BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
SUJUD SYUKUR


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Astagfirullah kita sampai lupa tentang Yanto ya Bu. Dari tadi padahal kita bisa lo nengokin Yanto. Saking kita konsentrasi sama Fitri kita sampai lupa Yanto,” sesal Suradi.



“Ayo Yah, kita lihat dulu Yanto takutnya Bu Gendis sudah bawa dia ke rumah untuk dimakamkan tanpa pamit sama kita,” cetus Erlina juga dengan penuh sesal. Mereka sampai lupa pada sosok Gendis.



“Apa mungkin Bu? Kan belum dibayar lunas. Apa Bu Gendis langsung bayarin semuanya?” Suradi ragu bila Gendis sudah membawa Yanto untuk dimakamkan. Biayanya pasti sangat besar karena dia mendaftarkan Yanto di kelas VIP tapi hanya ada kelas I.



“Iya juga ya, kan di sini Yanto pakai tanggungan pribadi bukan tanggungan PO atau tanggungan asuransi Jasa Raharja.



Suradi dan Erlina pun segera ke ruangannya Yanto. Di sana terlihat Timah yang tidur di kursi panjang di luar ruang rawat. Gendis duduk terkantuk-kantuk.



“Loh kok mereka masih di situ ya Bu? Kenapa ya?” bisik Suradi melihat besannya dari jauh. Mereka segera menghampiri Gendis.



Gendis menangis memeluk Erlina ketika besannya datang menghampiri dirinya.



“Sabar ya, kita semua pasti kehilangan,” hibur Erlina.



“Enggak Jeng, Yanto enggak jadi meninggal,” ucap Gendis terbata.



“Maksudmu?” tanya Suradi.



“Tadi Yanto memang sudah kritis dan sampai monitornya menunjukkan garis lurus. Saat semua ngurusin Fitri, disini dokter berupaya memacu detak jantung Yanto hingga Yanto ada detak jantungnya lagi. Sekarang ada detak tapi lemah.”



“Kami bertahan tidak pulang, kami ingin kepastian sampai aman baru kami pulang. Biarlah besok anak-anak bolos sekolah yang penting kami tahu keadaan Yanto,” jelas Gendis tentang kondisi putra sulungnya.



“Alhamdulillaaaaaah,” ucap Suradi mendengar fakta ternyata Yanto bisa kembali ada detak jantung walau lemah.



“Di mana Herry?” tanya Erlina.



“Herry di dalam, dia menunggu kakaknya sambil duduk.”



“Anak itu berupaya mengambil tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Bebannya terlalu berat,” kata Suradi.



“Ya dia berupaya memegang tongkat estafet yang akan Yanto berikan,” jawab Gendis.



“Tak akan ada pergantian tongkat estafet dari Yanto. Kalau pun ada apa-apa dengan Yanto, semua aku yang tanggung,” Suradi berkata tegas Herry tak boleh mengambil alih tanggaung jawab. Herry masih terlalu kecil. Dulu Yanto sejak kelas 2 STM sudah jadi kepala keluarga. Herry tak boleh merasakan hal itu terlebih sekarang masih SMP.

__ADS_1



“Cukup bantuan Bapak selama ini. Cukup. Biarkan aja kami, enggak apa-apa kekurangan, sudah terbiasa buat kami,” tolak Gendis. Dia sudah sangat tertolong selama ini.



“Tidak  biar bagaimana pun Yanto adalah ayah dari cucuku,” kata Suradi.



“Maksudnya apa?” tanya Gendis, sekarang malah Gendis yang lupa menanyakan tentang Fitri karena fokus pada Yanto.



“Fitri hamil dan besok pagi baru akan dicek berapa umur kehamilannya,” jelas Er;ina sambil menggenggam telapak tangan besannya.



“Alhamdulillah,” jawab Gendis, perempuan tua itu langsung melakukan sujud syukur. Dia tak percaya akan punya cucu kandung dari Fitri dan Yanto.



Erlina dan Suradi baru ingat mereka malah belum mengucap syukur sama sekali.



“Kalian pulang saja, biar ayah yang jaga Fitri dan Yanto. Besok pagi kalian baru ke sini,” Suradi menyuruh Erlina membawa Gendis, Timah dan Herry pulang lebih dulu.



Suradi juga akan mencoba minta Yanto dan Fitri dijatuhkan satu ruangan saja sehingga dia lebih mudah mengawasinya



Tanpa membantah Erlina membawa Gendis, Timah, dan Herry pulang.



