
‘Dek, Mas pulang duluan ya. Barusan Mbak Fitri telepon ibu Erlina sakit. Mas mau ke rumah sakit kota,’ itu yang Tria baca saat pulang sekolah. Rupanya sejak habis jam istirahat tadi Herry sudah pulang.
Di sekolah memang dilarang membuka ponsel saat jam pelajaran. Jadi memang ponsel Tria matikan ketika jam pelajaran berlangsung. Tria baru menyalakan ponsel barusan ketika jam pulang sekolah.
“Kenapa?” kata Herry lembut.
“Rumah sakit mana dan ruang apa?” tanya Tria. Dia tidak mengirim pesan tapi langsung menghubungi Herry begitu membaca pesan tersebut.
“Di Citra Persada, paviliun anggrek kamar 206,” jelas Herry.
Tria tahu rumah sakit tersebut, rumah sakit super mewah terlebih paviliun yang diambil adalah paviliun yang biasa Gultom gunakan jadi pasti paviliun VIP.
“Aku ke situ. Mas sudah makan belum?”
“Nanti kita makan bareng saja. Nggak usah kamu bawain ya. Nanti aku akan keluar makan berdua kamu. Di sini sudah ada Mas Yanto dan ibu Gendis serta ayah juga ada Mbak Fitri. Tapi barusan Mbak Fitri diantar pulang ke rumah kota. Mas Yanto tidak ingin Mbak Fitri kecapean saat kehamilan seperti sekarang,” balas Herry. Dia tahu Tria tanya sudah makan atau belum karena ingin membawakan sesuatu.
__ADS_1
“Ya sudah aku nyusul ya,” kata Tria.
“Hati-hati ya. Mas nggak mau kamu kenapa-kenapa,” jawab Herry.
“Iya, insya Allah aku hati-hati kok.” Jawab Tria.
“Mas, aku sudah di tempat parkir. Aku ke situ dulu atau kita langsung ketemu di bawah makan dulu baru aku naik?” tanya Tria begitu dia tiba di arena parkir rumah sakit.
“Mas ke bawah dulu saja nggak apa-apa,” jawab Herry.
“Mas, aku nemuin Tria di bawah. Sekalian kami makan ya,” pamit Herry pada Yanto.
“Sebenarnya aku pengennya kamu bawa pulang ayah. Takutnya ayah juga tambah drop. Begitu pun ibu Gendis,” ucap Yanto.
“Mereka mau kita antar pulang ke rumah kota saja kan?” tanya Herry.
__ADS_1
“Itu yang aku bingung. Sepertinya sih enaknya mereka pulang ke rumah kota saja biar bareng Fitri. Tapi Fitri juga nggak bisa terlalu lama di rumah kota, anak-anak ditinggal kelamaan nggak mungkin kan? Mereka harus sekolah jadi tak bisa dibawa menginap ke kota. Tapi di satu pihak Mbak Fitri enggak mungkin mau jauh dari ibu. Enaknya bagaimana ya?”
“Biar aku full 24 jam di sini nggak apa-apa,” jelas Yanto selanjutnya.
“Ya sudah aku diskusi dulu. Mungkin nanti ada Timah dan Satrio juga. Mereka tadi bilang mau nyusul. Nanti kita diskusi bagaimana enaknya agar adik-adik aman, Mbak Fitri juga tenang. Sedang hamil seperti itu nanti bahaya kalau dia kalut.”
“Kalau ada yang dibutuhkan untuk dibeli Mas kirim pesan saja. Nanti kalau ayah bisa ditanya, tanyain ayah mau pesan apa,” Herry bersiap keluar ruangan.
“Ya.”
“Kamu di mana Yank?” tanya Herry saat dia sudah sampai lobby rumah sakit.
“Masih di parkiran Mas. Aku bingung mau ke arah mana,” jawab Tria.
“Ke lobby. Nanti dari lobby kita berdua ke arah belakang ada cafe di belakang. Juga ada minimarket. Kita bisa beli beberapa kebutuhan Mas Yanto maupun ayah,” jawab Herry. Tria langsung menuju lobby sesuai petunjuk Herry.
__ADS_1
Herry memeluk bahu Tria dan Tria menaruh tangannya di pinggang belakang Herry.
“Ibu sakit apa Mas?” tanya Tria. Dia tahu walau Erlina dan Suradi bukan ayah dan ibu kandung Herry, tapi buat Herry Timah maupun Mas Yanto mereka tetap orang tua kandungnya. Cinta Erlina dan Suradi untuk mereka bertiga itu sama dengan yang mereka berikan pada Fitri anak kandung mereka. Suradi dan Erlina tak pernah membedakan yang mana anak kandung yang mana adik dari menantunya.