BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
SUDAH DITUNGGU KAK ANDRE


__ADS_3

Herry pun berjalan dari kelasnya menuju ruang OSIS di ujung gedung ini. Dan sekali lagi dia melihat Andre sedang makan bersama dengan Tria dari jauh Herry bisa melihat bahwa mereka makan dengan menu yang sama.


‘Wow.’ kata Herry dalam hatinya.


‘Aku tak bisa marah, apalagi aku mengatakan aku cemburu, karena dulu aku yang bilang dia tak boleh cemburu kalau aku makan dengan siapa pun atau pergi dengan siapa pun.’


“Hai Her, sini makan bareng,” sapa Tria sambil melambaikan tangannya mengajak Herry untuk duduk bersama dirinya dan Andre.


“Maaf aku ada perlu di ruang OSIS. Kalian makan siang saja. Sorry ya bukan nggak mau gabung dengan kalian, aku ditunggu teman-teman,” tolak Herry. Tentu dia tak mau mengganggu pasangan tersebut dan yang pasti dia cemburu melihat kedekatan Andre dan Tria.


“Oh ya sudah kalau memang seperti itu. Nanti aku dan Timah mau ke kandang, kamu mau ke sana sepulang sekolah?” tanya Tria.


“Aku belum tahu bisa atau tidak. Tergantung bagaimana dengan rekan-rekan OSIS, ada janjian atau tidak,” kata Herry sambil melambai dia langsung berlalu dari situ. Tentu saja hatinya pedih.


“Hello, sorry terlambat. Tadi ada rekan yang nanya sesuatu jadi nggak bisa cepat ke sini. Ada yang perlu ditanya nggak?” Herry langsung meminta maasf sambil mulai duduk dan mengeluarkan bekalnya.


“Sorry lagi nih, di sambi makan ya,” kata Herry. Tanpa malu dia pun mulai membuka bekalnya.


Beberapa teman juga ada yang sedang makan. Ada yang makan siomay atau bakso yang memang minta diantar ke ruang OSIS.

__ADS_1


Atau juga ada beberapa teman yang beli lalu mereka bawa ke ruang OSIS jadi bukan di antar oleh penjualnya.


“Santai saja lah, semua juga makan kok,” kata seorang teman.


“Iya. Lalu ada yang perlu dibahas nggak? Atau ada usulan lain?”


“Nggak sih. Kami sedang merangkum masing-masing bagian kami dulu. Nanti kalau ada kesulitan akan kami tanyakan,” kata teman yang lain.


“Wah asyiiik nih,” ada beberapa teman yang bukan pengurus OSIS masuk dan ikut bergabung. Mereka bercanda atau ada yang membantu pengurus yang sedang merangkum program kerja.


“Sini masuk, kami nggak meeting kok memang lagi santai saja,” kata Banu pada beberapa siswa yang ragu masuk.


“Kalau kami meeting, pasti kami tutup ruangan,” jelas Herry lagi.


Saat itu Tria masuk ke ruangan tapi dia sendiri tanpa Andre.


“Her aku mau bicara sebentar berdua. Sebentar saja. Penting banget,” kata Tria.


“Aku tanggung, belum selesai makan,” balas Herry. Dia juga mepet waktunya kalau sudah bel masuk tapi belum rampung makan.

__ADS_1


“Ya sudah aku saja yang pergi,” Banu mengerti bahwa temannya ada keperluan sedang Herry tak mau menghentikan makannya.


“Memang nggak bisa kamu kirim pesan lewat ponsel saja?” Herry jadi tak enak pada Banu.


“Nggak Herr. Aku mau pastikan dulu kamu bisa nggak ke kandang sepulang sekolah. Kalau bisa aku mau bahas sesuatu sama kamu, Timah dan Satrio. Penting banget ini. Nggak bisa lewat telepon atau kita bicara berdua. Maka aku tanyakan kepastiannya kamu bisa hadir tidak. Jadi aku akan minta Satrio juga hadir kalau kamu bisa datang. Kalau kamu nggak bisa ya sudah. Paling nanti aku diskusi dulu berdua Timah.”


“Oke aku akan datang nanti. Kamu duluan saja.” jawab Herry.


“Ini memang aku sudah mau pulang sih makanya aku tanya kamu. Kelasku sudah dipulangkan. Ya sudah ya aku duluan. Aku ditunggu kak Andre di parkiran,” jelas Tria.


“Okay, nanti begitu pulang aku akan meluncur ke sana. Mungkin aku mampir ke toko plastik dulu karena dititipi oleh mas Yanto. Tadi mas Yanto pesan dia pergi ke tempat konsumennya jadi tidak bisa beli pesanannya Mbak Fitri,” balas Herry. Hampir saja makanannya tak bisa tertelan karena sakit di hatinya mendengar Andre sudah menunggu Tria di parkiran.


“Kalau kamu pergi ke sana, aku juga titip ya. Aku titip dua lusin saja. Aku biasanya yang kotak ukuran 250 ml,” pesan Tria.


“Berarti sama dengan Mbak Fitri. Oke nanti aku belikan 2 lusin. Warna tutupnya apa?” tentu saja Herry bertanya seperti ini karena di rumahnya mbak Fitri membedakan tambahan madu dengan gula dan tanpa tambahan dari warna tutup botolnya.


“Kalau buatku warna tidak pengaruh, karena di aku semua pakai gula, tak ada yang dibedakan tanpa gula atau tambah madu,” sahut Tria.


“Oke, kalau aku mampir aku belikan kamu dua lusin,” jawab Herry.

__ADS_1



__ADS_2