BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
MENGAPA TAK BISA BILA HANYA USAHA NON PROFIT?


__ADS_3

‘Kalau kalian sampai duluan di “kandang”, tunggu sebentar. Aku antar kak Andre ke bengkel. Baru aku balik ke kandang.’


‘Satrio tolong petik sawi dan cabe rawit. Aku mampir beli bakso untuk kita bikin mie. Mie masih ready banyak kok.’ itu pesan di group saat istirahat pertama Harry ini.


‘Oke, nanti aku bawakan sirup. Sepertinya sirup kita habis,’ balas Timah. di “kandang” ada dispenser yang bisa air dingin, jadi mereka tak perlu repot bila ingin membuat minuman dingin tanpa es.


‘Siap, aku bawa kerupuk seperti biasa,’  Herry merespon pesan Tria. Walau dia keqi, gadis itu akan mengantarkan Andre terlebih dahulu.


‘Mungkin nanti aku sama Harry, karena dia mau order kambing lagi dan ingin bicara langsung dengan kita,’ tulis Herry.


‘Nggak apa-apa. silakan aja,’ jawab Satrio.


‘Aku nanti mampir beli tambahan mie, mungkin ada beberapa rasa mie yang di stok habis,’ kata Satrio. Tadi kan dia baru disuruh memetik sawi, tapi belum ada yang dia beli. Jadi dia mau beli mie instan saja untuk patungan kali ini.

__ADS_1


“Kenapa sih kamu males banget makan di luar?” tanya Harry di istirahat kedua.


“Selama ini memang aku jarang kok makan di luar. Sesekali memang sih aku makan di depan, di bawah pohon. Tapi jarang juga. Paling aku makan di ruang OSIS. Lebih sering makan di kelas, daripada nanti jadi omongan orang. Lebih baik aku di kelas saja makan sambil baca-baca.” jawab Herry sambil mulai membuka bekal makan siangnya.


“Bukannya sebagai ketua OSIS, kamu wajib keliling ya setiap istirahat?”


“Nggak ada kewajiban seperti itu. Ngapain keliling? Mau tepe-tepe ( TP = tebar pesona )?”  Herry membalas pertanyaan Harry dengan pertanyaan juga.


“Buat apa lagi kamu tepe-tepe? Tanpa tepe-tepe pesonamu sudah menyebar ke mana-mana,” ucap Harry yang juga sudah selesai membuka bekalnya dan mulai makan.


“Nah itu! Yang ingin aku ubah. Kata-kata anak bigboss! Bagaimana caranya aku menjadi big boss seperti kamu? Bukan anak bigbos.” kata Harry.


“Wah kalau ingin merubah seperti itu, kamu harus belajarnya ke Timah.”

__ADS_1


“Kenapa lagi belajar sama anak itu?” tanya Harry malas. Kalau harus bicara dengan Timah dia paling malas.


“Ya memang setiap orang kemampuannya beda-beda. Kebetulan adikku itu dia pakar memotivasi orang. Satrio itu punya bisnis karena diejek adikku. Dia mengejek itu memang tujuannya supaya Satrio bangkit. Karena dia tahu potensinya Satrio. Seperti itulah Timah. Dia juga membangunkan potensinya Tria, sehingga dia mau punya bisnis.”


“Jadi kalau kamu mau ngobrol soal apa yang ingin kamu lakukan, ya ngobrol sama Timah. Tadinya Satrio sama sekali tidak ingin punya bisnis. Dia hanya ingin jadi penyuluh pertanian dan lingkungan. Begitu dipacu oleh adikku, dia terbuka wawasannya. Bahwa tidak bisa semuanya itu pure hanya non profit. Karena untuk melakukan usaha non profit itu kita butuh profit penunjang. Kalau nggak ada profit penunjang kita mau bergerak pakai apa? Itu yang dipacu oleh Timah.”


“Nah aku masih bingung di sini. Maksudnya bagaimana dengan bisnis non profit, dan Satrio diharuskan punya bisnis oleh Timah?” tanya Harry.


“Satrio itu tadinya hanya ingin jadi penyuluh pertanian dan lingkungan. Itu kan tak ada keuntungan atau non profit. Tapi untuk bergerak kan dia butuh bensin, dia butuh pulsa, dia butuh kasih transport ke anak buahnya setidaknya ya sekadar makan atau minum es. Itu kan butuh uang. Nggak mungkin semua kebutuhan itu dia minta dari orang tuanya! Jadi dia harus punya penghasilan walaupun sedikit. Yang penting tidak nombok.”


“Iya juga ya.”


“Sekarang kalau semuanya tidak menghasilkan, hanya memberi pelajaran cuma-cum, lalu bensin ke sana kemarinya dari mana? Beli bibitnya dari mana? Walaupun untuk berikutnya dia tidak perlu beli bibit, tapi kan untuk tahap awal pasti beli. Benar-benar aku jadi mengerti. Jadi itu semua kerjaannya Timah?” tanya Harry.

__ADS_1


“Ya, itu semua memang Timah yang handle. Dia juga menjadi tutor di sekolahnya. Banyak anak-anak yang ingin belajar dari dia, dia berikan secara gratis. Tapi saatnya dia butuh waktu untuk sendiri dia tak mau diganggu. Itu modelnya Timah. Jadi orang harus mengerti dia juga.”


__ADS_2