BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
DAFFA


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Hari-hari berikutnya Yanto sangat sibuk sejak pagi sampai sore. Dia mulai mengawali persiapan buka usahanya.



Yanto berangkat mulai jam 09.00 atau jam 10.00 pagi, tentu tidak seperti jam kantor. Lalu dia akan pulang nanti jam 03.00 atau jam 04.00 sore.



Yanto juga sudah beli motor second, bukan motor baru. Walau mampu beli yang baru, dia tetap tidak mau membeli yang baru. Karena merasa itu cukup buat pulang pergi dari rumah ke bengkel yang dia buat.



Bengkel DAFFA. Itu usaha yang dia buat. Daffa itu nanti akan disematkan bagi nama anak pertamanya.



Sebenarnya  DAFFA adalah singkatan dari nama Dyah Ayu Fitri tinggal ditambah F dan A jadilah nanti nama anak mereka Daffa entah apa nama lainnya.



“Capek Pa?” tanya Fitri ketika suaminya baru pulang.



“Wajarlah, namanya orang kerja,” balas Yanto sambil mengecup kening istrinya yang baru selesai salim mencium punggung tangannya. Fitri langsung memberikan teh madu untuk suaminya.



Awalnya Yanto tak suka teh menggunakan madu, tapi begitu Fitri memberi keterangan bahwa dia tidak boleh terlalu banyak gula dan pencerahan bahwa itu akan lebih baik buat kesehatannya maka sejak 3 tahun lalu memang teh atau kopi yang diminum oleh Yanto selalu menggunakan madu sebagai pemanisnya.



“Mas mandi dulu, lalu salat ashar ya. Kamu sudah salat ashar?” tanya Yanto.



“Belum. Mama memang ingin berjamaah dengan Papa jawabFitri.



“Ya sudah Mas mandi dulu,” kata Yanto lalu menghabiskan teh hangat yang diberikan oleh Fitri barusan.



“Oh iya Mas, tadi orang yang Mas pesani beon box buat nama bengkel sudah datang. Katanya Handphone Mas enggak bisa dihubungi,” la\[pr Fitri.



“Mas kan enggak bawa handphone Yank. Ketinggalan, makanya dari tadi Mas enggak kasih kabar kamu. Coba lihat di laci kamar deh. Kayaknya ada di laci meja riasmu,” kata Yanto.

__ADS_1



“Astaga, jadi Mas enggak terima pesan aku?” tanya Fitri.



“He he he he kamu minta apa Yank? Maaf Mas beneran lupa enggak ingat,” jawab Yanto dengan senyum konyolnya. Dia merasa sedikit bersalah.



“Aku cuma minta mas pulang cepet sih, aku kepengin salat ashar bareng,” jawab Fitri.



“Eealah. Maaf ya Yank. Yo ayo sekarang yuk. Mas mandi dulu ya,” kata Yanto. Dia benar-benar tidak bawa ponsel tadi. Biasanya kalau ponselnyadi-charge dia pasti ingat.  Semalam tidak dicas karena penuh, jadi dia taruh di laci meja riasnya Fitri.



Saat Yanto mandi Fitri melihat memang ponsel suaminya ada di laci meja riasnya.



\*‘Untung aku nggak ngomel-ngomel atau cemburu karena HP suamiku mati, kalau cemburu kan bisa bahaya udah ngomel-ngomel ternyata hp-nya dia ada di rumah,’ \*kata Fitri dengan tersenyum sendiri.



Usai sudah keinginan Fitri terpenuhi yaitu ingin salat barang bersama dengan suaminya.



“Maaf ya Yank, beneran tadi Mas enggak ingat kalau ponsel Mas itu enggak kebawa. Kamu tahu sendiri kan Mas kalau sudah kerja juga jarang pegang ponsel.”




“Biasalah, melengkapi bangunan supaya nyaman. juga menunggu barang-barang yang datang. Jadi semua sudah tertata rapi.”



“Mas juga kepengen nambahin beberapa meja kursi buat menunggu. Maunya bikin kursi panjang di bawah pohon. Jadi bisa santai sambil ngopi sambil nunggu mobil atau motor yang diservice. Atau sambil memikirkan dia jadi ambil tidak barang yang kita jual,” Yanto mencurahkan isi kepalanya pada sang istri.



“Ceritanya Mas kapan mau buka?” tanya Fitri.



“Dua hari lagi tukang kayunya selesai. Baik buat bikin rak-rak di dalam ruangan bengkel, maupun bikin kursi dan macam-macam di ruang terbuka buat nunggu. Mas juga minta bikinin kotak alat-alat. Jadi tiap alat nanti enggak berceceran. Tiap montir punya kotak sendiri biar bertanggung jawab.”



“Memang Mas mau ambil berapa montir?” tanya Fitri tak sadar pertanyaan tadi belum mendapat kepastian dari Yanto.


__ADS_1


“Mas akan ambil dua orang, lusa penerimaan mereka. Mas memang enggak buka lowongan secara terbuka. Cuma bisik-bisik aja, jadi Mas bisa tahu siapa yang kompeten. Karena Mas maunya orang yang berani mbabat alas,  berani besusah payah dulu, enggak langsung berpikir dia akan digaji besar,” kata Yanto.



“Dan yang terpenting orangnya itu harus jujur karena hanya kejujuran modal usaha kita,” jelas Yanto lagi.



“Terus pertanyaanku belum dijawab kan Mas?”



“Minggu depan Yank. Minggu depan kita buka usahanya, nanti dua hari sebelumnya aku minta Ibu Gendis ke sini untuk bikin tumpengan ya. Kita buka usaha dengan bismillah dan bikin tumpeng seperti biasa bukan dengan pesta-pesta.”



“Iya Mas. Bismillah, ini antar kita aja kan?” tanya Fitri, dia takut salah memberitahu keluarga lainnya ternyata Yanto tak suka.



“Ya Yank, ini buat kita aja. Dua keluarga aja. Yang lain enggak usah lah. Sama semua pegawai di sini ikut ke bengkel. Bismillah kita buka usaha nanti semuanya lancar,” kata Yanto. Fitri tentu saja sangat senang impian suaminya sejak SMK akan segera terwujud.



“Mas udah hunting buat mobilnya?”



“Belum Yank, nanti aja kalau sudah mau dekat-dekat launching. Sekalian tempat yang teduhnya sudah selesai, kalau tempatnya belum selesai sayang mobil kena panas dan hujan.”



“Kalau untuk bangun showroom kan kita belum bisa,” kata Yanto. Paling tidak dua mobil sudah langsung diletakkan di tempat tertutup yang lainnya hanya diletakkan di lokasi dengan pelindung awning,” Yanto tersenyum pada istrinya dan mengecup perut gendut Fitri.



“Aku senang Mas, jadi Mas enggak pergi kerja jauh,” jawab Fitri sambil membelai rambut suaminya dengan lembut.



“Senang Mas nggak pergi jauh atau trauma dengan kejadian Bogor kemarin?” tanya Yanto sambil menengadahkan wajahnya agar bisa melihat wajah istrinya tercinta.



“Dari awal kan dulu memang aku enggak senang kalau Mas harus jauh. Aku cuma mengingat kata-kata Mas. Mas bilang kan Mas jadi sopir jarak jauh buat nabung usaha. Ya aku kasih izin kan? Gitu kan dulu perjanjian kita?”



“Bukan karena kasus perempuan Bogor itu kok. Walau aku juga trauma perpisahan itu dimanfaatkan oleh perempuan licik itu.”



“Iya Mas ngerti,” sesal Yanto.


biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok.



__ADS_2