kalau tidak kita ambil dia enggak akan mungkin laku. Di belakang tak ada akses jalan. Yang beli apa harus pakai helicopter? Jadi tekan sedemikian rupa sampai dia kasih harga seminimal mungkin,” kata Yanto.
“Iya juga ya Mas. Kalau kita enggak ambil, tanah itu enggak akan mungkin terjual karena tidak ada akses jalan,” Fitri baru mengerti soal itu.
“Itulah faktanya. Kita santai aja jangan kita kejar-kejar biar dia bingung sendiri. Nanti kalau dia butuh baru kita tekan,” jelas Yanto.
“Bukan salah kita mau menekan pemilik tanah Yank. Salahnya pemilik tanah mengapa tidak ditawarkan bareng, sehingga bisa diambil sekalian? Kalau sekarang tanah tersebut adalah mati tidak bisa bergerak karena tidak ada akses jalan. Jadi tunggu sampai pemiliknya kelabakan dulu.”
“Benar Mas, bukan salah kita kok. Kita juga enggak mau curangin kan? Sekarang biarin aja mereka cari pembeli dulu sampai akhirnya mereka mentok. Baru kita minta harga serendah-rendahnya,” kata Fitri.
Fitri dan Yanto memang baru membeli bengkel yang selama ini mereka sewa selama 5 tahun. Tapi baru 2 tahun pemiliknya sudah minta dibeli saja nanti uang sewa yang 3 tahun dipotong dari harga beli tersebut.

__ADS_1