BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
BELI DUREN SATU TRUCK


__ADS_3

Hari pertama masuk sekolah belum belajar, tapi buat Tria, Satrio maupun Herry tetaplah mereka akan pulang sampai akhir. Karena Herry dan Satrio pasti punya jadwal meeting sedang Tria ada perlu membahas beberapa kegiatan dengan teman-teman kelasnya.


Istirahat pertama Satrio makan bekal roti, Tria hanya minum jusnya saja begitu pun dengan Andre.


“Kalau begitu besok aku akan beli buah deh, biar ikutan patungan,” kata Andre.


“Ya beli saja satu kilo satu kali beli. Nggak usah banyak-banyak. Toh kita cuma buat bertiga. Itu bisa buat satu kali bikin. Nanti berikutnya pakai yang punya aku atau punya Satrio,” jawab Tria.


“Buahnya apa saja kan?” tanya Andre.


“Ya pokoknya buah yang biasa di jus lah. Walau cabe biasa di jus tapi bukan buat minuman segar kan? Atau pisang jarang yang bikin jus pisang walau nggak apa-apa sih cuma kayanya nggak ada orang jual jus pisang. Dan pisang itu kalau agak lama pasti dia hitam. Sama seperti apel karena dia punya zat apa ya, aku lupa. Nanti aku lihat di buku deh. antosianin atau apa kalau kena udara langsung jadi hitam gitu.” kata Tria ragu.


“Ha ha ha, kirain mau kasih tau apa nama zatnya,” Andre terbahak.


“Ya kan aku bukan kamus berjalan. Lagian di IPS enggak ada pelajaran senyawa kimia. Harusnya Kakak dong yang tahu,” jawab Tria dengan cemberut. Andre langsung terbahak saat itulah Herry lewat.


‘Wah sekarang sudah mulai membawakan jus untuk Andre,’ batin Herry dari jauh dia hanya mengamati Tria yang sedang duduk di bawah pohon di halaman. Herry akan menuju ke ruang OSIS dari kelasnya memang melewati tempat Tria dan Andre duduk.

__ADS_1


“Rasanya enak ya kalau aku beli duren?” tanya Andre.


“Wah nggak menolak kalau itu dan belinya nggak boleh sedikit. Beli yang banyak jadi selain buat jus juga buat kita makan,” jawab Tria.


“Maunya!” kata Andre sambil menarik bahu Tria masuk ke dalam pelukannya.


“Ya iyalah enak banget. Ayo Kak, nanti kapan kita ke tukang duren.”


“Aku bisa dimarahin mama sama papa kalau belanja duren,” ucap Andre.


“Mereka merasa dilangkahilah! Pasti mereka juga nggak mau sedikit. Kalian tahu saja kalau orang tuaku makan duren, apa bisa sedikit?”


“Iya juga sih ya. Kalau duren memang harus beli satu truk. Kalau untuk keluarga aku atau keluargamu.”


Itu tambah membuat Andre terbahak lagi. Dia membayangkan mereka beli satu truk duren untuk makan bersama.


“Kalau duku, rambutan, dan manggis yang sekarang lagi musim nggak bisa ya kita bikin jus?” tanya Andre lagi.

__ADS_1


“Pasti bisalah. Semua buah bisa. Cuma aneh saja kali. Dan repot saja buangin bijinya satu persatu. Sirsak saja yang super enak rasanya, buangin bijinya itu males banget kan. Lebih-lebih duku! Bagaimana coba buangin bijinya? Kalau nggak dibuangin pasti jusnya jadi pahit karena bijinya duku kan pahit.”


“Iya juga sih. Wah buah apa ya yang enak?”


“Yang segar ya itu cuma melon sama belimbing atau jambu biji. Mangga kalau lagi nggak musim ya sulit. Pear saja kayanya nggak enak deh maksud aku nggak ada rasa yang khas dari buah pear buat jus.”


“Ya sudah nanti aku coba ke supermarket. Kalau ada kweni enak banget tuh. Mangga kweni ini paling yahud kalau buat jus. Kesukaan mamaku,”  kata Andre.


“Ya sudah beli saja kweni yang banyak. Nanti aku bikinkan buat mama dan papamu juga. Terus yang disimpan di botol sesuai dengan keperluan kita saja.”


“Oke nanti aku pulang sekolah, sehabis main basket aku akan beli ke supermarket sehingga bisa bikin jus nanti malam.”


“Untung tadi aku nggak mau ditawarin naik motor sama kamu. Kalau nggak kita repot sendiri.”


“Benar banget. Jadi kita saling tunggu. Malah repot. Sudah kita biasa begini saja sendiri-sendiri,” kata Andre.


__ADS_1


__ADS_2