
Herry memimpin rapat OSIS yang sekarang diketuainya. Banyak program usulan dari para pengurus OSIS.
Satu persatu program mereka bahas kemungkinan dan juga kendalanya semua dia rinci. Nanti akan dipilih program mana yang akan mereka terapkan di sekolah.
Saat itu Yanto dan Fitri sedang mengambil raport Herry. Mereka memang membagi waktu antara sekolah Herry dan sekolahnya Timah karena waktu pengambilan raportnya bersamaan.
‘Mas sudah ambil rapotmu. Sekarang Mas ke sekolah Timah. rapotmu Mas bawa,’ begitu pesan yang Herry baca dari Yanto. Tentu Yanto tahu bahwa dia sedang memimpin rapat OSIS sehingga tidak bisa menemui dirinya atau menerima telepon.
Pesan itu dibaca Herry saat dirinya sedang istirahat rapat. Herry membuat peraturan, setiap rapat selama dia yang jadi ketua OSIS, kapan pun tak perlu diingatkan lagi, tak ada yang boleh pegang ponsel dan semua notif harus dibisukan. Itu sebabnya tadi dia tak pegang ponsel karena itu akan menjadi contoh buruk buat semua pengurus.
Sekarang dia pegang ponsel karena sedang istirahat rapat.
‘Iya Mas, aku mengerti dan mohon maaf baru baca pesan ini. Karena selama rapat aku tidak bisa pegang ponsel.’
__ADS_1
‘Terima kasih sudah diambilkan raportnya.’
Di yayasan sekolah Timah, Fitri tidak mau menemui Heru. Biar bagaimana pun ketua yayasan pasti sibuk. Dia tidak mau mentang-mentang jadi adiknya ketua yayasan lalu bisa seenaknya ingin bertemu. Fitri dan Yanto mengikuti aturan, mereka menunggu giliran sesuai jadwal absen yang mereka isi tadi.
Wali kelasnya Timah senang bertemu dengan Yanto dan Fitri, kakak yang sangat membanggakan karena punya adik yang super pandai dan rendah hati.
“Kalau Bapak dan Ibu mau Timah bisa ikut akselerasi jadi dia tidak perlu di kelas 3 nanti di kelas 2 bisa ikut ujian akhir, karena nilainya jauh di atas rata-rata yang biasa ikut akselerasi,” kata wali kelas Timah setelah memberikan raport dan menjelaskan arti nilai prestasi yang Timah raih. Timah lemah di pelajaran kesenian. Nilainya B. pelajaran lain A. dan untuk numerisasi nilainya 75.
“Nanti akan kami bicarakan dulu anaknya mau atau tidak Bu. Walau dia mampu tapi kalau dia tidak mau kami tidak bisa memaksa,” kata Yanto cepat. Dia tak ingin membebani adinya itu.
‘Memang keluarga ini lain dari yang lain. Semua didiskusikan dengan pelakunya bukan ditentukan oleh orang tua. Dominasi mereka memang bukan karena usia tapi karena cinta. Timah sering menceritakan semua keputusan diambil secara aklamasi.’
“Oh iya, tadi saya dapat pesan kalau Bapak dan Ibu datang diminta ke ruang ketua yayasan kapan pun itu,” kata ibu wali kelas.
__ADS_1
“Baik, nanti kami akan ke sana,” jawab Yanto.
Timah bukan juara kelas tapi dia juara umum untuk ranking tertinggi dari seluruh kelas 7.
Bahkan dengan yang mendapat ranking ke-2 nya, selisih angkanya sangat jauh dengan dirinya. Padahal Timah selalu membagi kepandaiannya pada siapa pun yang bertanya. Tidak seperti si ranking 2 yang selalu pelit membagi ilmu.
“Apa khabar?” tanya Heru pada Yanto dan Fitri yang baru masuk dan bersalaman dengan dirinya.
“Alhamdulillah, khabar baik Mas. Mas bagaimana?” tanya Yanto.
“Baik Mas, mbak dan anak-anak bagaimana?” ucap Fitri.
“Mereka baik dan kayanya mbakmu dan anak-anak juga nanti habis dapat raport akan ke sini. Kalau kamu mau nunggu bisa ketemu mereka. Tapi aku nggak tahu mereka langsung ke sini atau makan dulu. Biasa anak-anak minta ke ibunya makan dulu sebelum ke sekolahku karena mereka tahu di sini nggak ada jajanan yang sesuai dengan keinginan mereka,” ucap Heru. Anak-anaknya memang tidak sekolah di yayasan yang dia pimpin. Dia tak ingin anak-anaknya arogan karena merasa pemilik sekolah. Atau para guru memperlakukan mereka berbeda karena mereka anak ketua yayasan tempat mereka mencari nafkah.
__ADS_1
“Aku nggak janji mau nunggu Mas, karena Mas tahu kan aku juga punya si kecil yang pastinya nyariin aku,” kata Fitri. Fitri tak enak kepada Yanto bila harus menunggu di ruangan ini.
“Aku mengerti. Aku minta kalian ke sini karena berkaitan dengan Timah adikmu.”