
“Kenapa kalian supercaya itu pada Tria?” pertanyaan Gultom ini langsung menghujam jantung Husein dan Riani.
“Apa sih yang nggak bisa dilakukan oleh anak sekarang? Jangan berpikir karena anak kalian perempuan dan anak kalian masih SMA lalu tidak punya pikiran licik seperti itu,” kata Gultom yang ditemani Riana, istri Gultom yaitu kakaknya Riani. Ada banyak kue basah juga kopi yang pasti. Karena Gultom hanya minum kopi sepanjang hari. Juga ditemani asap rokok. Gultom dan Husein sama-sama merokok. Husein merokok sesekali sedang Gultom sepanjang hari.
“Kalian tahu kemarin ada kasus di Magelang, anak perempuan belum tamat SMK saja sudah mencuri motor. Perempuan cantik, orang nggak akan menyangka karena sehari-hari dia lembut bukan gadis nakal dan urakan. Jadi jangan bilang anak perempuan sekarang manis-manis tak bisa berkelakuan menyimpang.”
“Banyak anak SMP membully teman-temannya sampai sangat parah, padahal mereka ~mohon maaf~ menggunakan hijab dan sekolah di sekolah berbasis agama. Mereka ada di sebuah yayasan muslim taat tapi kelakuannya minus. Kita tak bisa menutup mata pada hal ini yang banyak terjadi di masyarakat kita saat ini.”
Riani dan Husein tentu kaget mendengar hal seperti itu.
__ADS_1
“Jadi anak-anak yang manis di rumah itu, belum tentu di luar juga manis. Kalian harus ingat itu.” kata Riana kakaknya Riani. Yana dan Gultm sama-sama bergerak di bidang hukum. hanya Yana lebih pada urusan administrasi kantor. Dia menggeluti hukum yang berhubungan dengan masalah itu, tidak seperti suaminya yang mengatasi persoalan kasus pelik di lapangan.
“Aku banyak ketemu sama ibu-ibu di kantor yang selalu mengeluhkan kelakuan anak-anaknya. Mereka nggak nyangka ternyata anak SMP sudah hamil padahal di rumah dia sangat santun dan taat. Lalu ada anak SMP yang kita bicara anak perempuan ya, tiba-tiba orang tua dapat panggilan karena belum bayaran dan banyak mencuri padahal dia bukan dari keluarga miskin. Ternyata dia senang main judi.” tentu saja Husein dan Riani kaget.
“Insya Allah, Tria tidak seperti itu Mbak. Aku tahu betul pergaulan dia di dalam rumah dan di luar. Alhamdulillah anak-anak tak pernah lepas dari pantauanku. Aku tahu semua temannya, bahkan aku juga menjalin komunikasi dengan beberapa orang tua teman anakku, agar kita bisa saling pantau. Benar nggak Tria belajar di rumah si A, benar nggak si D belajar di rumah aku, begitu seterusnya Mbak. Karena kami juga tidak mau dibohongi anak-anak yang makin pintar bohong. Kadang mereka terlihat belajar padahal di laptopnya nonton film pornografi,” kata Riani.
“Insya Allah aku yakin Bang, anak aku keponakan Abang tidak seperti itu. Bukan karena membela anakku sendiri, tapi aku yakin,” jawab Riani, sedang Husein tak berani meyakinkan seperti itu karena jujur dia tidak seintensif istrinya untuk mengamati anak-anak. Dia banyak bekerja di luar dan mendapat laporan dari istrinya saja.
“Baik kalau begitu. Mulai besok pagi akan ada dua detektif yang bergerak cepat karena kalau kasus ini sudah ada di penyidik lalu wartawan tahu namamu akan cemar,” kata Gultom pada Husein.
__ADS_1
“Bila ada orang yang ingin menjatuhkan kamu, dia akan cepat bertindak walaupun belum ketahuan Tria salah. Tapi namamu sudah cemar duluan. Jadi memang harus diantisipasi secepat mungkin, agar ini tidak terekspos media.”
“Anaknya kepala bagian departemen keuangan ternyata pelaku tindak pidana penghancuran tambak seorang pemuda! Kalau berita itu sudah ada di media hancur sudah namamu,” kata Gultom dengan logat medannya yang khas.
“Ya Bang, tolong secepatnya dibantu. Bukan hanya demi nama besar aku, tidak tetapi kasihan Tria juga bila hal itu terjadi.”
“Suruh Tria tutup mulut jangan bilang akan ada penyelidikan dari detektif ku. Karena kalau bocor bahaya, pihak lawanmu pasti akan membuat hal ini semakin dipercepat. Jadi kalian tak usah bilang soal laporan kalian ke aku,” kata Gultom.
“Baik Bang. Kami nunggu kabar baik dari Abang saja,” kata Husein. Dia sudah pasrah menunggu bantuan kakak iparnya ini.
__ADS_1