
Yanto agak sulit mencari info tentang perempuan yang naksir Herry. Memang langkahnya harus dimulai dari situ dulu agar bisa dapat siapa lelaki seniornya Herry yang naksir perempuan tersebut. Tak mungkin langsung cari lelaki seniornya kalau tidak tahu si gadis yang naksir Herry.
‘Wah hari ini aku harus nyerah, aku harus berangkat kerja dulu,’ kata Yanto. Dia pun melajukan motornya ke bengkel. Sudah ada konsumen yang janjian dengannya.
“Kamu setiap hari bawa bekal?” tanya seorang teman pada Herry. Temannya ini kagum Herry tak malu bawa bekal dari rumah. Tiap hari dia lihat Herry bawa juice dan bekal roti.
“Iya, aku selalu bawa bekal karena itu lebih sehat dan juga nggak buang waktu. Kalau aku nunggu diracikin makanan di kantin tentu buang waktu menunggu dibuatkan.” jawab Herry santai
“Apa kamu nggak mampu beli jajanan ke kantin?” Tanya teman yang lain.
“Hei, apa kamu tak salah bertanya hal itu pada Herry? Tanya teman pertama yang tadi tanya apa Herry tiap hari membawa bekal.
__ADS_1
“Memangnya kenapa?” tanya orang yang bilang Herry nggak mampu jajan di kantin.
“Herry ini sejak SMP sudah punya tambak sendiri. Dia sudah punya pegawai. Tambak bukan punya bapaknya, tapi milik dia pribadi. Apa uangnya nggak cukup kalau buat jajan satu mangkok bakso atau sepiring nasi goreng atau malah satu porsi steak?” kata teman yang lain. Tentu saja teman yang tadi mengatakan bahwa Herry tak mampu jajan langsung bengong.
“Kalau kamu mampu, mengapa kamu main sama orang yang rata-rata di bawah?” Tanya teman yang tadi.
“Apa berteman itu tolok ukurnya adalah harta?” tanya Herry.
“Aku dengar kamu kemarin baru dibelikan motor oleh orang tuamu ya?” kata temannya Herry pada orang yang tadi menanyakan kemampuan Herry jajan di kantin.
“Benar, ayahku baru membelikan aku motor terbaru cash, bukan motor second dan bukan dengan cara kredit.” Dengan pongah dia menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
“Kapan motornya datang?” kata teman yang lain.
“Besok. Aku sengaja pilih warna hitam.”
“Apa kamu bangga pakai motor baru dibelikan oleh orang tuamu?” Tanya teman yang tadi sengaja memancing si sombong ini.
“Pastilah. Aku bangga orang tuaku mampu membelikanku motor terbaru tanpa kredit.” sahut si sombong dengan nada senang.
“Kamu dibelikan orang tuamu saja bangga. Herry beli sendiri cash tanpa kredit biasa aja tuh,” jawab teman yang lain. Mereka pun langsung meninggalkan teman itu tadi. Herry sudah jalan lebih dulu karena dipanggil oleh wali kelasnya sejak tadi.
Tentu saja si anak sombong tadi kaget karena tak menyangka Herry bisa beli motor cash tanpa kredit dengan uang pribadinya bukan uang orang tuanya.
__ADS_1