BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TAK INGIN DIA TERSAKITI


__ADS_3

Ibu yakin cinta Fitri itu cuma buat kamu tapi dia terluka dengan kelakuan kamu kemarin.”


“Benar Bu. Saya sudah minta maaf sama dia, tapi dia belum membuka hati. Entah bagaimana saya harus minta maaf lagi, saya tidak mengerti. Saya sudah sampai ke titik menyerah Bu. saya menyerah untuk bertahan. Lebih baik saya mundur daripada membuat dia sakit hati.”


“Yang terpenting kalau memang saya sudah tidak menjadi suaminya saya masih boleh mendekati anak-anak dan membimbing mereka sebagai ayah mereka. Itu saja yang saya minta. Saya tidak ingin anak-anak terluka karena perpisahan ini. Kalau memang perpisahan itu yang Fitri inginkan, akan saya kabulkan. Saya tak ingin dia tersakiti seperti sekarang. Dua minggu dia sakit hati pada saya Bu. Saya enggak tega,” kata Yanto dengan tersedu getir. Dia benar-benar sudah pasrah bila rumah tangganya harus berakhir seperti ini. Tentu saja Gendis dan Erlina juga ikut menangis.


Sudah masuk waktu Ashar Tapi Fitri belum sadar juga.


“Ayah ke mushola ya Bu,” pamit Suradi lalu dia berdua Yanto segera menuju mushola rumah sakit.


Habis salat dan zikir Yanto membeli 4 kotak nasi juga teh dan kopi panas. Dia ingat tadi mereka berangkat belum waktunya makan siang.     Pasti semua terlupa makan karena lebih memikirkan kondisi Fitri. Yanto takut para orang tua itu malah sakit karena telat makan.


“Ibu, Ayah makan dulu. Tadi ke sini sebelum waktu makan siang kan, karena konsen pada Fitri maka semua telat makan. Sekarang makan dulu agar tidak sakit,” Yanto menyerahkan kotak nasi dan 3 gelas teh panas. Kopi telas dia minum lebih dulu.


“Maaf saya mau pulang dulu mau urus anak-anak. Bu Yati dan anak-anak akan saya bawa ke rumah kota aja biar lebih dekat saya memantau mereka. Kalau harus bolak-balik ke rumah desa jauh. Saya sulit memantau mereka sedang mamanya ada di sini,” Yanto mohon pamit mengurus anak-anak di rumah.


“Oh ya benar, anak-anak taruh di rumah kota aja,” jawab Erlina.

__ADS_1


“Kamu makan dulu Nto,” Kata Erlina.


“Nanti saya makan di rumah sekalian Bu,” Yanto sama sekali tak niat untuk makan.


Sambil berjalan ke parkiran Yanto telepon ke bu Yati agar mempersiapkan pakaian bu Yati juga keperluan anak-anak karena mereka harus tinggal di rumah kota. Yanto juga menerangkan bahwa Fitri sedang dirawat di rumah sakit.


Herry dan Timah langsung sangat sedih mendengar kakak ipar mereka kecelakaan.


“Selama kami enggak ada kalian makan bisa sendiri kan? Tinggal keluarin yang ada di freezer aja dipanasin. Masak nasi kan kalian bisa. Pahit pahitnya kalian bisa goreng telur, sosis atu nugget,” pesan Yanto pada kedua adiknya.


“Iya Mas, enggak usah khawatirkan kami. Aku bisa kok masak,” jawab Herry.


“Herr jangan lupa kamu suruh pegawaimu untuk ngurusin rumah Ayah Suradi baik urusan kebun maupun makan ternaknya.”


“Iya Mas, aku akan perintahin Pak Tarno untuk kembali bertugas di sana setiap hari,” jawab Herry. Timah tak bersuara sama sekali. Dia hanya menangis dalam diam.


’Fitri sudah sadar, begitu kamu berangkat,’  Yanto membaca pesan dari Suradi.

__ADS_1


‘Alhamdulillah,’  hanya itu jawaban Yanto. Dia tak ingin bergegas ke rumah sakit. Percuma juga dia ke sana kalau sikap Fitri masih tetap beku seperti biasa. Lebih baik dia mundur agar Fitri lebih tenang.


“Mas berangkat ya,” pamit Yanto.


“Herry kamu benar-benar jaga adikmu dan makan jangan hanya ceplok telor kamu juga bisa numis kan siapa yang sempat diantara kalian aja jangan saling lempar tugas. Harus ada masakan. Sayuran di kulkas masih ada gunakan itu dulu enggak perlu belanja lagi, sayang kalau yang sudah ada terbuang.”


“Iya Mas, aku akan masak,” jawab Herry.


Yanto membawakan beberapa baju Fitri yang mudah digunakan dengan kondisi tangan diinfus dan di gips. Dia membawakan kemeja dam celana panjang longgar untuk Fitri.


Selain itu dia juga membawakan pakaian dalam dan semua kebutuhan Fitri yang biasa digunakan sehari-hari. Dia masukkan dalam satu travel bag termasuk alat mandi dan sandal jepit.


Yanto juga membawa beberapa baju untuk dirinya berganti di rumah sakit.


“Sampai di rumah kota anak-anak langsung dikasih makan ya Bu. Biar Daffa saya yang suapin, nanti Ibu urus Daanish,” kata Yanto saat mereka baru masuk mobil.


“Injih Mas Yanto, saya juga sudah bawa lauknya anak-anak. Takut di sana belum siap karena kan enggak tahu kita datang.”

__ADS_1


“Iya buat malam ini harus siap bawa makanan dari rumah kalau besok pagi sudah bisa langsung masak makanan di sana,” jawab Yanto.


Sampai malam Yanto belum berniat ke rumah sakit padahal sekarang sudah jam 09.00 malam. Dia tiba di rumah kota saat salat isya tadi. Langsung urus Daffa yang telah terlambat makan.


__ADS_2