Erlina memerintah pada pembantu rumah tangganya untuk menyiapkan kamar bagi besan dan anak-anaknya, Erlina juga meminta pada pembantunya besok pagi-pagi  segera belanja baju untuk para tamunya itu.




“Aku di mana?” tanya Fitri ketika terbangun. Suradi sedang salat subuh di dekat ranjang rawat Fitri. Fitri melihat tangannya diinfus.



“Kamu sudah sadar?” tanya Suradi begitu selesai salat, dia langsung menghampiri putrinya.



“Memang aku kenapa Yah?” Fitri.



“Kamu pingsan begitu tahu grafik jantungnya Yanto lurus,” jelas Suradi.



“Terus aku enggak ditungguin pemakaman? Atau baru mau dimakamkan? Aku harus datang ke pemakamannya,” tangis Fitri langsung pecah mengingat sekarang sosok lelaki yang sangat dia cintai sudah tak ada lagi.



“Yanto selamat, hanya kondisinya sangat lemah. Kemarin masih bisa dipacu jantungnya. Kamu harus sehat, kamu harus kuat,” Suradi mengecup kening putrinya.



“Alhamdulillah kalau Mas Yanto masih bisa bertahan,” Fitri sangat lega. Dia tak percaya akan keajaiban ini.



“Bu Fitri ini sarapannya kata seorang pegawai bagian dapur. Jam 5 pagi sarapan untuk pasien memang sudah diantarkan.


__ADS_1


“Masih terlalu pagi Bu,” jawab Fitri sambil tersenyum.



“Iya, kami memang seperti ini. sebelum subuh kami sudah mengedarkan makanan buat semua pasien. Kebetulan aja ruang ibu jatahnya jam 05.00 padahal yang lain jam 04.00 juga sudah diantar kok Bu,” kata petugas dapur tersebut.



“Sudah kamu makan dulu,” perintah Suradi.



“Iya Yah, aku laper. Tapi kayanya aku enggak kepingin itu. Aku kepingin lontong sayur, tapi pakai ayam goreng,” rajuk Fitri.



“Kamu makan dulu ini, nanti ibu datang membawakan lontong sayur dan ayam gorengnya,” bujuk Suradi.



“Tapi aku juga pengin pepes patin Yah,” pinta Fitri.



“Ya nanti dibikinkan mertuamu,” kata Suradi. Tanpa buang waktu Suradi langsung menghubungi Erlina meminta dibawakan apa yang Fitri minta.



\*‘Pantas kemarin dia makan dalam porsi yang banyak, ternyata karena dia sedang hamil.’ \* pikir Suradi. Dia ingat ketika makan sate kemarin Fitri makan dengan porsi yang di luar kebiasaannya.



Pagi ini Fitri makan menu dari rumah sakit ditambah roti. Suradi sengaja belum memberitahu kondisi Fitri. Biar saja nanti suster yang akan membawa dia ke dokter obgyn baru di sana akan diberitahu agar ada kejutan.



“Ayah sarapan dulu ya, kamu mau titip apa?” tanya Suradi.



“Gorengan bolehlah Yah, sama aku juga ingin su5u coklat panas,” pinta Fitri.



“Nanti ayah belikan,” Suradi  langsung keluar mencari sarapan.



Selain yaang dipesan Fitri, Suradi juga beli aneka kue basah.



“Wah asyik banyak kue,” Kata Fitri. Dia pun langsung mulai mengunyah. Fitri juga minum susunya dengan tanpa malu, padahal baru sarapan.



‘*Alhamdulillah dia hamil malah tidak rewel makannya, tidak rewel muntah-muntah. Semoga aja dia sehat terus*,’ Suradi membatin sambil mengingat repotnya Erlina ketika hamil Fitri.



“Sebentar lagi kamu akan dibawa suster untuk diperiksakan ke dokter ya. Menindak lanjuti hasil pemeriksaan darahmu,” jelas Suradi.



“Kenapa diperiksa darah Yah?” tanya Fitri.



“Kemarin pemeriksaan lengkap kok, karena kamu sangat lemah, jadi langsung periksa darah agar terdeteksi semua.” jawab Suradi.



“Oh gitu,” Fitri pun mengerti, dia tak masalah asal buat kesehatan.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok

__ADS_1



__ADS_2