
“Alhamdulillah,” jawab Gendis mengetahui putri bungsunya bisa mendapat beasiswa karena prestasinya.
“Ibu senang atas prestasimu, bahkan bisa dibilang sangat senang dan bangga. Tapi kalau soal kamu sekolah di kota bukan ibu larang. Masalahnya kamu akan tinggal dengan siapa sedang sekarang Bu Lina dan ayah sudah tinggal di sini?”
“Kalau Bu Lina dan ayah masih tinggal di kota, Ibu enggak akan berpikir dua tiga kali. Langsung akan Ibu izinkan walau berat. Setidaknya kamu masih ada orang tua di sana. Tapi dengan kondisi ayah dan Ibu Lina sudah di sini, mohon maaf. Ibu tak bisa kasih izin karena anak itu adalah amanah titipan Allah. Enggak mungkin Ibu sembarangan memberikan izin kalian jauh dari pengawasan Ibu.”
“Dulu Mas Yanto bisa sekolah di kota itu dengan perdebatan panjang antara Ibu dan ayahmu. Dan ayah berhasil membuat Ibu percaya kalau itu adalah jalan terbaik buat Mas Yanto. Sekali lagi mohon maaf, bukan Ibu melarang kamu sekolah di kota, melainkan karena Ibu tidak ingin kamu tinggal jauh.”
“Kamu bisa ambil beasiswa itu dengan catatan tetap tinggal di sini. Kalau kamu mau wira-wiri jauh, silakan Ibu kasih izin. Sekarang kan transportasi lebih mudah tidak seperti waktu zaman mas Yanto dulu sehingga harus kost.”
__ADS_1
“Kamu pikirkan dulu kamu mau repot wira wiri atau tidak. Kalau tidak ya sudah, sekolah di desa saja,” kata Gendis.
Akhirnya semua diskusi bagaimana jalan terbaik untuk persoalan yang dihadapi oleh Timah saat ini.
“Tiap pagi Mas bisa antar kamu sampai ujung desa. Nanti dari sana kamu tinggal naik angkot satu kali sampai sekolahmu. Kita berangkat bareng pagi-pagi sekali, masih keburu kok. Mas juga enggak akan terlambat,” Herry memberi alternatif bila Timah tetap ingin sekolah di kota.
“Nah sekarang kita pikir bagaimana pulangnya. Karena Mas sulit kalau harus membagi waktu dengan kamu. ‘Kan tidak setiap hari jadwal pulang Mas itu tetap. Kadang Mas sering mampir sana mampir sini buat cari pakan atau hal apa pun selain kegiatan ekstra kurikuler.”
“Kalau pas Herry enggak bisa, kamu tinggal janjian dengan Mas Yanto. Kamu bisa ke bengkel nanti bisa pulang bareng sama Mas Yanto. Itu kalau kamu tetap mau sekolah di kota,” dukung Fitri.
__ADS_1
“Silakan kalau itu mau kamu tempuh selama 3 tahun. Mas enggak keberatan. Yang penting kamu tetap sekolah dengan baik. Kalau jam kerja Mas kalian tahu fleksibel, tapi bukan berarti tiap hari bisa selalu pulang bareng. Karena kadang Mas harus keluar bengkel cari barang,” kata Yanto.
Semua tahu Yanto sama sekali tak melarang Timah akan berjuang dengan susah payah untuk pulang pergi sekolah.
“Bagaimana Bu?” tanya Yanto.
“Ibu setuju saja kalau memang tetap mau sekolah di kota seperti itu. Enggak ada salahnya bersusah payah,” jawab Gendis.
“Alhamdulillah kalau memang Mas Herry dan Mas Yanto mendukung untuk aku pulang pergi. Aku akan tetap ambil beasiswa tersebut. Bukan karena tidak bayar sekolah atau hal apa pun. tapi setidaknya aku bisa menjadi lebih baik kalau sekolah di sekolah unggulan tersebut.”
__ADS_1
“Aku tahu kalau aku ambil sekolah di kota, hanya SPP saja yang gratis, tapi biaya harianku bisa 2X lipat dari biaya SPP satu bulan di sekolah itu. Jadi bukan soal gratisan SPP yang aku kejar.” ucap Timah yang rupanya pikirannya sudah lebih jauh daripada anak lulusan SD selevelnya.