
“Kayaknya mas pernah ke bengkel ini deh waktu motor adik dijual dan tukar tambah dengan motor baru di sana,” kata Heru memperhatikan nama bengkel dan alamatnya.
“Waktu itu Mas ketemu dengan siapa?”
“Dengan Pak Bambang kalau enggak salah.”
“Itu suami aku.” jawab Fitri.
“Ya ampun. Iya Mas inget sama dengan yang kemarin ketemu di tata usaha. Iya Mas benar-benar baru ingat,” kata Heru.
“Kalau begitu Mas pamit ya. Mas cuma ingin tahu kejelasan kamu dan juga nomor teleponmu. Saat reuni itu Mas lupa karena saat itu Mas hanya datang sesaat. Si sulung ketika itu habis terjatuh, jadi Mas lari pulang.”
“Sekarang umur berapa putramu Mas?” tanya Fitri.
“Sudah 6 tahun, dia sudah kelas 3 SD,” jawab Heru.
“Mungkin kalau aku langsung dapat anak. Anakku juga sudah seumur itu. Aku kosong 4 tahun, jadi sekarang anak sulungku baru berusia 3 tahun.”
__ADS_1
“Salam ya buat suamimu,” pesan Heru.
“Oh iya Mas. Aku boleh kasih tahu kamu sesuatu?” tanya Fitri.
“Apa?”
“Aku tadi lupa waktu di sekolah, suamiku kasih nomor pribadinya ke Tini itu juga poin yang buat aku bikin jadi beku. Kami enggak pernah kasih nomor pribadi ke siapa pun selain keluarga.
“Sehabis itu Tini itu selalu menelpon suamiku sampai akhirnya diblokir oleh suamiku. Dan Mas tahu sehabis nomor utamanya diblokir, dia ganti 4 kali nomor untuk selalu menghubungi suamiku. Dan selalu di blokir lagi.”
“Astagfirullah, dia mengganggu suamimu dengan 5 nomor telepon?”
“Benar Mas. Dan entah kenapa suamiku kasih nomor pribadinya.” sesal Fitri.
“Itu sudah kelewatan. Apa pun alasannya kalau sudah diblokir harusnya dia tahu bahwa dia tak diterima oleh suamimu. Tapi dia terus menghubungimu dengan 4 nomor baru. Kalau dia ingin membicarakan sesuatu harusnya dia bilang dulu melalui pesan agar tak ada salah paham, baru dia telepon lagi.” kata Heru. Keputusannya sudah bulat Tini langsung dipecat tanpa SP.
“Satu lagi Mas, Tini itu satu SMP dengan suamiku. Artinya dia tahu kasus Aisy yang mengejar-ngejar suamiku lalu langsung aku perkarakan aku perkarakan. Bukan karena dia mengejar cinta suamiku, tapi dia menuduh aku menyebar gosip yang tidak tidak.”
__ADS_1
“Tini tahu masalah itu. Jadi kalau dia sekarang menyebarkan berita bohong tentang suami aku atau tentang aku. Aku akan minta pengacaraku untuk melaporkan dia. Aku tidak peduli dia mau pacaran dengan suamiku atau bagaimana. Bukan itu, aku hanya melaporkan bila dia bercerita apa pun tentang hal yang tidak benar soal aku atau suamiku. Begitu aja mungkin Mas. Bisa minta katakan hal itu pada Tini?”
“Dan katakan juga jangan pernah minta ketemu sama aku, kalau tidak mau aku bikin dia jadi rujak bebeg. Aku tak pernah ingin bertemu dia sampai kapan pun.”
Heru tahu betapa sakit hatinya Fitri pada Tini ketika mengetahui bagaimana karakter asli suaminya.
“Akan Mas beritahu Tini. Sekarang Mas pamit ya,” kata Heru sambil berdiri. Fitri pun berdiri dan memberi salam.
Heru langsung menuju kantor Yayasan. Dia memanggil sekretarisnya juga kepala HRD.
“Buatkan SK pemecatan secara tak hormat untuk karyawan TU bernama Tini saat ini juga. Dan berikan pada saya besok pagi. Suruh dia menghadap saya jam 09.00 pagi besok,” ucap Heru.
Sekretaris dan kepala HRD tentu kaget tapi tak berani membantah. Sejak yayasan di pegsng Heru memang kebijakan banyak berubah. Dulu yayasan dipegang oleh ibunya pak Heru sebagai anak tunggal pendiri yayasan.
Ditangan Heru nama yayasan semakin bersinar.
__ADS_1