
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Yanto bingung akan menjawab apa. ”Kemungkinan hamil Bu. Sekarang sedang periksa urine sama suster,” jawab Yanto.
“Lah kamu gimana sih anakmu baru 5 bulan. Apa enggak terlalu dekat. Kenapa enggak ikut KB?”
“Enggak apa-apa Bu. Kami memang rencana segera punya momongan. Kami memang hanya menunda tiga bukan pertama agar tidak sundulan. Setelah Daffa tiga bulan kami sama sekali tak mencegah kehamilan Bu. Sejak kehamilan Daffa kami sudah komitmen tidak akan menunda kecuali kalau saat itu Daffa lahir dengan operasi caesar. Kalau caesar memang harus menunda 2 tahun agar jahitan aman Bu.”
“Lalu bagaimana dengan program ASInya?” tanya Gendis.
“Dokter barusan bilang enggak apa-apa. Satu bulan lagi Daffa sudah selesai ASI eksklusif. Jadi bisa diberi tambahan makanan dan Fitri sudah belajar banyak tentang MPASI ini. Insya Allah aman bagi ketiganya. Aman bagi Fitri, Daffa dan adiknya.”
“Oh begitu, baguslah kalau memang itu rencana kalian. Ibu pikir ini kebobolan,” Gendis pun mengerti planning anak dan menantunya.
“Bukan Bu, bukan kebobolan. Ini memang planning kami untuk segera punya banyak anak tanpa ditunda. Ibu tahu kan sejak awal aku sulit punya anak.”
“Nanti begitu sudah dapat 3 kami stop. Kami akan melakukan KB.”
“Kami beraninya memang tiga aja Bu. habis itu berhenti. Sekarang aku nemani Fitri lagi ya Bu. Titip Daffa,” ucap Yanto begitu melihat Fitri keluar dari ruang periksa.
“Iya enggak apa-apa,” kata Gendis. Gendis menjaga Daffa yang tertidur di strollernya. Yanto sekarang mengurangi gendis untuk menggendong Daffa, karena takut Gendis tak kuat pas Daffa berulah.
__ADS_1
Daffa mulai berontak kuat di usianya yang 5 bulan. Yanto takut Gendis tak kuat. Di rumah Gendis juga hanya memangku saja sesekali menggendong dengan kain.
Fitri dan Yanto menunggu dipanggil kembali oleh suster karena dokter sudah menerima pasien lain sambil menunggu hasil urine yang tadi diambil oleh suster.
“Kamu berharap bagaimana Yank?” tanya Yanto.
“Sebenarnya kalimat itu enggak perlu kamu tanyain Mas. Kamu tahu jawabanku. Itu program kita kan?”
“Jadi kamu mau?”
“Kita memang berharap hal ini terjadi kan Mas? Kecuali Mas yang enggak mau,” Fitri sedih bila Yanto tak menginginkan kehamilannya kali ini.
“Ya sudah enggak usah tanya, pasti harapan kita sama,” Fitri lega mendengar jawaban suaminya. Ternyata mereka punya harapan yang sama.
Yanto menggenggam tangan Fitri, dia pun sangat berharap bahwa hasil kali ini positif lagi. Dulu mereka tak sempat periksa awal kehamilan Daffa karena sama-sama tidak tahu. Kehamilan Daffa diketahui saat Yanto kritis dan Fitri pingsan mengira Yanto tak selamat.
“ Ibu Diah Ayu Fitri,” suster memanggil Fitri untuk masuk kembali.
“Saya Sus,” jawab Fitri, lalu dia berdiri ditemani oleh Yanto.
__ADS_1
“Selamat ya Bapak, Ibu. Hasil pemeriksaan Ibu benar-benar sudah positif hamil. Saya rujuk Ibu ke bagian kebidanannya biar diketahui berapa umur kehamilan karena di sana ada alat USG-nya. Kalau di saya kan ini dokter umum jadi tidak ada alat seperti itu,” dokter menulis surat rujukan untuk Fitri periksa di bagian kandungan.
“Apa hari gini masih bisa daftar ke bagian kandungan Dok?” tanya Yanto.
“Saya tidak bisa pastikan, tentu tergantung jumlah pasien hari ini. Cek aja, semoga saja bisa. Biar satu kali jalan,” kata dokter. Dia juga tidak berani bilang dokter kandungan masih menerima tapi dia sudah menulis surat rujukan.
“Ini rujukan dari saya, silakan nanti kasih ke sana saja. Semoga dokter kandungan masih mau menerima tambahan satu pasien,” kata dokter umum tersebut.
“Baik Dok terima kasih,” Fitri dan Yanto segera keluar. Mereka sangat bahagia karena hasil dari dokter umum tadi Fitri memang positif hamil. Hanya belum ketahuan berapa usia kehamilannya.
“Bagaimana?” tanya Gendis yang tak sabar menunggu penjelasan anak dan menantunya. Gendis melihat wajah anak dan menantunya bahagia.
“Alhamdulillah Fitri beneran hamil lagi,” kata Yanto sambil memperlihatkan surat rujukan ke dokter kandungan.
“Alhamdulillah,” jawab Gendis. Dia tentu ikut bahagia dengan khabar bahagia ini.
“Kami harus cek ke dokter kandungan Bu, semoga aja masih diterima. Ibu enggak apa apa ya? Atau mau nunggu di mobil biar dingin?” tanya Fitri.
“Enggak. Ibu tunggu di depan ruang periksa dokter kandungan aja.”
“Oh ya sudah ayo Bu,” Yanto segera mendorong stroller Daffa, sedang Fitri menggandeng Gendis.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok.