BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
ITU KAN JUGA BUKAN RUTINITAS?


__ADS_3

“Kita sarapan di pasar Beringharjo yuk Mas,” ajak Fitri. Mereka sudah minum teh dari hotel. Pastinya juga sudah ganjel dengan roti.


“Ayo,” jawab Yanto. Dia tak mau menolak.


“Tapi kita jalan kaki kan?”


“Iyalah jalan kaki saja ke Beringharjo. Masa naik ke becak. Katanya kita mau mulai bergerak jalan kaki.”


Akhirnya mereka pun ke pasar Beringharjo. Tentu saja bagian atau blok depan yaitu bagian baju-baju belum buka karena masih terlalu pagi. Yang mereka ingin telusuri adalah sarapan di pasar basah yang menjual aneka sayur. Kalau pasar buah atau pasar sayur dan ikan serta daging tentu buka sejak dini hari. Di sanalah banyak jajanan atau makanan matang yang sudah siap.


Fitri dan Yanto pun akan menuju ke sana.


“Enak ya kota Jogja, pagi-pagi bebas polusi. Nggak macet dan suasana sangat asri. Antar penduduknya sama seperti kota kita Solo,” kata Yanto.


“Ya nggak macet lah, wong kita jalan kaki. Bagaimana macet.” kata Fitri. Tentu saja itu membuat Yanto gemas pada istrinya.

__ADS_1


“Itu adalah lesehan gudeg loh,” kata Yanto menunjuk lesehan di jalan yang mereka lewati.


“Nanti di pasar Beringharjo juga banyak lesehan yang banyak pilihan lauknya. Bukan hanya gudeg semata, sudah kita ke sana saja. Kan tadi niatnya sarapannya di pasar Beringharjo,” tolak Fitri.


“Haduuuu. Sayangnya kita nggak bisa beli sayuran dan buah segar untuk dijus karena kita lagi di hotel ya,” keluh Fitri melihat aneka sayuran dan buah segar yang mereka lewati.


“Mulai deh mikirnya yang rutin. Kita kan liburan. Ngapain mikir seperti itu?” jawab Yanto.


“Nanti beli beberapa buah segar saja buat kita konsumsi tanpa dijus,” saran Yanto selanjutnya.


“Ya bagaimana nggak laper, perangnya double,” kata Yanto.


“Lagian Mas. Katanya mau lepas dari rutinitas. Kenapa perangnya nggak lepas? Malah tetep jalan terus,” ledek Fitri.


“Itu kan juga lepas dari rutinitas? Rutinitas biasanya satu kali kan? Nggak double atau triple,” kata Yanto. Tentu saja itu membuat Fitri jadi malu sendiri.

__ADS_1


“Mas itu ada lesehan, bukan cuma gudeg loh tapi ada menu lainnya banyak,” kata Fitri.


“Ya sudah. Kita ke situ saja. Kalau menu tambahannya selain gudeg banyak seperti mau mu,” jawab Yanto.


“Ternyata prasmanan Mas. Nggak diambilkan sama mboknya. Ayo kita ambil sendiri,” Fitri mengambil 2 piring dan nampan. Diambilkan nasi untuk Yanto dan sedikit nasi untuk dirinya. Lalu dia tuang semua lauk yang diinginkan selain itu dia juga ambil satu piring untuk lauk tambahannya.


“Mas yang ambil minum sana,” kata Fitri.


Yanto pun mengambil minum untuk dirinya dan Fitri. Sehabis mereka mengambil semuanya lalu mengarah ke meja kasir sudah dibayar baru mereka duduk lesehan.


Ternyata selain mengambil teh panas Yanto juga mengambil 3 kerupuk bulat.


“Wah ini memang nikmat, lauknya banyak pilihannya,” kata Yanto melihat apa yang diambil istrinya juga tambahan lauk.


Kalau harga mereka sudah tahu lah harga Jogja sama dengan harga Solo. Beda dengan orang-orang yang tidak tinggal di Jogja tentu akan terpesona dengan harga yang lumayan murah dari kota lain. Tapi kalau Yanto karena dari Solo ya harganya relatif sama.

__ADS_1


“Mas sudah hubungi anak-anak?” tanya Fitri. Mereka sudah berkomitmen hanya satu kali sehari menghubungi anak-anak yaitu pukul 09.00. Selebihnya mereka harus melepaskan diri. Berat memang buat mereka. Tapi memang harus mulai belajar agar pikiran mereka fresh. Bahkan Yanto tak mau diganggu urusan pekerjaan selama satu minggu liburannnya ini.


__ADS_2