BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
MAMAS HEBAT


__ADS_3

“Untuk minta permohonan maaf tentu tidak mudah, kita tetap harus minta bantuan penguatan dari pengacara atau aparat. Karena tentu pihak sana enggak mau terima kita begitu aja, karena setahu Ibu Bambang juga sudah bilang semua diurus pengacaranya. Jadi kita enggak bisa hubungi Diah atau Bambang. Bambang tidak akan menjawab persoalan secara personal, begitu yang Ibu tahu,” kata Menik.


“Ya kalau gitu kita cari nomor pengacaranya aja, kita langsung hubungi dia kalau kita sudah punya pengacara,” Aisy pun sibuk search pengacara yang bisa dia hubungi.


“Besok kita coba hubungi nomor pengacaranya Bambang, karena hari ini sudah terlalu sore bila kita menghubungi dia,” jawab Menik. Saat itu memang sudah hampir maghrib.


Seharian ini Aisy dan Menik terus menghubungi nomor pengacara yang mereka dapatkan dari kantor polisi. Ternyata nomor tersebut tak bisa diakses karena hari libur, baru bisa dihubungi nanti hari Senin.


Hari Minggu ini sejak pagi gerimis. Suradi padahal sudah ingin mengajak kedua anaknya untuk jalan-jalan di mall.


Yanto tetap sibuk dengan segala macam perbaikannya Gendis dan Erlina masak. Keduaa ibu sengaja membuat nasi bakar untuk makan siang.


“Jangan terlalu besar Mbak, nanti enggak habis mendingan kecil-kecil. Mereka bisa makan dua bungkus kalau kurang,” begitu usul Gendis.


“Iya ya. Lebih-lebih kan kalau nasi bakar itu padat. Jadi sebenarnya porsinya sudah banyak.” Erlina setuju dengan usulan besannya.


“Ya Mbak enggak usah besar-besar,” ucap Gendis sambil menyiangi daun pisang yang akan digunakan sebagai bungkus nasi. Mereka membuat nasi bakar ayam yang pedas juga nasi bakar ayam bumbu kecap. Jadi yang tidak kuat pedas ada pilihan.

__ADS_1


Hari itu ada juga sambal dabu-dabu yang Yanto inginkan dia akan membuat ikan bakar dari patin yang dibawa oleh Herry. Tentu cocok dengan nasi bakar yang dibuat oleh Erlina dan Gendis.


“Dek kita bikin bebakarannya di luar aja yuk,” ajak Yanto pada Herry saat dia sudah selesai membetulkan beberapa kerusakan yang dilaporkan oleh para penghuni kost.


“Emang ada alat bakarnya Mas?” tanya Timah sebelum Herry merespon.


“Ada Dek, kita punya alat bakar sate yang panjang dan besar. Itu saja kita pakai,” jawab Yanto.


Yanto dan Herry segera menyiapkan bara untuk membakar ikan patin yang sudah sejak tadi dimarinasi.


“Kalian bikin apa?” tanya Fitri yang mendekat dengan Daffa.


“Sini sayang, Papa ajarin. Tapi kalau tidak sama Papa, atau Mama dan Paman Herry enggak boleh ya?” Yanto memberikan penjepit arang lalu dia arahkan tangan Daffa untuk menjepit. Daffa tertawa terbahak-bahak ketika bisa menjepit satu buah arang.


“Yeaaay, Mamas hebat,” kata Fitri memberi pujian putra sulungnya.


Semua memberi apresiasi pada kehebatan Daffa menjepit arang. Timah diam-diam membuat video proses menjempit arang tersebut.

__ADS_1


“Cucunya Eyang hebat ya bisa jepit arang,” puji Suradi melihat kelakuan cucunya. Buat orang dewasa menjepit arang adalah suatu hal yang biasa tapi tidak pada anak berusia 2 tahun. Jadi memang harus diapresiasi.


“Nah sudah jadi nih Dek. Bilang ibu biar nasinya kita bakar di sini aja jangan di teflon,” Yanto menyuruh Timah meminta nasi yang telah dibungkus.


Tentu saja Erlina dan Gendis tak keberatan nasinya dibakar di bara api, proses itu akan menambah aroma asap membuat nasi bertambah sedap.


“Ma Daffanya bawa sana. Ini sudah matang ikannya, suapin dia duluan,” pinta Yanto pada Fitri. Dia berikan 1 ekor ikan yang telang matang dibakar.


“Iya Pa,” jawab Fitri sambil menerima satu piring berisi satu ekor patin yang sudah matang dibakar oleh Herry.


“Ayo Mas Daffa, kita maem dulu,” ajak Fitri pada Daffa.


“Wah Adek bangun ya?” kata Fitri saat dia masuk ke ruang tengah. Ternyata Gendis sudah menggendong Daanish.


“Ayo Dedek makan juga ya sama Mama. Sini Mama yang suapin bareng Mamas.” hari ini bu Yati tidak ikut ke rumah kota, jadi memang semuanya dikerjakan oleh Fitri sendiri. Dia menyuapi dua putranya dengan ikan bakar secara hati-hati agar tak ada duri yang tertelan oleh kedua putranya.


__ADS_1



![](contribute/fiction/7055660/episode-images/1691038607285.jpg)


__ADS_2