
“Terima kasih Eyang sepatunya,” kata Fitri mewakili kedua putranya.
Untungnya kedua sepatu itu pas, dalam artian 1 nomor lebih besar dari nomor yang digunakan anak-anak. Mereka memang terbiasa seperti itu. Beli satu nomor di atasnya, agar masih bisa agak lama dipakai. Kalau beli yang ukuran pas, sebentar saja tidak bisa digunakan karena kaki anak-anak itu cepat besar.
“Tapi ini bukunya mau buat apa ya? Apa mau jualan di sekolah?” tanya Yanto melihat banyaknya buku yang dibelikan oleh Suradi. Tentu dia menggoda ayah mertuanya.
“Aku tadi sudah bilang begitu sama ayah. Ayah itu kalau beliin nggak kira-kira. Makanya aku nggak mau dibeliin ayah,” kata Herry
Suradi hanya nyengir saja di protes oleh anak-anak dan menantunya.
“Iya benar. Kan tadi Mas Herry sudah ngomong begitu ayah nggak percaya. Jadi Aku sarankan saja beliin bukunya adik-adik. Ternyata persis seperti kulakan mau jualan,” kata Timah.
Fitri terbahak mendengar kata-kata adiknya. Dia tidak aneh dengan kelakuan ayahnya. Dulu saat dia masih sekolah pun seperti itu. Bahkan saat masih kuliah dia dibelikan buku tulis kecil yang jarang digunakan oleh mahasiswa. Sebagai mahasiswa biasanya menggunakan notebook yang ukuran midi atau maxi. Jarang menggunakan buku tulis kecil seperti anak SD dan SMP. Anak SMP saja sudah pakai buku yang midi, nggak mau buku tulis kecil biasa.
“Tadi aku ngelarang ayah milihin modelnya buat kita. Ayah bilang pasti kuno. Sebenarnya bukan kuno sih karena sudah SMP saja kita nggak ada yang pakai buku tulis kecil seperti itu,” kata Herry.
__ADS_1
Iya nih Ayah nggak update,” kata Timah pada Suradi.
“Nanti sampai kelas berapa ya anak-anak pakai buku tulis ini? Ayah sudah nggak usah beliin lagi. Ini banyak banget tahu Yah. Pelajaran anak kelas 1 SD, cuma menulis sama berhitung yang pakai buku tulis. Buat apa buku sebanyak itu?” kata Fitri lagi. Gendis dan Erlina tertawa terbahak karena memang kelas 1 SD hanya menulis dan berhitung. Pelajaran lain belum ada. Sedangkan Suradi membelikan 5 pak buku yang kemasan kodian. Atau 5 X 20 buku. Bisa kebayang kan kapan habisnya buku-buku tersebut?
Hari ini Tria datang bersama Satrio. Dia mau datang karena sudah ada Fitri tentunya. Dia membawakan satu ekor anakan kelinci Holland loop betina berwarna putih polos khusus untuk Timah.
“Wah terima kasih ya, aku dikasih putih polos. Nanti pasti anakannya bagus bila bertemu dengan si hitam jantan. Kayaknya aku pengen nambah jantan 1 berwarna putih polos deh,” kata Timah lagi.
“Besok ambil saja di kandang,” jawab Tria enteng.
“Okelah, aku menurut kalau tutorku yang ngomong seperti itu,” jawab Tria lagi.
“Iya memang semuanya harus kamu tulis seperti itu. Kelinci yang kamu bawa sekarang ini, kamu harus tuliskan juga di bukumu bahwa kamu berikan sebagai hadiah. Jadi nanti pegawaimu itu nggak bingung dengan jumlah produksi dan jumlah yang keluar. Baik terjual, mati maupun diberikan free.”
“Oh iya, ya Mbak. Aku salah ya?” kata Tria begitu mendengar penjelasan Fitri. Dia sadar kekeliruannya.
__ADS_1
“Nggak salah, hanya kurang tepat,” kata Yanto.
“Iya Mas, itulah gunanya kita selalu belajar,” jawab Satrio. Dia senang mendapat teguran seperti itu. Dari percakapan setiap hari dia banyak mendapat input dari keluarga ini.
“Aku mau pamer,” kata Tria.
“Pamer apa?” jawab Fitri antusias. Pamer dalam kingkup mereka pasti positif, jadi bukan pamer hal negatif. Tentu semua akan antusias.
“Hari ini masak rica-rica yuk, Mbak. Ada kan bahannya dassarnya. Aku sengaja nggak bawa ayam dari rumah. Karena nanti sama saja bohong di sini banyak banget ayam di kulkas,” ucap Tria tanpa ragu mau pakai bahan masakan dari kulkas di rumah ini.
“Kalau stock ayam di kulkas habis, ya tinggal potong koq,” jawab Timah pemilik ayam.
“Kayanya semua ada bahannya. Kamu perlu jahe sama cabe rawit dan kemangi kan? Ada semua. Ayo aku tunggu hasil karyamu. Biar aku tinggal makan hari ini,” kata Fitri mensupport kegiatan Tria. Pamer seperti ini memang selalu disupport.
“Asyiiiiik, aku jadi ngerasain deh rica-rica buatanmu,” kata Timah.
__ADS_1
“Satrio. Ayo kita ke belakang sama jagoan-jagoan. Biarin para perempuan masak di sini,” ajak Yanto. Hari ini dia memang masih belum berangkat bekerja.