
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Dua hari berlalu sejak Yanto memperlihatkan dia bisa mendengar apa permintaannya Fitria, dengan bereaksi meneteskan air mata. Sejak itu Fitri tambah rajin membisikkan sesuatu tapi Yanto belum juga bangun.
“Papa enggak mau lihat Dede’ ya? Papa enggak mau bangun?” Fitri mengucap itu dengan mengambil tangannya Yanto yang dia tempelkan langsung ke perutnya tanpa terhalang pakaian sambil terus berbisik.
“Kalau Papa enggak mau bangun juga, Dede’ cari Papa lain aja. Dede’ enggak suka punya Papa yang enggak mau sayang sama Dede’ ,” rajuk Fitri seakan bayi mereka kesal pada Yanto yang tak juga mau bangun.
Saat itu Fitri merasakan tangan Yanto di perutnya bergerak sedikit, tapi jelas bergerak karena dia mengusap perut Fitri seakan mengatakan Yanto menyayangi dede bayi.
Fitri tahu sekarang, rupanya Yanto maunya dipanggil PAPA dan dia maunya langsung bicara dengan putranya atau putrinya pokoknya calon anak mereka.
__ADS_1
“Wah Papa sayang Dede’ ya? Bangun Pa. Ayo kita lihat Dede di perut Mama. Bangun Pa. Papa sayang Dede’ kan?” Fitri terus membiarkan tangan Yanto di perutnya walau tak bergerak lagi.
Perlahan Fitri melihat pupil mata Yanto mulai bergerak tapi belum membuka hanya terlihat pupil bergerak-gerak terus.
Fitri langsung memencet bel agar perawat datang.
“Kenapa Bu?” tanya perawat yang hadir setelah mendengar Fitri memencet bel.
Perawat melihat memang grafik jantung Yanto bergerak, sangat berbeda dengan biasanya. Suster langsung menghubungi dokter melaporkan semuanya perubahan yang terjadi.
Cukup lama dokter tiba karena memang bukan hanya satu pasiennya. Tentu dokter sibuk memperhatikan dan memeriksa pasien lain.
__ADS_1
“Ya kayanya Pak Bambang mulai bereaksi Bu. Pak Bambang mulai ke arah sadar cuma belum bisa siuman. Ibu terus berupaya jangan bosan ya. Dirangsang terus agar dia bergerak. Kondisi otaknya mulai ada respon,” kata dokter.
Fitri tentu senang mendengar kemajuan Yanto. Dia berharap Yanto benar-benar bisa segera sadar dan mengetahui mereka akan memiliki anak.
“Terima kasih ya Mas mau bereaksi demi anak kita, tapi lebih bagus lagi kalau Mas sudah bisa menemani aku periksa ke dokter buat lihat perkembangan Dede. Dede kan pengin periksa diantar Mama dan Papanya,” bisik Fitri sambil menciumi pipi Yanto malam ini setelah ruangna kembali sepi.
“Anak kita mau periksa sama Papanya bukan cuma sama mamanya makanya dia kan bangunin Papanya. Bangun Mas, aku sayang banget ke Mas,” akhirnya Fitri mengucap kata itu. Fitri ingin Yanto mengetahui bahwa dirinya tetap menyayangi Yanto seperti dulu sebelum kejadian di Bogor yang sempat menghancurkan pernikahan mereka.
Sampai pagi tak ada hal baru yang terjadi, Gendis yang datang tentu senang mendengar ceritakejadian semalam. Setiap Gendis di rumah sakit dia juga sering bicara pada Yanto. Gendis sering mengaji ditelinga Yanto. Dia juga bercerita bagaimana perjuangan Fitri yang hamil seorang diri tetap merawat Yanto tanpa pernah mengeluh.
“Apa kamu enggak cinta pada Fitri dan terus membiarkan istrimu repot merawatmu padahal dia sedang hamil anak kalian? Anak yang kalian tunggu dengan susah payah. Kalau dia keguguran, apa kalian akan segera punya gantinya mengingat bibitmu lemah? Kamu harus segera bangun sebelum Fitri keguguran,” bisik Gendis kali ini. Fitri sedang salat dzuhur sehingga tak tau Gendis berbisik seperti itu.
Gendis melihat pupil mata Yanto bergerak dan air matanya terjatuh. Gendis baru lihat kejadian ini. Selama ini dia hanya tahu dari cerita Fitri melalui pesan di ponsel Herry.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU yok