BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
KITA BERTEMAN


__ADS_3

Di kampus juga terjadi kehebohan, pihak kampus tak mau punya mahasiswa seorang napi karena jelas-jelas keputusan dari pengadilan adalah Fabianto bersalah. Waktu masih tersangka pihak kampus  bisa bertahan karena alasannya tepat BELUM ADA KEPUTUSAN dari pengadilan. Sekarang setelah ada keputusan dari pengadilan tentu kampus bisa menarik diri memberi keputusan tegas. Fabianto langsung di drop out dan suratnya jatuh ke tangan ayahnya juga pengacara ayahnya.


Tentu saja hal itu tambah membuat ayahnya berang.


“Hanya gara-gara cinta yang ditolak Fabianto melakukan keputusan bodoh merugikan orang lain sehingga sekarang dirinya sendirilah yang rugi. Benar-benar bodoh. Hanya gara-gara cinta sepele aja seperti itu!”


“Dia pikir kalau orang lemah atau orang miskin bisa diintimidasi seenaknya! Sama aja sama ibunya,” kata sang ayah sambil marah=marah tak karuan.


“Nggak usah kayak gitu Darling, sabar. Biar bagaimana pun itu istrimu kan?”


“Istri yang bodoh!” umpat ayah Totok.


Dia sekarang ada dalam dekapan perempuan selingkuhannya. Perempuan yang sudah dinikahinya sejak 10 tahun lalu karena cari pelampiasan dari arogansi dan dominasi istri pertamanya.

__ADS_1


Seperti itulah laki-laki! Merasa paling benar. Mereka mencari solusi yang semaunya sendiri. Mereka pikir dengan cari perempuan lain semua masalah keluarga bisa selesai. Bukannya menyelesaikan masalah dengan istri tua, dia malah cari perempuan lain untuk berbagi. Awalnya berbagi cerita, lalu berbagi perhatian. Akhirnya bebrbagi kehangatan dan pastinya bebragi nafkah!


Karena punya istri dua akhirnya fokus pada anak tentu saja berkurang. Tiga anaknya dengan istri tua tentu saja tak mendapat perhatian penuh setelah dia punya mainan baru. Pintarnya mainannya tak pernah mau punya anak. Mainannya tak mau mengikat lelaki tersebut dengan anak.


Karena dia tahu buat lelaki tersebut anak bukanlah pengikat. Buktinya anak 3 aja dia tinggal pergi. Terlebih hanya anak dari seorang istri siri! Itu pikiran istri keduanya. Lelaki itu memang benci istri pertamanya karena perhatiannya lebih fokus pada anak-anak dan dia di nomor duakan.


Tentu sebagai pelarian, dia teramaat bodoh bila mengikatnya dengan hal yang paling lelaki itu benci, yaitu berkurangnya perhatian karena ada anak.


“Herry, sudah jelas kan bukan aku pelakunya,” kata Tria saat jam istirahat pertama di sekolah.


“Lalu apa maksudmu?” tanya Herry.


“Ya kita tetap berteman lah, kamu jangan menghindar,” kata Tria.

__ADS_1


“Aku nggak akan menghindar bila kamu berteman seperti teman-teman lainnya. Tidak ada rasa ingin memiliki, tidak ada perasaan lebih. Benar-benar berteman.” ujar Herry tegas.


“Kalau berteman itu tak ada rasa jealous, tak ada rasa cemburu. Tak boleh mengatur aku mau bergaul dengan siapa aja. Aku mau makan dengan siapa aja. Aku mau pulang dengan siapa aja. Itu urusanku. Karena aku juga akan memperlakukan kamu seperti itu. Aku nggak peduli kamu mau makan dengan siapa, nggak peduli kamu mau payungan berdua dengan siapa, nggak peduli kamu akan pergi dengan siapa, nggak peduli semua itu. Karena kita cuma teman,” jelas Herry lagi.


“Baik,” kata Tria pasti.


“Aku akan seperti itu. Aku nggak akan tanya lagi siapa perempuan yang bersama kamu. Aku nggak akan tanya lagi kamu mau ke mana dengan seorang perempuan atau kamu jajan dengan siapa yang penting kita tetap berteman,” kata Tria.


“Silakan aja, kalau kamu nyaman berteman. Tapi tidak lebih dari itu,” kata Herry.


“Baik. Ayo kita berteman,” kata Tria dia mengulurkan tangannya/


Tanpa ragu Herry pun menyambut uluran tangan itu, karena dia hanya ingin berteman tanpa rasa apa pun, walau dia senang dengan atensi yang Tria berikan. Tetapi dia juga risih dengan segala batasan yang Tria ajukan. karena Tria sering melarang dia bergaul dengan seorang perempuan atau makan dengan siapa atau ke perpustakaan dengan siapa itu yang membuat Herry merasa terbelenggu.

__ADS_1


__ADS_2