
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Maaf saya tidak bisa banyak membantu. Itu sudah keputusan menantu saya,” kata Pak Suradi.
“Perilaku kalian memang sangat melukai hati menantu saya, pastinya juga anak saya. Dan menantu saya sangat mencintai istrinya. Dia telah berbohong pada istrinya saat kalian jebak, dia menurut kalian hanya karena tak ingin anak saya terluka bila kalian langsung bicara dengan anak saya.”
“Kalau sampai waktu itu anak saya tak tertolong atau menantu saya waktu itu juga pernah sampai tak ada napas, kalian bisa tanggung bagaimana kami yang hanya punya anak satu harus kehilangan putri kami karena dia depresi suaminya meninggal?”
“Bagaimana ibunya Bambang harus kehilangan tulang punggung?”
“Jadi mohon maaf kalau Bambang bersikeras tak mau memaafkan bila Anda tidak membayar semua kerugian yang dia tanggung. Dan seperti tadi Anda dengar, kami tidak akan memakan uang itu satu rupiah pun. Akan langsung kami bagikan pada panti asuhan karena memang kami tidak butuh uang ganti dari Anda. Kami hanya butuh sangsi sosial buat anda semua.”
“Kalau boleh tahu, berapa biaya yang habis untuk rumah sakit kemarin?” tanya si bapak.
“Saya tak mau bicara tanpa bukti, sebentar saya ambil berkasnya ya. Biar kalian lihat sendiri, saya bicara bohong atau tidak,” kata Suradi.
“Uang pribadi saya 1,2 M, lalu uang Jasa Raharja 210 juta dan uang dari PO 10 juta. Itu di luar biaya hidup kami wira wiri, di luar biaya rumah sakit anak saya, karena saat itu anak saya dan Yanto sama-sama dirawat selama satu bulan lebih 3 hari!”
__ADS_1
Ayah si laki-laki di Bogor itu bingung dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu agar mendapat maaf dari Bambang.
“Baik Pak, kami permisi pulang. Kalau memang ada rezeki kami akan kembali ke sini,” bapak laki-laki tersebut berdiri untuk memohon pamit.
“Sepertinya saya nyerah enggak akan mungkin mengumpulkan uang sebanyak itu. Kalau ada lebih baik buat pengobatan anakku,” Kata lelaki itu pada ibunya Yani.
“Iya, kalau memang ada uang sebesar itu lebih baik buat hidup anak-anak aja,” kata ibunya Yani pasrah. Mereka memang tak akan mungkin membuang uang sebesar itu dengan tujuan yang belum pasti hasilnya. Kalau sudah memberikan uang sebanyak itu lalu anaknya tetap aja tidak sembuh kan sama juga bohong. Lebih baik uang yang ada buat hidup anak dan cucu mereka saja. Mereka pun pulang ke Bogor dengan pikiran yang sangat kacau tak ada lagi harapan mendapat maaf dari Bambang.
“Kenapa Mas seperti itu?” tanya Fitri lembut. Dia berbaring di dad4 suaminya.
“Kalau memaafkan hanya di mulut gampang Dek. Sangat mudah, tapi kalau di hatinya enggak memaafkan, ‘kan percuma? Jadi lebih baik aku katakan apa yang ada dalam hatiku. Tak akan pernah ada kata maaf untuk orang yang sudah mengacak-acak hidupku. Aku enggak bisa ngebayangin aku dibuang oleh kamu dan juga oleh ibu kandungku. Adikku juga memandangku sinis saat aku datang buat mengambil surat hasil pemeriksaan dokter dulu.”
“Bisa kamu bayangin gimana hati aku sat itu Dek? Apa aku harus maafkan mereka karena kondisi dia sudah lumpuh dan anaknya sakit-sakitan?”
“Bagaimana kalau kemarin aku enggak tertolong? Kamu hamil tanpa suami lalu anak aku lahir tanpa ayah?”
“Kalau takdir itu memang pasti, tapi kan kita sekarang lagi bicara logika bukan bicara takdir. Takdir tak ada yang bisa mencegah atau menolaknya. Seperti saat aku ditakdirkan harus jadi kepala keluarga sejak kelas 1 SMK.”
__ADS_1
“Yang kita bahas di sini bukan takdir ya, kita bahas logika!” Yanto tentu bisa membedakan hal ini.
“Aku benar-benar putus asa ketika kamu tak ada disisiku dan keluargaku tak mau menerima uang nafkah dariku, sehingga aku benar-benar tidak bisa tidur tidak bisa makan dan terjadilah kecelakaan itu.”
“Mereka kan mereka enak-enak aku bayarin rumah petak, mereka enak-enak aku bayarin kontrol tiap bulan, aku bayarin listriknya. Apa itu aku harus kasih maaf? Mereka bahagia di atas deritaku!”
“Enggak bisa Dek, mohon maaf. Aku enggak akan pernah bisa maafin orang yang sudah membuat hidupku berantakan.”
“Aku tahu saat tertentu kamu juga sakit ketika mengingat aku meninggalkanmu diam-diam, ketika mengingat aku berbohong bilang uang operasional habis padahal aku gunakan buat perempuan pelacur itu.”
“Aku tahu sakit itu enggak bisa hilang dari hatimu Dek, walau kamu tahu bukan kesalahanku. Tapi aku pernah berbohong padamu itu sangat menyakitkan mu dan tak akan bisa hilang kan? Aku yakin kebohongan itu tak akan mudah kamu tutupin dari apa pun.”
“Jadi mohon maaf, aku enggak bisa maafin mereka apa pun alasannya,” kata Yanto jujur pada Fitri di kamar ketika Fitri menegur mengapa Yanto bersikeras seperti itu.
“Kalau pun mereka sanggup memberi uang itu aku akan bersama mereka memberi sumbangan pada beberapa Panti Asuhan Dek, sebagai bukti bahwa tidak aku ambil satu rupiah pun, karena itu bukan uang aku kan? Itu uang ayah dan aku tahu ayah enggak akan mungkin minta dikembalikan. Jadi lebih baik aku akan beri santunan kepada Panti Asuhan dan pantai jompo atas nama ayah,” kata Yanto. Fitri mengerti itu.
Fitri mengerti rasa sakit yang Yanto rasakan, dia memeluk suaminya erat. Benar yang suaminya katakan, rasa perih ketika suaminya berbohong itu tak mungkin pernah bisa hilang walau dia tahu suaminya tak pernah menyentuh perempuan tersebut. Tetap saja perih saat ingat dibohonginnya, sakit yang ia rasa tak bisa digugurkan begitu saja.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok.
__ADS_1