
“Maaf ya Mas aku pas besok ada acara di sekolah,” kata Timah pada Herry penuh penyesalan.
“Nggak apa-apa, karena acaramu kan mendadak padahal acara Mas kan sudah diatur dari 2 minggu lalu,” kata Herry dengan penuh pengertian. Timah tentu tak enak karena besok di rumahnya akan ada acara syukuran kecil-kecilan panennya Herry berhasil dan juga syukuran karena Herry sudah memenangkan pengadilan terhadap orang yang mencoba merusak tambaknya.
“Besok aku bisa berangkat sendiri kok, Mas konsentrasi penuh saja di acara,” kata Timah.
“Nanti Mas antar saja,” kata Yanto.
Besok Suradi mengadakan acara makan siang di saung tambaknya Herry. Yang hadir adalah Bu Nurbaiti, Suryo, Tria, serta beberapa pegawai di tambak Herry beserta keluarganya juga ada perangkat desa yang diundang Herry dan keluarga ayah Suripto dan bu Gendis serta keluarga ayah Suradi yang tinggal di Solo. Keluarga yang jauh tak di beritahu.
Ternyata Yanto juga mengundang Burhan untuk belajar bagaimana peternakan kambing juga peternakan ayam skala rumahan milik ayah Suradi selain tambak tentu saja.
“Serius kambing itu milik adikmu yang masih SMP?” tanya Burhan dengan mata berbinar takjub.
“Ya, dia mengelolanya sejak kelas 5 SD.” kata Yanto. Suryo tak percaya anak perempuan kelas 5 SD sudah minta kambing untuk diternakan daripada dibelikan sepeda.
__ADS_1
“Nggak salah itu anak perempuan kelas 5 SD minta kambing?” tanya Suryo.
“Begitulah. Sekarang dia baru SMP kelas 1 tapi tak ada di rumah karena Herry ini dia ikut lomba antar sekolah. Dia mewakili sekolahnya padahal ada siswa kelas 2 dan kelas 3. Tapi entah mengapa yayasan meminta dia untuk turun lomba,” kata Herry dengan bangga pada Suryo.
“Wah aku jadi pengen kenal anak jenius itu,” ucap Suryo penasaran.
“Nggak jenius sih. Dia biasa saja,” kata Yanto. Tapi ya memang seperti itulah. Kadang-kadang kita nggak mengerti apa yang dia tangkap. Banyak ilmu baru yang aku dapat dari dia,” kata Yanto.
“Hebat sekali ya, SMP kelas 1 ikut lomba antar sekolah. Yayasannya apa nggak salah pilih?” kata Bu Nurbaiti.
“Pasti sekolahnya punya pandangan lain. Hebat! Aku salut pada anak seperti itu,” kata Suryo lagi.
Suryo juga sama. Dia tak pernah sampai di kelas akhir. Dia tak pernah duduk di kelas 6 SD, apalagi SMP kelas 3 dan SMA kelas 3. Tak pernah! Jadi usianya masih sangat muda tak jauh dari Herry belum tua-tua amat. Otaknya otak tua eh dewasa.
Suryo 6 tahun di atas Herry, tapi dia bukan fresh graduate. Dia sudah 2 tahun sarjana hukum dan sekarang sedang mengambil master. Otaknya benar-benar di luar dugaan.
__ADS_1
Seperti yang kemarin dilakukan pada ayahnya Tria dia selalu memancing seperti itu tak perlu capek-capek semua masuk perangkapnya sehingga dia sangat mudah membuka suatu kasus.
“Nanti suatu saat kenalkan aku dengan adikmu ya,” kata Suryo pada Herry
“Siap,” jawab Herry.
“Tria sini kamu. Mau makan apa?” tanya Gendis lembut dan ramah.
“Sudah Bu. Nggak apa-apa, saya ambil sendiri.” jawab Tria. Dia di undang Timah, tapi Timah tak memberitahu kalau dia harus pergi. Sehingga Tria baru tahu saat dia telah tiba di rumah Timah.
“Kamu jangan malu-malu, sini sama Mbak,” ajak Fitri.
“Mohon maaf ya, Timah tiba-tiba tak bisa menemui kamu karena dia tadinya juga bukan peserta inti, tapi kepala yayasan minta dia yang berangkat untuk menjadi peserta inti. Baru kemarin malam dia bilang padahal dia sudah janji dengan kamu,” ucap Fitri.
“Nggak apa-apa kok Mbak. Saya tetap senang bisa diterima di keluarga ini,” jawab Tria. Dia benar-benar mengatakan dengan jujur sangat senang mengenal Fitri juga Gendis dan Erlina. Semua perempuan ini memeluknya dengan kehangatan tanpa kepura-puraan. Tria benar-benar direngkuh sehingga merasakan kehangatan keluarga. Tak apa dia dari tadi tak bicara dengan Herry. Dia pun tak peduli yang penting dia punya kakak dan dua ibu yang sangat baik juga dia punya dua keponakan kecil yang gemoy.
__ADS_1