BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
NOMOR PRIBADI BUAT ORANG SPECIAL


__ADS_3

“Sudah? Bisa terhubung?” tanya Yanto.


“Nomor Mas bukan diblokir, memang nomornya Mbak Fitri enggak aktif. Aku hubungi juga enggak bisa,” jawab Timah yang baru saja mencoba menghubungi fitri karena Yanto merasa nomornya di blokir sehingga tak bisa menghubungi istrinya.


“Tadi rencananya mbak Fitri mau ke mana Mas? Kita cari di sana aja,” usul Timah.


“Tadi dia sih mau belanja bulanan. Makanya ikut kita, terus juga mau beli apa lagi begitu selain belanja bulanan,” jawab Yanto yang makin kalut. Sampai saat ini belum ada khabar dari rumah kalau Fitri sudah ada di rumah. Bahkan di rumah desa saja bu Yati bilang Fitri tak ada.


“Kita cari saja di tempat Mbak biasa belanja bulanan. Kali aja ada,” kata Timah. Dia jadi merasa bersalah karena persoalan ini dimulai dari dirinya yang bertemu teman-temannya.


Di mall tempat Fitri biasa belanja tidak ada. Timah dan Yanto tidak menemukan Fitri. Mereka sengaja berpencar untuk mencari Fitri.


“Ya sudah kita pulang saja dulu yuk. Mungkin sudah di rumah,” ajak Yanto. Yanto tak berani telepon Bu Gendis lagi. Takutnya tambah dimarahi.


“Tapi kalau Mbak Fitri enggak ada di rumah, apa kita enggak dimarahin sama ayah, bu Erlina dan ibu Gendis?” tanya Timah ragu untuk pulang sebelum bertemu Fitri.


“Mau enggak mau kita terima kalau memang kondisinya seperti itu.”

__ADS_1


“Ya sudahlah,” ucap Timah pasrah. Mereka bahkan tak minta makan siang sama sekali.


“Yang  yang penting kita tidak bohong, kita bicara apa adanya tidak perlu ada yang ditutupi dengan kebohongan lainnya.” Kata Yanto menasihati Timah.


“Kami teman SD dan SMP Pak. Tak ada niatan lain. Saya cuma ngobrol sambil ingat kisah-kisah lucu kami ketika sekolah dulu,” Tini membela diri saat di beri teguran oleh Heru karena membuat Fitri marah.


“Apa tugasmu seperti itu? Kamu enggak ada urusan kan dengan pengisian formulir siswa baru. Kenapa kamu dekati seorang tamu seperti itu hanya karena dia teman masa kecilmu?”


“Maaf Pak saya salah,” ucap Tini.


“Kamu memang sangat salah lebih-lebih membuat sahabat saya sampai murka seperti itu. Sikap kamu memegang erat lengannya saat tertawa terbahak-bahak tadi tak pantas dilihat orang tua lain, terlebih pasangan tamu kita. Kalau terjadi apa-apa dengan rumah tangga sahabat saya, kamu saya pecat tanpa SP sama sekali,” kata Heru geram.


Dua kali tak diangkat karena Yanto sedang memarkir mobilnya di halaman rumah pak Suradi.


Di teras depan saat turun dia sudah ditunggu oleh Ibu Gendis. Tentu saja Yanto tidak jadi mengangkat telepon Tini karena akan jadi masalah baru.


“Bagaimana? Belum ketemu?”  tanya Gendis cemas. Erlina dan Suradi juga langsung keluar begitu mendengar mobil Yanto masuk ke pekarangan rumah.

__ADS_1


“Belum Bu. Kami sudah mencari di mall tetap enggak ada,” kata Timah


Saat itu teleponnya Yanto kembali berdering.


“Mungkin itu, telepon dari Fitri minta jemput,” kata ibu Gendis.


“Bukan Bu. Ini temanku yang tadi di tata usaha,” jawab Yanto melihat siapa yang menghubunginya. Karen nada dering untuk nomor Fitri berbeda dengan panggilan lainnya.


“Bahkan kamu memberikan nomor pribadimu pada dia?” kata Gendis sedikit keras dan langsung berbalik badan. Gendis sangat marah kepada Yanto karena selama ini Yanto tak pernah membagikan nomor pribadinya pada temannya.


“Astagfirullah, aku lupa kenapa aku kasih nomor ini?” kata Yanto penuh penyesalan.


Yanto benar-benar terpuruk, istrinya belum dia temukan dia malah salah memberikan nomor ponsel pada Tini.


Suradi hanya melihat Yanto dengan tatapan menusuk.


“Kalau bukan orang spesial pasti enggak dikasih nomor pribadi kan?” kata Suradi. Dia pun ikut masuk ke ruang tengah.

__ADS_1


Lengkap sudah penderitaan Yanto hari ini. Ayah mertua dan ibu kandungnya sama-sama menegur karena dia memberikan nomor pribadinya pada teman perempuan.



__ADS_2