BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
AKU JUGA PEREMPUAN


__ADS_3

‘Benar juga ya yang ibu bilang. Fitri malah nanti bisa enggak makan sama sekali bila aku sengaja menunggu dia makan bareng,’ kata Yanto dalam hatinya. Maka dia pun duduk dan ikut makan bersama.


Makan malam kali itu jadi serba salah, tak ada yang bicara sama sekali.


Harusnya sore tadi Fitri dan rombongannya pulang ke desa tapi karena ada kasus ini Fitri sengaja bertahan di sini beberapa saat. Dia tak peduli bila nanti mertuanya juga Timah minta pulang lebih dulu. Dia akan tetap di sini saja.


“Serius Dek?” tanya Herry sehabis adiknya bercerita kejadian di tata usaha sekolahnya sehingga kemungkinan mereka tidak pulang malam ini karena sampai jam 05.00 sore tadi Mbak Fitrinya belum pulang ke rumah kota.


“Kenapa kamu malah main padahal saat itu Mas Yanto dan Mbak Fitri ke sekolahmu itu buat daftar ngurusin kamu?” tegur Herry.


“Aku akui aku salah Mas. Aku cuma diajak pergi ke kantin untuk minum aja. Enggak tahu kalau akibatnya bisa fatal seperti ini,” sesal Timah.

__ADS_1


“Kalau mas Yanto cuma ngobrol aku yakin Mbak Fitri enggak sepicik itu. Aku kenal Mbak Fitri. Walau dia cemburu tapi enggak akan bertindak keras. Waktu mas Yanto ngobrol dengan mbak Indri dan mbak Aisy dia tetap diam aja tuh. Padahal Mbak Fitri dengar sendiri kalau mbak Aisy itu mencintai masih Yanto sejak SMP.”


“Pasti kelakuan perempuan tersebut lebih dari yang mbak Aisy lakukan Dek. Aku yakin itu,” kata Herry melontarkan argumen-nya.


“Iya ya, waktu sama mbak Aisy kan katanya Mbak Fitri dengar sendiri bagaimana mbak Aisy itu mencintai Mas Yanto sejak SMP. Mbak Aisy sampai menolak-menolak semua lelaki yang mencintai dia sejak SMA sampai kuliah, hanya karena ingin sama Mas Yanto. Itu pun Mbak Fitri enggak marah ya Mas?” Timah membenarkan argumen Herry tadi.


“Itulah yang aku bilang, pasti kelakuan perempuan itu lebih dari yang mbak Aisy lakukan.”


“Iya Mas, dari tadi dia juga nelponin terus ke Mas Yanto. Dan anehnya Mas Yanto tuh kasih nomor pribadi, sehingga bikin Bu Gendis dan ayah Suradi marah.” Timah dan Herry sekarang terbiasa menyebut nama Bu Gendis apabila mereka sedang bertukar cerita karena ibu mereka ada dua.


“Itulah yang bikin ibu marah sekali, sampai ibu bilang kalau Mas Yanto terima telepon itu enggak usah kenal sama ibu,” jelas Timah sedih.

__ADS_1


“Ayah juga bilang percuma nomor itu diblokir karena pasti akan menghubungi dengan nomor lain. Dan yang ayah katakan itu benar Mas. Nomor asing menghubungi Mas Yanto terus.”


“Wah kalau kamu sekolah di sana lebih runyam Dek,” ujar Herry.


“Kenapa runyamnya Mas?”


“Pasti Mbak Fitri akan berpikiran buruk. Tiap hari Mas Yanto bisa bertukar pesan melalui kamu terlebih bila kamu pulang mampir bengkel dulu. Pasti pikiran buruk akan terus menghantui Mbak Fitri.”


“Aku enggak mungkin lah jadi kurirnya orang yang berselingkuh,” jawab Timah cepat.


“Ya bisa aja, mungkin kamu takut sama Mas Yanto karena diancam. lalu kamu menerima titipan pesan atau barang. Siapa yang tahu?”

__ADS_1


“Enggak akan Mas. Aku enggak akan pernah seperti itu. Aku tahu sakit hati diselingkuhi walaupun aku masih kecil dan belum pernah pacaran. Pasti aku tahu. Aku ingat waktu Mbak Fitri nangis-nangis saat kasus Mas Yanto dengan seorang perempuan di Bogor dulu. Begitu pun ibu yang sangat menderita ketika bercerita dengan Mbak Fitri pertama kali waktu Mbak Fitri lapor Mas Yanto ada perempuan lain. Aku juga perempuan, aku tahu sakitnya hati ibu dan Mbak Fitri kala itu.”



__ADS_2