BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
MULUTMU KUDAMU


__ADS_3

Tentu saja desas-desus tentang mutasi papanya Farhan langsung tersebar di desa tersebut. Juga mengenai mobil dinas yang ditarik berikut pengusiran dari rumah dinas, sehingga sekarang mereka harus cari rumah di daerah situ untuk dikontrak. Mungkin karwna mendadak mereka belum siap dana untuk membeli rumah.


Ina dan Ubaydillah mencari rumah yang dekat sekolah agar bisa jalan kaki sehingga pulangnya Farhan tidak terlalu jauh jalan kaki.


Minggu berikutnya Farhan di antar sekolah dengan motor papanya dan kalau pulang nanti dia akan jalan kaki bersama sang mama yang sekarang berubah diam dan tak berani menatap wajah para penjemput lain dengan tatapan merendahkan seperti dulu.


“Loh Bu, mana mobilnya? Kok jalan kaki.” Sindir beberapa ibu saat melihat Ina jalan kaki menuju rumah kontrakannya.


“Oalah Bu baru juga nempatin rumah baru sudah harus diusir dari rumah dinas tersebut.”


“Itu bukan mulutmu harimaumu ya Bu. Kayanya Ibu enggak diterkam, tapi ditendang. Jadi enaknya apa ya yang suka nendang itu? Apa Bu? Kuda kali ya Bu. Jadi mulutmu kudamu gitu.” Kata beberapa ibu lagi.


Yang lain hanya tertawa mendengar sindiran para ibu yang sudah sangat benci pada Ina.

__ADS_1


Kelakuan Farhan yang tak pernah dididik secara benar oleh Ina semakin menjadi-jadi. Sekarang dia lebih banyak berontak karena apa yang dia inginkan tak pernah dipenuhi oleh papa dan mamanya lagi. Ina harus ketat memegang uangnya karena harus mulai menabung untuk membayar rumah kontrakan tahun berikutnya. Dia juga harus mulai mengencangkan ikat pinggang karena gajinya sangat minim. Suaminya hanya pegawai kecil di sebuah bank tidak menjadi kepala unit lagi.


Benar seperti yang suaminya bilang, masih bagus suaminya tidak di-PHK. Kalau di PHK tentu malu kembali ke rumah mereka di Semarang. Kalau sekarang, kerabat di Semarang tak ada yang tahu dia terpuruk di desa ini.


“Alhamdulillah ya Mas. Akhirnya selesai juga pembangunan bengkel kita,” ucap Fitri.


“Ya Ma. Alhamdulillah selesai. Besok jadi pengajiannya?” tanya Yanto.


“Hanya itu yang kita harus lakukan. Kita percaya pada Allah, tapi banyak kejadian aneh yang tidak menutup mata. Jadi harus tetap ikhtiar pakai pertolongan para kiai.


Tak ada pesta pada selamatan pembukaan gedung baru atau ceremony yang lainnya. Fitri dan Yanto hanya mengundang Pak Kiai dari Cilacap juga dari Solo untuk mendoakan bangunan baru bengkel yang telah mereka miliki secara permanen. Yang hadir makan siang hanya semua pegawai dan keluarga pegawai.


Hari berlalu saat ini waktunya Timah yang akan lulus SD. Ujian sudah selesai, tinggal menunggu pengumuman saja. Tapi karena Timah siswa berprestasi ternyata Timah mendapat beasiswa di sekolah terbaik di kota sebelum ada pengumuman kelulusan.

__ADS_1


“Ambil enggak ya Mas?” tanya Timah pada Herry. Mereka berdua sedang diskusi di saung tambak ikan milik Herry.


“Terserah kamu aja. Kalau kamu sudah mantap kamu tinggal bilang sama ibu dan Mas Yanto,” jawab Herry. Dia sedang healing dengan memancing ikan. Kalau ingin di konsumsi tentu akan langsung serok saja.


“Kamu pikirkan baik buruknya. Mau tetap di desa ini sekolah dengan normal atau kamu ambil beasiswa tersebut. Tapi kamu pindah ke rumah Ayah dan ibu Erlina sedang mereka ada di sini, itu pasti akan jadi alasan utama pemikiran ibu dan mas Yanto.”


“Tapi ingat biar bagaimana pun ayah dan ibu itu bukan orang tua kandung kita. Kamu tidak boleh mengecewakan mereka. Kita tetap harus menjunjung tinggi nama baik mereka. Karena merekalah hidup kita menjadi seperti sekarang. Kalau tidak, tentu Mas Yanto masih jungkir balik cari uang makan buat kita. Kamu ingatkan?” Herry mengingatkan peran Erlinda dan Suradi dalam hidup mereka.


Bila Yanto bukan menikah dengan Fitri, dia pasti tetap akan buka usaha, tapi tentu tak secepat ketika menikah dengan Fitri. Karena saat menikah dengan orang lain Yanto tetap harus mengeluarkan biaya hidup harian bagi keluarga inti juga menanggung hidup ibu dan kedua adiknya.  Menikah dengan Fitri semua itu Fitri yang tanggung sehingga tabungan usaha Yanto cepat terkumpul.


Ditambah lagi karena menikah dengan Fitri kedua adik Yanto mendapat tabungan awal usaha mereka dari Suradi.


__ADS_1


__ADS_2