BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TAK MAU MEMBUJUK LAGI


__ADS_3

Yanto sudah menyiapkan baju untuk Fitri ganti pagi ini. Sengaja dia letakkan di kursi dekat pintu kamar mandi. Habis dari mushola tadi dia juga sudah membeli sarapan untuk dirinya selain dia beli singkong goreng kesukaan Fitri. Tentu singkong goreng yang merekah.


Yanto juga sudah membuatkan su5u coklat panas untuk Fitri karena jatah dari rumah sakit adalah teh panas.


“Ibu Gendis tidak ke sini Mas?” tanya Fitri melihat Yanto masuk dari mushola.


“Tidak. Ibu langsung pulang bersama anak-anak dan kita langsung pulang dari sini,” kata Yanto.


Yanto menunggu baju kotor dari Fitri sehingga barang-barang akan dia taruh di mobil lebih dulu sebelum dia mengurus berkas surat-surat administrasi dan pembayaran rumah sakit.


“Sarapan dulu Mas,” ajak Fitri sesudah dia selesai mandi.


“Iya sebentar, Mas ngerampungin beres-beres. Tinggal masukin baju kotor mu saja yang belum masuk ke tas. Yang lainnya sudah semua,” balas Yanto. Dia pun mengambil alat mandi Fitri di kamar mandi dan dia masukkan ke pouch khusus.


Setelah semuanya selesai Yanto meletakkan tas di dekat pintu sehingga nanti tinggal angkat. Lalu dia pun mulai sarapan bersama dengan Fitri. Fitri tentu saja makan sarapan menu dari rumah sakit.

__ADS_1


“Aku boleh nyicipin tidak makananmu Mas?” pinta Fitri melihat Yanto membeli lontong sayur Padang yang terlihat bumbunya sangat menggiurkan.


Yanto pun menyorongkan piring agar dekat dengan Fitri, agar perempuan tersebut bisa mengambil dan mencicipi lontong sayur yang dia beli barusan.


“Mas suapin aja. Aku cuma nyicipin se sendok kok,” Fitri tak mau menyendok sendiri karena tujuannya memang bukan itu. Dia ingin menghapus jurang yang ada antara dirinya dan Yanto.


“Ya kamu suap aja sendiri,” jawab Yanto.


“Mas sama sekali sudah tidak mau suapin aku?” tanya Fitri lirih menatap mata suaminya.


“Bukan begitu, biar kamu puas aja,” jawab Yanto.


Yanto pun tak memaksa, dia langsung menarik kembali piringnya dan melanjutkan sarapannya. Itu bukan sifatnya yang biasa. Biasanya kalau Fitri ngambek seperti itu, tentu Yanto akan membujuknya dan menyuapi seperti keinginan Fitri. Tapi kali ini tidak. Yanto sama sekali tidak mau membujuk Fitri.


Fitri sadar suaminya memang benar-benar terluka. Dia harus berupa agar Yanto kembali menjadi suami yang hangat seperti dulu.

__ADS_1


“Mas keluar taruh barang-barang ya, sekalian urus pembayaran rumah sakitmu,” kata Yanto setelah dia dan Fitri selesai sarapan.


“Iya,” jawab Fitri.


Yanto langsung membawa dua tas besar pakaian Fitri. Tadi malam tiga tas sudah dia taruh di mobil lebih dahulu agar tak terlalu banyak yang dia bereskan malam ini.


Cukup lama Fitri tinggal sendirian di kamar rawat karena pagi-pagi banyak yang melakukan pendaftaran pasien baru, lalu juga pendaftaran pasien kontrol, selain orang yang daftar untuk membayar. Memang bayarnya di kasir. Tapi tetap saja administrasinya di bagian pendaftaran lebih dulu. Jadi Yanto memang antri panjang.


Fitri merasa sedikit asing dengan sosok suaminya. Biasanya kalau dia mau ke depan seperti itu pasti akan bertanya mau titip apa. Tadi Yanto keluar tanpa tanya apa pun.


Yanto sekalian menembus obat yang diresepkan oleh dokter untuk dibawa pulang. Karena setiap pasien pulang pasti diberi resep baru untuk diminum di rumah.


“Sudah semua?” tanya Fitri basa basi, dia tahu tak mungkin Yanto kembali ke ruangan bila urusannya belum selesai.


“Sudah, tinggal nunggu dokter visite terakhir. Tadi petugas di depan bilang nanti dokter akan tanda tangan surat-surat ini semua. Biasanya beliau katanya datang jam 09.00 atau 09.30,” je;as Yanto.

__ADS_1


“Iya, biasanya jam 09.00 dokter sudah datang kok,” jawab Fitri.


“Ya sudah tunggu aja sampai dokter datang dan tanda tangan surat izin pulangnya,” kata Yanto.


__ADS_2