
“Mohon maaf atas semua itu Pa. Mama akan merubah semuanya. Mama akan belajar mendengar apa yang orang katakan. Mama tahu itu tidak bisa mendadak karena habit. Itu sudah terlalu dalam. Mama terbiasa tak mau mendengar penjelasan apa pun dari siapa pun. Mulai sekarang Mama akan belajar. Maafin Mama ya Pa,” kata Fitri.
Yanto pun memeluk Fitri erat dengan penuh cinta. “Papa juga minta maaf ya, Ma. Atas kesalahan Papa selama ini.”
“Bahkan Mama berpikir buruk Pa, bahwa selama ini Papa menghindar dari Mama tak mau menyentuh Mama karena Papa sudah dapat kompensasi dari Tini.”
“Seperti yang tadi Papa bilang. Di tempat umum saja Papa dekat dengan dia seperti itu. Lebih-lebih di tempat khusus. Pikiran Mama benar-benar kacau apa saat Papa selalu menghindar tiap malam. Padahal biasanya Papa enggak pernah mau absen.”
“Sebenarnya itu sangat menyiksa Papa, kamu tahu sejak pertama kita melakukannya, Papa enggak bisa berhenti dan tak pernah dengan orang lain selain kamu. Dengan Yani pun sama sekali tak pernah menyentuh. Jadi waktu libur kemarin Papa sangat menderita.” Yanto mengakui semuanya sejujurnya. Dia lalu memeluk istrinya.
“Ya sudah sekarang tidur ya. Papa mau salat dulu,” ucap Yanto.
“Aku ikut,” kata Fitri.
“Bagaimana kamu mau ikut salat? Kamu kan lagi libur.”
“Eh iya lupa,” kata Fitri.
“Kalau enggak libur, malam ini Papa langsung ajak perang,” jawab Yanto sambil tersenyum usil.
__ADS_1
“Modus!” kata Fitri.
Yanto pun tertawa, dia bahagia persoalan dengan istrinya untuk masalah Tini dapat clear dengan manis. Tak perlu ada ketegangan lagi.
Yanto sadar Fitri sangat terluka sampai terbawa mimpi seperti itu. Pasti mimpinya menakutkan padahal buat Yanto, hanya Fitri yang dia cintai sampai kapan pun. Tak pernah ada orang lain.
Sehabis salat malam Yanto kembali tidur. Padahal biasanya dia akan wirid sampai selesai salat subuh. Lalu lanjut mengurus anak-anak. Tapi kali ini tidak, karena tadi juga salat tengah malamnya terlalu cepat. Jadi masih ada sedikit waktu untuk dia tidur.
Selain itu yang utama adalah dia ingin memeluk Fitri perempuan yang sangat dia cintai yang sudah hampir 3 minggu tak pernah dia peluk.
Fitri pun menyurukkan kepalanya ke dalam dekapan erat Yanto. Dia sangat merindukan dekap hangat suaminya.
Pagi seperti biasa, Yanto langsung mengurusi kedua putranya sedang Fitri langsung ke dapur. Karena kemarin banyak makanan dari rumah kota, maka pagi ini Fitri hanya menghangatkan saja.
“Kok kamu duluan Nduk?” tanya Gendis.
“Aku enggak salat Bu, jadi ya duluan.” jawab Fitri.
“Pantas, Ibu enggak lihat kamu di ruang salat,” ucap Gendis.
__ADS_1
“Dari di rumah sakit kemarin Bu, sekalian pakai diapers ya udah aku tenang aja.”
“Kamu bikin sarapan apa?” tanya Gendis.
“Aku cuma goreng kentang aja kok Bu. Tapi enggak dibikin seperti french fries. Jadi masih gendut-gendut kentangnya.”
“Terus aku panasin semur daging aja yang dari rumah kota. Biar pada ma’em itu aja. Kalau mau ma’em pakai nasi ya nasi, kalau mau ma;em kentang gendut ya silakan pakai kentang gendut itu. Terus adik-adik bawa jus sama roti bikin sendiri,” jawab Fitri.
Walaupun Gendis juga tidak repot, tetap tidak akan membuatkan bekal untuk putra-putrinya. Karena dilarang oleh Yanto. Mereka diharuskan membuat sendiri agar tidak biasa kolokan.
“Anak-anak sarapan apa?” tanya Gendis mengenai menu cucu-cucunya. Dia sedang membuat su5u untuk dirinya sendiri. Su5u khusus untuk orang lanjut usia.
“Mereka sarapan kentang sama semur Bu. Semurnya empuk kok. Daanish nanti aku suwir-suwir kecil,” kata Fitri.
“Aku tadi memang goreng kentang buat mereka,” Fitri pun lalu memotong-motong daging semur dalam size kecil tapi juga langsung dia suwir sehingga lebih halus lagi, agar Daanish tidak terlalu repot.
Kalau Daffa sudah lumayan, bisa tanpa disuwir asal potongan dagingnya kecil-kecil.
Kedua putranya pagi ini tidak makan nasi ,tapi mereka makan kentang goreng. Sejak kecil memang Fitri tidak mengharuskan mereka makan nasi. Kalau sudah makan kentang atau makan mie atau apa pun yang bentuknya karbohidrat ya sudah cukup. Tidak mengharuskan makan makan nasi.
__ADS_1
Fitri menyiapkan jus, nasi serta semur. Juga dia masukkan salad untuk Yanto bawa hari ini. Yanto akan mulai bekerja, tentu sehabis dia mengantar sekolah Daffa.
Mulai hari ini untuk sementara Daffa akan pulang bersama eyang Suradi. Kemarin mereka sudah bahas hal ini. Fitri walaupun hanya luka tangannya tapi tidak boleh menjaga Daffa di sekolah. Takutnya Daffa butuh bantuan lalu dia harus menggerakkan tangan kirinya. Jadi diputuskan Fitri tetap di rumah. Yang menjemput adalah eyang Suradi. Nanti eyang akan naik sepeda. Suradi punya sepeda listrik. Jadi kalau butuh cepat ya pakai mesin yang dari listrik, tapi kalau tidak ya di kayuh saja agar sehat.