BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
APA YANG PERLU DIMAAFIN?


__ADS_3

“Pa, aku mau minta maaf. Tolong jangan seperti ini,” pinta Fitri.


“Minta maaf buat apa? Dan seperti ini apa yang kamu maksud?”


“Meminta maaf karena aku salah tidak bertanya dulu sama Mas. Bahkan Mas mau cerita pun aku tidak memberi kesempatan untuk bicara. Aku yang salah kok, karena tidak memberi Mas kesempatan bicara untuk menjelaskan semuanya,” jelas Fitri.


“Kamu tidak salah kok. Sudah tenang aja,” kata Yanto. Dia langsung berdiri dan hendak membuat kopi.


“Mas tidak maafin aku?” cecar Fitri.


“Kamu tidak salah, apa yang perlu dimaafin?”


Fitri diam. Yanto berarti memang sudah terluka tidak mau memaafkan dengan dalih mengatakan bahwa Fitri tidak bersalah.


“Lalu bagaimana agar rumah tangga kita seperti dulu lagi? Aku yakin Mas sangat marah kok. Buktinya Mas diam aja,” desak Fitri.


“Enggak ada yang marah, sudah kamu istirahat aja,” kata Yanto.


“Mas bisa mendekat enggak?” pinta Fitri.


 Yanto meletakkan cangkir kopinya, dia lalu mendekat pada istrinya.

__ADS_1


“Kalau Mas memang enggak marah peluk aku,” pinta Fitri.


 Yanto ragu melakukannya tapi dia memenuhi permintaan Fitri. Dia peluk istrinya erat lalu dia kecup keningnya.


“Sudah ya istirahat aja, enggak usah banyak pikiran biar cepat sembuh,” kata Yanto. Dia memperhatikan cairan infus yang sebentar lagi hampir habis dan harus diganti.


Fitri merasakan dekapan Yanto tidak sehangat seperti biasanya dan saat Yanto mengecup keningnya dia merasakan bibir suaminya sedikit bergetar seakan ada keraguan untuk mengecup istrinya sendiri.


Yanto melihat ada air di pelupuk mata istrinya.


“Hei kenapa menangis? Sudah Mas enggak apa-apa kok. Tenang aja. Kamu istirahat ya. Sebentar lagi infusnya dibuka,” kata Yanto.


Tapi Yanto juga tak berani mencium dan mendekap erat seperti biasa mengingat bagaimana Fitri telah sakit hati pada dirinya.


15 menit kemudian Yanto baru berjalan ke kantor suster di pavilion tersebut. “Suster kamar 3 infusnya sudah mau habis,” lapor Yanto.


“Baik Pak. saya akan buka karena saya lihat daftarnya bukan ganti botol cairan tapi buka ya?”


“Ya suster, memang jadwalnya buka karena istri saya sudah selesai infus.”


“Baik. Sebentar lagi kami akan ke sana. Kami siapkan alatnya dulu,” kata suster.

__ADS_1


Yanto pun keluar ruangan suster. Yanto masuk bersamaan dengan suster. Dia tak mau masuk sendirian. Ternyata Fitri belum tidur.


“Wah Ibu kok belum tidur?” kata suster sambil tangannya bekerja.


“Iya Sus. Tanggung kan mau digantiin infus, jadi saya nunggu sampai selesai ganti infus dulu baru tidur,” jawab Fitri sambil tersenyum.


Suster pun cepat bertindak membuka infus dan sekarang telah selesai.


“Nah sekarang lumayan satu tangan Ibu sudah bisa bergerak bebas walau satu tangan masih agak sulit karena ada gips ya Bu.” Suster membereskan alatnya.


“Iya Suster. Terima kasih.”


“Sekarang tidur ya, sudah dibuka infusmu,” kata Yanto. Lelaki itu membetulkan selimut istrinya.


“Bisa enggak Mas tidur di sebelah aku sebentar aja? Peluk aku sampai aku tidur.” pinta Fitri.


Yanto pun mengabulkan permintaan istrinya, dia tidur di sisi pembaringan ranjang pasien dan memeluk istrinya. Dia usap-usap kepala Fitri hingga istrinya terlelap.


“Mas tak pernah ingin kamu terluka. Mas tak pernah ingin kamu sakit hati. Apa pun yang kamu mau akan Mas turuti,” kata Yanto berbisik pelan pada istrinya yang sudah tidur. Dia kecup kening istrinya.


Yanto tak tahu kalau saat itu Fitri belum benar-benar terlelap dan mendengar semua bisikan itu.

__ADS_1


__ADS_2