
“Semua sudah sesuai dengan punya kita tadi? Sesuai permintaan masing-masing?” tanya Tria pada Herry.
“Aku kan hanya taruh sesuai dengan yang tadi dipilih aja. Ini salah apa nggak?” tanya Herry.
Memang semua permintaannya beda-beda termasuk dengan Mas Pujo yang sekarang sudah di ultimatum oleh Herry tidak boleh bilang terserah, sehingga Mas Pujo pun ikut memilih tadi.
“Ya sudah kalau sudah betul. Jangan lupa potongin cabe rawitnya Mas. Pakai gunting aja biar cepat,” kata Tria.
“Siap bos lalu, daun bawangnya mau kamu tambahkan di air atau bagaimana?” tanya Herry. Dia deg-degan karena mendengar barusan Tria salah ucap memanggilnya dengan panggilan MAS.
“Rawit sama daun bawangnya ditabur di atas aja, nggak usah di taruh di air, jadi biar airnya enggak pedas,” ucap Tria.
Tria sudah hafal banyak sedikitnya air kecuali punya Harry karena temannya itu baru satu kali ini makan mie bareng dengan mereka. Sehingga punya Harry mienya dibikin tanpa kuah. Baksonya di mangkok kecil terpisah agar tidak salah. Karena selera orang itu tidak sama.
__ADS_1
“Sip sudah selesai nih,” kata Tria.
“Sini aku yang bawa. Aku taruh bungkusnya di bawah mangkok sehingga mereka tidak salah ambil,” kata Herry. Dia juga tidak mau disalahkan atau ditanya yang punya Timah yang mana yang punya Satrio yang mana. Karena dia pasti akan lupa. Jadi kalau ada bungkus di bawah mangkok tentu tidak akan salah.
“Mas Pujo ini mie kamu. Kerupuknya ambil sendiri. Lalu tadi Harry bawa banyak snack yang sama dengan kerupuk, jadi bisa buat cemilan juga,” ucap Herry pada Pujo.
“Iya Mas Herry. Nanti tak ( saya ) ambil sendiri. Tenang aja yang penting aku akan ambil kerupuk,” kata Pujo.
“Sudah sambil mikir kita makan dulu,” kata Herry. Tadi dia dan Tria menyiapkan mie sesuai pilihan masing-masing dan membiarkan Satrio dan Timah bicara dengan Harry. Tentu saja Pujo sesekali membantu bila dipanggil oleh Tria.
“Kami bertiga ini maniaknya mie. Segala jenis mie kami suka. Daripada kami selalu beli mie ayam atau mie di rumah makan, kami lalu berinisiatif beli macam-macam mie instan untuk kami olah sendiri,” kata Satrio.
“Kok cuma bertiga?” tanya Harry.
__ADS_1
“Kan Mas Herry baru masuknya. Kami lebih dulu bertiga,” kata Tria. Tak sadar dia menyebut Herry dengan kata-kata Mas sejak tadi. Mungkin untuk menyamakan diri dengan Timah. Tapi tanggapan Herry tentu beda dia dipanggil Mas oleh gadis yang dia sukai.
‘Aku kira saat sedang masak tadi dia salah ucap. Ternyata memang dia panggil aku Mas. Artinya dia mengakui aku lebih tinggi darinya,’ ucap Herry dalam hatinya yang bahagia.
“Kamu dekat banget ya sama Andre,” kata Harry pada Tria. Tak sadar itu melukai Herry.
“Pasti kami sangat dekat lah. Dia memang pria terbaik buat aku. Semuanya aku ceritakan sama dia, kamu nggak tahu aku punya latar belakang keluarga yang tidak baik. Jadi sejak dulu, sejak kecil aku selalu cerita sama kak Andre. Dia yang tahu apa yang aku mau. Tetapi tentu saja dia tidak memberi solusi. Dia hanya mendengarkan, mendengarkan dan mendengarkan saja. Aku dapat solusi setelah bicara dengan Timah dan itu tidak instan. Aku konsultasi dengan Timah itu butuh waktu 2 bulan baru mengerti apa yang aku mau dan apa yang aku ingin capai.” balas Tria.
“Wah lama juga ya?” kata Harry.
“Aku juga dicambuk Timah 1 bulan penuh. Aku dicambuk baru aku mengerti apa yang ingin aku capai. K alau aku nggak dicambuk aku nggak berada di sini,” kata Satrio senang.
“Jadi aku nggak mungkin kan cuma satu kali ini aja konsultasi sama Timah” kata Harry.
__ADS_1
“Aku sebenarnya bukan konsultasi sih. Kita tuh cuma sharing. Kadang apa yang tidak bisa kita ungkapkan pada orang lain, bisa kita ceritakan pada beberapa orang. Seperti tadi Mbak Tria bilang dari dulu dia selalu cerita sama kak Andre. Tapi kak Andrenya tidak memberi solusi. Saat dia bicara dengan aku, ternyata aku punya pendapat lain. Itu aja. Jangan bilang konsultasi lah. Kayaknya terlalu tinggi,” jawab Timah merendah.