BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TERTABRAK


__ADS_3

“Yah, Bu, titip Daffa dan Daanish,” ya ucap Fitri yang hari ini harus berangkat ke rumah sakit kota. Tidak seperti kalau sakit hari-hari dia harus hanya kontrol ke Puskesmas. Tapi ini berkaitan dengan kecelakaannya dia harus kontrol di rumah sakit saat dirawat dulu agar berkesinambungan.


“Iya tenang aja, pasti ibu jagain,” jawab Erlina.


“Dan nanti yang jemput sekolah Daffa adalah ayahmu juga,” jawab Erlina lagi.


“Iya Bu, matur nuwun,” jawab Fitri, karena dia tahu Erlina dan Gendis pasti akan di rumah bersama-sama menjaga Daanish.


Setelah pamit pada Erlina dan Gendis yang masih ada berada di rumah, Yanto dan Fitri pun pamit. Mereka tentu menggunakan mobil karena Yanto tak mau membawa Fitri boncengan jarak jauh.


“Kamu duduk situ aja ya Yank, biar Papa yang urus surat-surat pendaftaranmu. Nanti baru kita ke belakang ke poli  klinik ortopedi


Poliklinik ortopedi adalah spesialisasi di bidang muskuloskeletal ( otot ), sendi, dan tulang. Di sini akan memberikan pelayanan seperti diagnosa, pengobatan serta terapi kondisi yang dialami oleh otot, tendon, ligamen, tulang, persendian, tulang rawan, serta saraf pasien.


Adapun beberapa penyakit yang biasa ditangani oleh dokter ortopedi diantaranya adalah seperti cidera, nyeri sendi, artritis, sakit punggung, osteoporosis, radang sendi, tulang retak, kanker tulang, keseleo, sakit leher, dan lainnya.

__ADS_1


“Iya,” jawab Fitri. Dia pun patuh pada suaminya. Duduk tak jauh dari bagian pendaftaran pasien lama.


‘Itu bukannya Bambang ya,’ batin kata Aisy dalam hatinya. Tentu dia tak berani mendekati takut nanti salah lagi bisa berakibat fatal saat ini dia sedang bersama Menik yang diantar untuk berobat karena sering migrain.


‘Tapi kalau sengaja nggak ketemu kan nggak apa-apa. Aku kan enggak janjian sama Bambang,’ Aisy memberi pembenaran diri sendiri.


Aisy menunggu saat yang tepat.


“Eh maaf,” kata Aisyah yang biasa dipanggil Aisy ketika menabrak seseorang.


“Maaf ya Pak,” kata perempuan tersebut sambil mengangkat wajahnya.


“Eh kamu Mbang,” ta Aisy seakan-akan memang mereka tak sengaja bertemu. Dia memasang senyum. Keduanya masih dalam posisi berjongkok mengambil berkas.


“Sudah Mbak sandiwaranya?” kata seorang perempuan yang berdiri tak jauh dari situ dengan suara tegas dan keras membuat banyak yang menengok pada dirinya. Orang yang menengok pada perempuan dengan tangan di gips pun memperhatikan arah pandang itu.

__ADS_1


“Mbaknya sengaja banget kan ngepasin suami saya balik badan, lalu nubruk dia dari belakang. Saya lihat semuanya kok Mbak. Mbak sudah dari tadi mau maju ke bagian pendaftaran tapi sengaja menunggu agar suami saya selesai ‘kan? Masih belum kapok Mbak saya laporin ke pengacara saya?” suara Fitri sangat keras membuat banyak yang menengok dirinya dan juga Aisy.


“Hobi banget ya Mbak mau jadi pelakor,” kata Fitri. Bambang tak menggubris. Dia hanya mengurus berkas yang tadi dia jatuhkan.


“Suami saya aja nggak peduli sama Mbak. Mbaknya ngotot ngejar terus ya Mbak,” kata Fitri semakin keras semakin. Banyak orang yang memberi perhatian pada Fitri. Aisy hanya menunduk saja, ternyata sejak tadi dia tak melihat ada Fitri di kursi tunggu.


“Ayo Yank kita ke poli. Biar nanti pengacara aja ngurusin lagi. Belum kapok dia kita laporin,” orang-orang mendengar suara Yanto seperti itu tentu tambah yakin Aisy bukan perempuan baik-baik.


“Oh ternyata dia pelakor ya, udah dilaporin nggak kapok,” kata banyak orang. Dan banyak juga pendapat lain yang tentunya mencibir pada Aisy. Menik yang duduk di tempat tunggu jadi malu sendiri karena Aisy bertindak kelewatan.


Padahal beberapa lalu Aisy sudah bertekad ingin berubah. Ternyata pesona Bambang sangat kuat. Begitu melihat peluang dia kembali ingin mengejar Bambang.


“Pelakor mah sudah di aduin ke polisi masih terus aja ngejar, karena dia kan cari makannya dari situ,” kata orang-orang.


“Kalau nggak cari suami orang dia mana bisa makan,” kata yang lain dan banyak terus pendapat terhadap kelakuan Aisy.

__ADS_1


Akhirnya Menik memutuskan mereka tidak jadi berobat karena terlanjur malu. Biarlah kepalanya sakit daripada harus terus mendengar cibiran orang.


__ADS_2