
“Enggak ketemu Mas Herry, Mbak?” tanya Timah ketika Tria baru saja masuk ke halaman rumah gadis kecil itu.
“Enggak Dek,” jawab Tria dengan senyum. Dia membawa sedikit kue basah yang tadi dia beli di bakery yang dia lewati.
‘Untung aku menunda masuk saat dari jauh aku melihat Herry bersiap berangkat. Aku tadi berhenti cukup lama untuk menghindari Herry,’ kata Tria dalam hatinya. Saat dia beberapa rumah dari rumah Herry, Tria melihat Herry sedang bersiap-siap di teras. Tria memang menghindari Herry. Dia sama sekali tak ingin bertemu dan Herry mengira Tria datang ke sini untuk bertemu lelaki tersebut.
“Mbak, Dek aku mau bilang sesuatu boleh?” tanya Tria saat mereka sedang di dapur.
“Kenapa?” tanya Fitri.
__ADS_1
“Adik aku ingin kenalan dengan Mbak dan juga Mas Yanto atau Herry. Tapi aku takut langsung bawa dia ke sini, nanti dikiranya aku memanfaatkan kalian padahal Satrio ingin sekali belajar termotivasi seperti aku. Dia ingin mencari teman diskusi,” ungkap Tria.
“Kalau begitu, coba dia suruh bertemu dengan Mas Yanto di bengkel. Biarkan mereka ngobrol di sana,” ucap Fitri.
“Oh oke Mbak. Besok aku akan bilang sama Satrio suruh temui Mas Yanto di bengkel atau besok hari Senin aku antar aja. Aku sama dia pulang sekolah bareng ke bengkel Mas Yanto. Biar aku yang kenalkan langsung,” kata Tria.
“Nah begitu lebih baik. Jadi mereka ada teman bicara yang sudah mereka kenal lebih dulu. Kalau Mas Yanto langsung bicara dengan Satrio tentu mereka juga akan serba canggung. Tapi kalau ada kamu tentu beda.”
“Kamu tanya Mas Yanto dulu. Dia ada jadwal keluar atau enggak. Karena Mas Yanto itu tidak selalu stand by di bengkel. Kadang dia ketemu calon penjual motor atau mobil di luar atau dia sudah ada janji dengan calon penjual atau pembeli di bengkel. Kan nggak mungkin kalian ganggu kalau dia sedang transaksi. Jadi sebaiknya kamu tanya dulu sama dia. Nanti Mbak kasih nomor bengkel yang dia bawa, karena biasanya nomor personal dia nggak mau kasih ke orang lain,” kata Fitri.
__ADS_1
“Ya Mbak. Matur nuwun bantuannya. Aku sangat berharap Satrio juga nggak salah langkah. Dia lagi semangat-semangatnya untuk maju. Kalau salah langkah kasihan,” kata Tria.
Kali ini mereka memang masak pindang patin sesuai dengan keinginan Tria yang mendengar dari temannya kalau ikan patin itu enak dibikin pindang. Mereka benar-benar search di Google dan mencoba sesuai dengan resep. Untuk tahap awal mereka menggunakan resep baku. Nanti di masakan kedua atau ketiga akan diubah sesuai dengan lidah mereka.
“Ini bahan sudah ada semua kan?” tanya Fitri
“Kalau dari resep ini sudah lengkap Mbak. Ikan patin, cabai rawit, daun jeruk, daun salam, tomat, jeruk nipis, daun kemangi, jahe, lengkuas, serai, sama nanas sudah ada semua. Gula pasir, garam kan ada semua. Bawang merah, bawang putih, kunyit bakar juga terasi bakar ready kata Timah melihat ponselnya dan mengamati bahan yang mereka siapkan di dapurnya.
Fitri melepas kedua gadis memasak sesuai dengan bahan dan resep yang ada di gogle, dia hanya mengamati saja.
__ADS_1
Gendis dan bu Yani sedang di kebun dan Yanto sedang ke rumah pak Suradi karena mertuanya meminta dia membantu membetulkan pintu kandang ayam miliknya. Tentu saja dua jagoannya minta ikut.
Fitri minta Yanto pulang saat makan siang karena dia mengatakan adik-adiknya masak pindang patin khusus untuk Yanto.