
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Alhamdulillah, hari ini Bambang lulus STM. Dia segera melamar menjadi montir di perusahaan automotif atau PO Bus Antar Kota dan dia langsung diterima karena sudah kenal beberapa orang dan memang sering membantu para montir di sana.
"Kamu mulai kerja minggu depan ya tanggal 1 persis, sehingga perhitungan gajinya gampang," ucap HRD yang menerima surat lamaran resmi Bambang.
"Ya Pak. Baik terima kasih," jawab Bambang dengan bahagia.
"Jam kerja kamu jam 09.00 sampai jam 03.00 sore ya. Diluar itu dihitung lembur."
Yanto memang membawa ibunya ke kantor PO karena sekalian ngambil ijazah barusan dan menyerahkan lamaran nya secara formalitas.
Sebetulnya dia memang sudah diterima jadi montir di PO itu.
"Alhamdulillah," kata Ibunya.
"Kita mampir dulu yuk ke rumah kost biar berkenalan dengan pemiliknya ya Bu. Nanti baru aku antar pulang sampai di rumah."
"Aku juga akan nginep di rumah."
"*Yo ra popo*," kata ibunya lalu mereka pun menuju ke rumah Bu Erlina.
\*\*\*
"Ini Ibu saya Bu," kata Yanto memperkenalkan ibunya pada Bu Elina.
"Kok tumben ke sini?" tanya Erlina sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan.
"Tadi pagi kan ngambil ijazah. Saya sudah menerima kelulusan saya." Jelas Bambang.
"Kamu sudah lulus?"
"Sudah Bu hari ini. Terus juga barusan sudah diterima jadi montir di PO. Saya kerja jam 09.00 sampai jam 03.00 tiap hari nanti mulai tanggal 1 Bu." Bambang memberitahu bu Erlina berita kelulusannya.
"Wah hebat kamu." Erlina senang atas keberhasilan Bambang.
"Alhamdulillah Bu. Saya juga mau \*matur \*bawa saya sudah terima ijazah sehingga saya berhenti jadi sopirnya Mbak Fitri."
"Nanti Ibu sampaikan ke Bapak."
"Sekalian saya mau *matur* siang ini saya mau pulang antar ibu ke desa. Mungkin saya di sana dua hari Bu." izin Bambang pada bu Erlina. Walau dia bayar kost, tapi ya tetap harus izin sebagai sopan santun.
__ADS_1
"Ya."
Bambang pun pulang mengantar ibunya ke desanya.
\*\*\*
"Bisa pulang ke kota enggak?"
"Kenapa?"
"Bapak masuk rumah sakit."
"Sakit apa? Bagaimana kondisinya?" Bambang kaget mendengar khabar pak Suradi berada di rumah sakit.
"Entah, mungkin jantung. Dia belum sadar dari pingsannya."
"Baik, saya akan berusaha secepatnya Bu," jawab Bambang. Dia baru satu hari di desa. Sekarang dikabari Pak Suradi masuk rumah sakit. Yang menghubungi memang bu Erlina pemilik kost tempat dia tinggal.
"Bu, *Nuwwun sewu*, saya langsung pulang ke kota ya." Pamit Bambang pada Gendis ibunya sambil berkemas.
"Kenapa Nang?"
"Bapak Suradi masuk rumah sakit. Saya dipanggil ibu. Itu beliau telepon saya." jelas Yanto.
"Ya Ibu nanti saya sampaikan," Bambang melanjutkan bersiap untuk kembali ke kamar kostnya.
\*\*"
Dari rumah Bambang langsung ke rumah sakit dia tidak kembali ke rumah kost dulu.
"Lho kamu langsung ke sini Bang?" Tanya bu Erlina.
"*Injih* Bu," jawab Bambang.
"Maaf ya Ibu ganggu waktu liburmu," Erlina sebenarnya tak enak, tapi pegawai lelaki di rumahnya sudah berkeluarga semua dengan usia diatas 40 tahun, agak repot minta bantuan mereka walau dibayar lembur sekali pun.
"Enggak apa-apa Bu."
"Soalnya malam kan yang tunggu harus laki-laki, Ibu bingung nek gitu."
"Iya Bu enggak apa-apa, kalau malam biar saya yang jaga nanti pagi ibu datang ke sini saya pulang," kata Bambang.
"Makasih ya mBang."
__ADS_1
"Bagaimana kondisi Bapak sekarang?"
"Bagus sih udah sadar dua jam lalu. Sudah diberi tambahan obat dalam infusnya."
"Memang awalnya gimana kok bisa dibawa ke rumah sakit?"
"Bapak pingsan di ruang rapat, langsung dibawa ke rumah sakit. Ibu dikabari dari rumah sakit."
"Semoga ke depannya akan terus membaik."
"Aamiiiiiin. Itu kamu makan dulu."
"*Sampun* Bu. Saya sudah makan." Tampik Bambang. Dia merasa tak enak makan sendirian walau dia lapar karena dari desa tadi baru bedug Maghrib. Dia belum makan.
"Gimana sudah makan wong kamu dari desa sore koq. Sudah makan. Itu memang mbak Fitri belikan untukmu." rupanya bu Erlina juga tahu kalau Bambang belum makan malam.
"Sekarang Mbak Fitrinya ke mana Bu?"
"Dia beli semua kebutuhan, tissue, air putih buat penunggu, juga kopi sachet karena ada dispenser. Dia juga beli snack mungkin. Entah lah."
"Sebentar lagi dia kembali, kayaknya sudah cukup lama dia keluar," bu Erlina memberitahu kalau Fitri cukup lama keluar.
"Sehabis ini Ibu sama Mbak Fitri pulang aja biar saya yang jaga." Bambangmenyanggupi jaga malam. Tanpa dibayar pun kalau soal berbuat baik begini dia ringan tangan.
Bambang pun makan nasi padang yang disiapkan Fitri untuknya.
\*\*\*
"Ini aku siapkan kopi buat pagi atau kalau malam ingin begadang. Rotinya di maem. Aku juga belikan aneka snack," ujar Fitri begitu kembali dari minimarket membeli aneka keperluan buat yang jaga ayahnya di rumah sakit..
"Ini sandal jepit kalau ingin ke kamar mandi. Kami belum bawa bantal atau selimut buatmu karena tadi asal kabur aja saat mendengar bapak dibawa ke rumah sakit." Fitri menunjuk semua yang dia siapkan.
Fitri juga membelikan dua buah buku TTS ( teka teki silang ) dan menyediakan pulpen.
“*Injih* mbak,” jawab Bambang.
Sepeninggal bu Erlina dan Fitri, Bambang bersiap untuk tidur. Toh Pak Suradi juga tidur jadi dia hanya menemani. Bambang tidur di sofa yang tersedia.
"Jangan lupa infusnya mBang, kalau habis langsung lapor suster," demikian tadi bu Erlina berpesan sebelum keluar kamar.
"Saya akan perhatikan itu Bu," kata Bambang.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI yok
__ADS_1