
“Mama mulai curiga saat uang operasional Papa tidak ada lebih sama sekali. Biasanya seboros apa pun Papa masih setor buat tambahan uang modal usaha di luar uang gaji. Ini Papa hanya setor uang gaji saja tanpa ada uang tambahan dengan banyak alasan. Itu yang pertama. Mama nggak pernah cium bau apa pun di tubuh Papa atau bagaimana seperti kata orang-orang kalau suaminya selingkuh. Mungkin karena Papa pulang ke Jogja kan enggal langsung dari rumah erempuan itu. Mama hanya perhatikan baju kerja Papa tidak dibawa pulang ke Jogja. Pernah satu kali dua kali baju itu tidak kembali ke Jogja. Lalu beberapa kali ada telepon dari terminal 2 tapi Papa nggak pernah angkat.”
“Akhirnya saat Papa lagi di kamar mandi, Mama coba miscall ke terminal 2. Memang sengaja tidak sampai nunggu dia angkat. Saat itulah ada pesan masuk itu yang menusuk Mama.”
“Pesan apa Ma?” tanya Yanto yang sama sekali tidak tahu ada pesan dari Yani yang dibaca oleh Fitri.
“Pesannya cuma bilang : kenapa A’a miscall. Kangen ya? Katanya aku nggak boleh telepon atau kirim pesan duluan. Ternyata A’a yang telepon aku. Begitu yang Mama baca. Saat itulah dunia Mama sudah runtuh. Bagaimana mungkin Papa punya perempuan lain? Dengan kata-kata itu jelas bahwa dia adalah orang dekat Papa karena Papa melarang dia telepon ke Papa saat Papa ada di rumah.”
“Iya Papa akui Papa nggak pernah kirim pesan apa pun sama dia dan Papa larang dia buat telepon Papa atau menghubungi Papa. Tapi kadang kalau kepepet dia memang kirim pesan minta uang. Entah dengan pengakuan buat berobat atau buat bayar kost dan segala macamnya. Kalau buat bayar kost memang Papa yang langsung bayar. Nggak mau dia yang bayar karena takutnya uangnya tidak sampai ke pemilik rumah kontrakan.“
__ADS_1
“Kalau buat berobat memang Papa kasih tapi juga tidak pernah transfer. Papa kasih saat dia mau berangkat berobat. Papa nggak pernah nganterin dia sama sekali, cuma satu kali saat akhirnya ketahuan bayinya sudah 7 bulan padahal kalau memang dia tidur sama Papa harusnya baru 5 bulan. Itu awal pangkal Papa tahu bahwa bayi itu bukan bayi Papa.”
Mereka pun bangkit dan kembali berjalan ke arah titik nol kilometer Jogja.
“Nah bener kan di sini nggak ada tukang jualan sama sekali,” kata Yanto ketika mereka sampai di titik nol di depan benteng Vredeburg. Mereka pun berfoto-foto.
“Ayo kita jalan lagi sampai alun-alun lor,” ajak Yanto.
“Aalah segini saja jalan jauh,” ujar Fitri.
__ADS_1
“Kita sebagai petani jarang jalan jauh loh. Sekarang kita jalan dari mana ke mana coba di rumah? Nggak pernah jalan. Ke rumah ayah saja kita naik motor,” kata Yanto.
“Iya ya. Kita makin males. Sudah mulai besok, begitu sampai ke Solo kita giat kan jalan Pa. Dari rumah ke sekolah anak-anak, kita jalan saja. Biar membiasakan mereka juga bergerak. Kayanya memang kita harus ubah pola hidup kita,” ucap Fitri.
“Mama masih mending loh, kalau dari rumah ke warung suka jalan bahkan ke tambak suka jalan. Papa tuh sama sekali nggak pernah jalan kaki,” kata Fitri lagi.
“Iya, sejak besok pulang, kita harus ubah kebiasaan kita. Kita banyakin jalan kaki. Jangan apa-apa motor. Selain nggak bergerak juga pemborosan bahan bakar. Itu tidak baik buat bumi kita,” kata Yanto.
“Papa mulai ketularan sama Iyok nih. Apa-apa masalahnya bumi.” ujar Fitri.
__ADS_1
“Bagus kan? Dengan adanya Tria dan Iyok kita memang jadi banyak belajar. Juga selain belajar dari Timah,” kata Yanto.
“Bener. Dari Iyok dan Timah kita belajar, kalau dari Tria aku nggak dapat apa-apa yang buat aku terapkan. Begitu pun dari Herry. Tapi dari Iyok dan Timah banyak input buat kehidupanku sehari-hari.” kata Fitri.