BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
BUTUH VITAMIN


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



“Jadi kalau ada perempuan di luar sana yang bilang sekali sentuh oleh Yanto hamil itu pasti bohong ya?” canda Erlina.



“Aduh siapa Bu yang perempuan yang aku sentuh. Orang sama Fitri aja kami melakukan setelah pindah ke sini kok. Sudah 3 bulan pernikahan baru saya berani menyentuh Fitri,” elak Yanto jujur membuat lengannya di tepuk Fitri karena dia malu suaminya berkata seperti itu.



“Namanya perempuan gatal di mana aja bisa. Bisa aja kamu suatu saat terjebak oleh sesuatu,” kata Gendis



“Aduh jangan sampai lah,” Kata Erlina. Tak ingin dia rumah tangga anaknya berantakan.



 ”Lho, tadi kan jenengan yang duluan bilang kalau ada gadis lain sekali sentuh mengaku hamil,” jelas Gendis sambil terkekeh.



“Iya sih banyak perempuan menjebak seperti itu. Dia hamil dengan siapa tapi orang lain yang disuruh bertanggung jawab. Yang penting dia bisa hidup mapan walau pun tidak berkelebihan, tapi tidak kekurangan,” kata Erlina.



“Atau bisa saja perempuan seperti itu sudah berupaya menggugurkan kandungan tapi tak berhasil, akhirnya dia menjebak orang agar ada bapak bagi bayinya,” Erlina ingat kasus anak kost ada yang seperti itu saat Fitri masih SMP dulu.



Sore menjelang malam semuanya bubar, Timah dan Herry besok harus sekolah sehingga tidak bisa pulang malam. Mereka harus menyiapkan buku dan belajar sebentar walau pun hanya baca beberapa bab saja.



“Alhamdulillah ya Mas pertemuan berhasil. Dan mereka semua senang dengan jamuan kita,” kata Fitri.



“Ya, Alhamdulillah,” jawab Yanto, sambil berberes rumahnya kembali.

__ADS_1



“Sekarang aku jadi tenang Mas,”  kata Fitri



“Tenang kenapa?” tanya Yanto bingung kalau selama ini Fitri menyimpan kegalauan yang bikin tidak tenang.



“Kita sudah 2 bulan bersama, tapi aku belum hamil. Begitu mendengar keterangan ibu Gendis aku jadi tenang. Padahal selama ini aku ketakutan kamu meninggalkan aku karena aku belum punya anak,” jelas Fitri. Bila dia bicara berdua dengan suaminya mereka memang menyebut nama untuk ibu mereka karena sama-sama dipanggil ibu dan sama-sama tinggal di Solo.



“Astaghfirullahaladziiiiim Dek,” Yanto bicara dengan nada yang sangat panjang karena tak percaya Fitri berpikiran seperti itu.



“Mas enggak akan seperti itu meninggalkan kamu karena kita belum ada anak. Mas sama seperti ayah, yang bahkan disuruh menikah lagi pun ayah enggak mau karena memang cuma cinta sama ibu. Cinta Mas juga cuma ke kamu kok,” kata Yanto dengan pasti.



“Kamu tahu 3 bulan bersama kamu aja Mas enggak berani menyentuh takut kamu belum siap dan takut kamu kesakitan karena yang Mas dengar dari orang kalau yang pertama itu akan menyakitkan bagi perempuan.”




“Masak se gampang itu mas tinggalin kamu?” ucap Yanto.



“Namanya perempuan pasti ketakutan lah Mas kalau belum hamil,” jawab Fitri.



“Iya, banyak seperti itu. Tapi kan bukan untuk kita. Sudah enggak perlu kamu pikirkan yang penting ibu Gendis sudah bilang tidak segera  mengharapkan cucu karena kondisi nya mungkin seperti ayah Suripto. Tinggal bagaimana ibu Erlina yang menyikapi masalah ini.” Yanto malah takut keluarga Fitri yang mengharuskan mereka segera punya momongan.



“Aku rasa ibu Erlina juga mengerti kalau persoalannya seperti itu kok Mas,” hibur Fitri. Padahal dia yang ingin segera punya momongan.


__ADS_1


“Ya wis biar kita puas pacaran dulu lah ya. Kan selama ini kita nggak pernah pacaran seperti orang-orang pada umumnya. Kita suka sama suka tapi sama-sama ditahan tak mau diperlihatkan.”



“Tapi cemburunya kelewatan sampai ngamuk pas ada orang nganterin aku ke sekolah,” goda Yanto.



“Siapa yang cemburu? Mas ke ge er an,” balas Fitri dengan wajah semburat merah.



“Lah, kalau enggak cemburu ngapain marah-marah pas Mas jemput pulang? Pas ke sekolahku juga ngomel kan bilang enggak boleh ke sekolah karena takut ada pacarku yang marah, gitu kan?” Yanto makin senang menggoda istrinya.



“Ih Mas suka gitu deh ungkit-ungkit yang dulu,” kata Fitri. Dia pun malu karena memang seperti itu kenyataannya.



Yanto sendiri dulu memang enggak pernah cemburu karena Fitri enggak pernah ada yang menghampiri, baik di rumah mau pun di kampus.



“Ya sudah sekarang Mas istirahat, besok kan berangkat pagi sekali,” kata Fitri.



“Iya besok Mas mulai narik,” jawab Yanto.



“Tapi sebelumnya harus ada asupan vitamin dulu Yank.” pinta Yanto.



“Ih vitamin terus yang diminta,” kata Fitri. Fitri tahu apa maksud vitamin menurut Yanto yaitu suatu kegiatan yang membuat Yanto menjadi bersemangat.



“Karena vitamin itu penting buatku,” kata Yanto sambil mulai mencumbu istrinya


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok

__ADS_1



__ADS_2