BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
ADAM, PUTRI DAN MAWAR


__ADS_3

“Ceritain! Tadi kan Mas janji mau cerita kenapa Mas senyum-senyum,” Fitri menagih janji suaminya.


“Oh, tadi foto yang kamu buat pakai ponsel Mas, itu Mas oper ke nomor bengkel. Kamu lihat aja di sana, kan grup sekolah adanya di nomor itu,”  kata Yanto santai.


Penasaran Fitri pun membuka ponsel usaha mereka, dia pun tak menyangka apa yang suaminya lakukan.


“Mas usil banget sih,” kata Fitri.


“Mereka itu pasti lagi nyusun sesuatu. Mereka pasti janjian mau menjebak kamu atau menjebak Mas. Kalau sekarang mereka sudah dibuka seperti itu pasti teman-teman akan tambah mencibir, biarin aja.”


“Aku makin bangga tapi makin takut lho Mas,” kata Fitri serius.


“Mas nggak ngerti maksudmu apa dengan kata bangga tapi takut,” ucap Yanto.


“Bangga ternyata suamiku itu idola gadis-gadis pada zamannya, ternyata sampai sekarang dia tetep aja digila-gilai perempuan-perempuan itu. Takut ya karena nggak berharap serangan mereka aja. Kalau mereka serangannya biasa sih nggak apa-apa. Tapi kalau serangan luar biasa kan aku nggak bisa halau,” ucap Fitri.

__ADS_1


“Kalau serangan normal Mas yakin kamu mampu, sama seperti waktu kita kondangan dulu di resepsinya Burhan buktinya kamu bisa jawab temen kamu itu atau waktu Aisy datang ke bengkel kamu bisa jawab.”


“Kalau serangan nggak normal Kamu pasti bisa tahu dong kita udah dijaga pagar, jadi yah kita tenang aja lah. Hanya semua harus diantisipasi aja,” jawab Yanto.


“Kita udah dijaga tetap aja Herry kecolongan. Soal kayak gitu itu kan kelihatan nggak kelihatan Mas. Jadi nggak bisa kita yakin penuh. Yakin hanya kepada Allah kan,” kata Fitri.


“Ya paling tidak kan tetap harus ada penjagaan. Kita bilang lillahi ta'ala tetap aja orang berbuat di luar itu jadi memang harus tetap berjaga.”


“Aku nggak bisa bayangin deh kalau Mas sama dengan laki-laki lain. yang mudah tergiur oleh perempuan di luaran sana,” ujar Fitri.


“Seandainya para pelakor itu sadar. Ada hal penting dari hubungan antara seorang lelaki dengan seorang pelakor yang mau tidak mau harusnya dijadikan pijakan dan seharusnya bisa membuka otak agar waras,” kata Fitri.


“Apa maksudmu Ma?” tanya Yanto.


“Seorang lelaki kita sebut aja ADAM akan dengan mudah mengangkat telepon istrinya kita sebut aja PUTRI misalnya di depan selingkuhannya yang kita sebut MAWAR.”

__ADS_1


“Adam juga dengan mudah cerita apapun tentang Putri pada Mawar. Entah itu keburukannya, entah itu kecantikannya, entah itu kebaikannya, entah itu kepintarannya, atau banyak hal lain.”


“Sebaliknya di depan Putri, TAK SATU KALI PUN nama Mawar disebut. Baik kepintarannya, kecantikannya, kehebatannya di ranjang apalagi. Tak akan pernah Adam menyebut nama Mawar di depan Putri.”


“Itu bedanya istri dan pelakor di mulut suami atau seorang laki-laki yang punya selingkuhan,” jawab Fitri.


“Bener banget Yank,” kata Yanto.


“Bodohnya banyak perempuan mau menjadi Mawar, tak sadar yang memiliki si Adam adalah Putri!”


“Mas kita mau cerita nggak ke Herry soal yang tadi Suryo kemukakan?” Fitri menukar bahasan.


“Nggak usah. Kita nggak usah bicara apa pun ke Suryo eh ke Suryo ke Herry, soal yang Suryo tangani. Biarin aja Herry nanti tahunya di sidang.”


“Kalau begitu oke, aku juga manut aja. Semoga aja segera selesai persoalan ini biar nggak berlarut-larut.

__ADS_1


“Aaamiiin,” jawab Yanto.


__ADS_2