
“Kebiasaan deh kak Andre,” protes Tria pada kakak sepupunya.
“Kenapa?” tanya Andre yang baru tiba di depan, tadi dia duduk di tengah membalas email yang masuk tentang pertandingan futsal groupnya.
“Sudah pesan paket nasi dengan lauk ayam geprek, kenapa pakai tambah ayam panggang itu satu ekor utuh?” Tria merinci protesnya.
“Ya kan aku biasa kurang ayamnya kalau cuma dapat yang dari paket. Tapi nasinya pasti cukup, jadi aku tambah saja ayamnya,” jawab Andre tanpa merasa bersalah.
“Kalau tambah ayam, satu saja cuma buat kak Andre,” ucap Tria.
“Ya nggaklah. Biar sama yang lain. Lagian kamu kenapa jadi protes? Aku sama Harry, Herry dan Satrio pasti habisin kok. Kalau kamu dan Timah malu atau Pujo malu-maluin. Sudah ayo kita makan,” ajak Andre.
“Pujo, ayo makan bareng. Sini kamu,” ajak Andre.
Tak ada yang malu, malah semuanya malu-maluin akhirnya satu ayam panggang itu pun buat rebutan mereka berenang habis.
Nasinya pun habis walau tadinya Timah kebanyakan. Sebelum makan nasi Tima sudah diberi sebelum dia mulai makan. Seperempat diberikan pada Satrio dan seperempatnya diberikan pada Herry.
Sedang seperempat nasi Tria diberikan pada Andre dan seperempatnya pada Harry.
Hanya Pujo yang tidak dapat tambahan nasi dari kedua perempuan tersebut.
__ADS_1
Tapi kalau ayamnya ludes, kerupuk asinan juga ludes. Itulah enaknya makan bareng-bareng.
“Mas Pujo kalau belum kenyang bikin mie saja. Mau aku bikinin?” tanya Timah.
“Enggak Mbak. Ini sudah kenyang kok. Tenang saja. Aku tadi pagi juga sudah makan nasi uduk 2 bungkus. Jadi sudah cukup kenyang. Sangat kenyang malah,” balas Pujo.
“Kirain belum kenyang. Nanti aku bikin buat Mas,” ujar Timah.
“Enggak Mbak. Matur nuwun, sudah kenyang,” jawab Pujo.
“Kayaknya aku SMP ya,” kata Timah.
“Banyak yang harus aku kerjakan. Jadi aku langsung pulang saja,” balas Timah.
“Karena aku driver ojeknya, jadi aku juga SMP,” ucap Herry.
Semua mengerti apa SMP yang Timah maksud. Sudah Makan Pulang, itu maksud SMP yang Timah ucapkan.
“Yaaah, aku nggak ada teman dong?” kata Harry.
“Kan masih ada Satrio dan Andre?” balas Herry.
__ADS_1
“Mereka kan satu darah. Nanti aku di bully mereka,” jawab Harry berseloroh.
“Ada Mas Pujo buat temanmu, tenang saja mas Harry,” balas Timah.
“Enggak ah. Aku ikut kalian saja. Kita kan satu arah. Jadi aku juga SMP,” kata Harry. Akhirnya tiga orang itu langsung pulang meninggalkan Satrio Andre dan Tria sampai sore di sana.
“Apa aku harus bergegas mengutarakan? Atau sengaja colling down dulu?” kata Herry saat dia sudah tiba di rumah dan sudah berada di kamarnya.
Dia masih belum percaya ternyata Tria menyukainya, hanya tak berani bergerak karena dia sudah pernah mengultimatum gadis itu.
Sedangkan dirinya malu untuk mengatakan bahwa dia mulai menyukai Tria, akhirnya malah cemburu tak karuan pada Andre. Herry jadi senyum-senyum sendiri mengingat bagaiman dia uring-uringan melihat keakraban Andre dan Tria sebelum dia tahu mereka bersaudara.
‘Tapi aku sudah boleh belum ya merasakan jatuh cinta?’ tanya Herry dalam hatinya.
‘Dulu katanya Mas Yanto juga mencintai Mbak Fitri sejak kelas 1 STM. Sejak dia kost di rumahnya Mbak Fitri,’ batin Herry selanjutnya, dia takut belum masanya jatuh cinta walau mas Yanto bilang dia boleh kenal lawan jenis, bahkan Timah pun sudah boleh.
‘Aku sudah kelas 11, berarti bolehlah jatuh cinta asal tidak untuk serius. Tapi ya nggak boleh mainkan perempuan juga. Adik aku perempuan, ibuku perempuan. Pasti sakit hati kalau perempuan dijadikan barang permainan,’ pikir Herry.
‘Aku akan serius. Bila sudah tidak ada kecocokan aku akan beri kepastian putus. Baru cari yang lain. Tak boleh selingkuh! Tak boleh, tak akan boleh,’ tekad Herry dalam hatinya.
Dia dulu pernah melihat bagaimana sakitnya Mbak Fitri waktu diselingkuhi oleh Mas Yanto walau sebenarnya Mas Yanto tidak selingkuh dalam hati sebenarnya. Tapi itu sangat menyakitkan buat Mbak Fitri dan buat ibu. Jadi Harry tak akan pernah mau melakukan itu pada perempuan yang dia cintai nanti. Karena pasti juga akan melukai ibunya. Ibunya pasti lebih pro terhadap pacar atau istrinya nanti. Herry takkan pernah mau menyakiti ibu yang sudah bersusah melahirkan dan membesarkan dia bagaimanapun kondisinya.
__ADS_1