
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Sekarang yang terpenting kamu tentukan dulu langkahmu. Kamu mau masuk ke SMK atau SMA. Masing-masing punya kekurangan dan kelebihan di jenjang berikutnya.”
“Kalau dari SMK itu lebih siap terjun dalam bidang pekerjaan sedang kalau SMA itu belum karena masih butuh pendalaman materi dari perkuliahan nanti. Tapi kalau dari SMA bidang jurusan yang dipilih saat kuliah itu lebih banyak daripada yang hanya dari SMK. Karena kalau dari jurusan tertentu SMK tidak bisa.”
“Misalkan dari SMK mesin tak mungkin masuk fakultas kedokteran atau pertanian. Itu kekurangan dan kelebihannya sekolah yang harus kamu pelajari lebih lanjut. Banyak sisi lain yang belum Mbak sebut.”
“Dari tingkat sekolah lanjutan atasmu, kamu bisa mengira-ira jurusan apa yang kamu ambil. Kalau kamu tetap ingin pilot silakan, kalau kamu ingin seperti yang diminta ayah dan ibu itu bagus.”
“Semuanya bagus, tidak ada yang salah. Yang penting kamu menjalankannya dengan ikhlas. Yang penting kamu menjalankannya dengan baik dan benar. Jangan terpaksa karena tidak akan membawa keberhasilan,” kata Fitri.
“Ya Mbak aku akan pikirkan, aku juga enggak akan ke gegabah untuk menentukan langkah,” kata Herry.
“Kamu dengar dari mana?” tanya Yanto pada Burhan, mantan sopir cadangannya dulu itu. Burhan datang ke Solo dan mendatangi Yanto di bengkelnya.
“Sekarang sopir cadanganku kan orang Bogor asli Mas. Namanya Dadang dari Dadang aku dapat cerita dia itu masih sepupunya Indrajit, ayah anak yang dikandung Yani.”
“Indra, laki-laki itu depresi karena dia harus menjaga anaknya saat Yani kerja dan katanya Yani mulai kepincut seorang lelaki sehat yaitu supervisornya.
“Saat Yani kerja, anaknya dia bu-nuh dengan menutup wajahnya dengan bantal.”
“Apa anaknya enggak teriak?” tanya Yanto membayangkan Daffa dibekap wjahnya dengan bantal.
__ADS_1
“Bukannya anaknya sudah besar?” Yanto ingat bayi itu lahir saat dia masih koma dan Daffa baru dua bulan di kandungan. Usia Daffa saja sekarang hampir dua tahun.
“Anaknya sudah 3 tahun lewat kayanya, sudah lari sana lari sini.” balas Burhan.
“Saat sedang tidur dia tutup wajahnya dengan bantal sehingga tak ada teriakan.”
“Berarti suaminya Yani itu sudah bisa bangun dari tempat tidur kan? Katanya dulu dia hanya bisa berbaring tanpa bisa ngapa-ngapain.”
“Aku enggak tanya sama Dadang soal kondisinya saat ini. Aku sampaikan yang Dadang ceritakan tanpa mau menambah atau mengurangi.” Burhan hanya menjadi penyambung lidah saja.
“Setelah anaknya, meninggal laki-laki tersebut bu-nuh diri Mas. Mungkin dia pikir lebih baik anaknya dia bawa daripada ditinggal juga akan disia-siakan oleh Yani yang tak pernah mengurus anak sama sekali,” jelas Burhan.
“Astagfirullah sampai segitunya. Istriku yang anak tunggal dan anak orang kaya malah tak mau anak kami diasuh baby sitter. Satu anak dua baby sitter saja dia mampu bayar, tapi Fitri memilih mengasuh sendiri anak-anak kami. Bahkan untuk ASI saja dia memberi keduanya. Tak mau dia beri su5u formula.” kata Yanto
“Aku bingung dulu aku bisa terjebak olehnya,” sesal Yanto. Walau tak pernah bersama Yani, setidaknya itu penyebab Fitri terluka.
“Kalau yang Dadang bilang itu semua enggak ‘polos’ Mas.”
“Maksudmu bagaimana?” tanya Yanto bingung.
“Kalau kata Dadang, dia dengar-dengar dari keluarganya bahwa sebelum Mas kan ada dua orang yang dicoba jebak seperti dilakukan pada Mas, tapi enggak mempan. Mereka langsung berontak. Mereka masih bisa berpikir waras.”
“Untuk itulah Mas dibuat supaya menurut, memang Mas masih bisa berontak, tapi mau tidak mau Mas harus terima. Itu yang maksud saya enggak polos. Ada hal gaib yang menyelimuti sehingga Mas nurut aja disuruh menikahi.”
__ADS_1
“Astagfirullah,” kata Yanto.
“Memang ayahnya Fitri juga bilang begitu, katanya semua itu tidak polos. Tapi aku enggak percaya hal seperti itu. Cuma aku memang seperti kerbau dicocok hidung saja. Diapain aja mau, walaupun aku enggak ngapa-ngapain dia juga. Untungnya dia enggak bikin aku supaya kepicut sama dia ya? Kalau aku bisa bermain seperti pasangan suami istri sama dia, kasihan istriku.”
“Sekarang Yani-nya bagaimana setelah anak dan suaminya meninggal?” tanya Yanto.
“Dia santai saja, enggak merasa kehilangan Mas. Dia senang aja karena sekarang dia bebas kan enggak punya tanggungan suami yang membuat dia harus ngurusin. Dia juga enggak punya anak yang harus dia kasih makan. Jadi dia bebas enggak punya beban. Memang terlihat awal seperti sedih, tapi enggak tuh. Sekarang dia sudah serius dengan laki-laki yang dipergoki oleh suaminya.”
“Kok suaminya lumpuh bisa pergokin?” kata Yanto yang masih tak bisa membayangkan omongan Burhan.
“Mungkin maksud kata suaminya pergoki itu, suaminya dengar dari kerabatnya yang pergoki Yani sering pergi dengan laki-laki tersebut. Indra dapat aduan dari mana-mana. Suaminya lalu marah sama Yani tapi Yani enggak terima itu sih. Yang aku dengar dari Dadang bukan cuma satu atau dua orang aja yang ngadu pada suaminya Yani kalau Yani itu selingkuh. Di pabrik semua sudah tahu bahwa Yani pacaran dengan supervisornya itu.”
“Rupanya dia cari yang punya duit ya? Dia enggak cari yang sama sama pegawai biasa tapi dia cari supervisor.”
“Iya Mas dan repotnya supervisornya ini sudah punya dua istri.”
“Astagfirullah sejak dulu memang dia sukanya cari yang ada uang nggak pikir bahwa itu menyakiti hati perempuan lain. Dia enggak pernah punya empati pada orang lain nggak peduli ada hati perempuan dan hati anak-anak yang tersakiti,” kata Yanto dengan heram.
“Bener banget Mas, ada hati anak-anak yang tersakiti kehilangan ayah mereka. Para pelakor itu enggak pernah mikir seperti itu. Yang dia pikir dia merasa menang dari istri yang ditinggalkan oleh suaminya,” kata Burhan.
“Bagaimana dengan perkembanganmu?” tanya Yanto.
“Sedang diperjuangkan Mas,” kata Burhan. Rupanya Burhan juga ingin pensiun cepat, cuma dia tidak buka bengkel, dia dan calon istrinya ingin buka warung makan kecil-kecilan dekat PO karena calon istrinya pintar masak. Burhan ke sini untuk mengantar undangan pernikahannya
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok.