
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Siapa dia? Mas pernah sedekat apa sama sama dia?” desak Fitri saat Yanto baru saja duduk di jok mobil, bahkan sebelum suaminya memasang savety belt-nya.
“Enggak yank, enggak pernah dekat sama dia,” jawab Yanto pelan dan lembut. Sengaja tak dia pakai seat belt agar dia bisa bergerak leluasa. Mereka masih di parkiran rumah makan Padang.
“Kok dia sampai nyari Mas. Mas berutang atau bagaimana atau ada buku yang terpinjam atau bagaimana?” Fitri makin penasaran. Dia tak habis pikir apa motivasi perempuan itu sengaja cari Yanto ke rumah kalau mereka tak pernah punya kedekatan personal.
“Enggak sayank, Mas tuh enggak pernah pinjam apa pun dari dia. Mas hanya pernah satu kali bantuin dia waktu dia baru angkat barang saat masuk kost, habis itu sudah.”
“Dia kan juga motornya motor baru enggak pernah minta servis. Dan enggak pernah ngobrol. Paling hanya saling sapa atau mengangguk bila berpapasan.”
“Dia pakai kamar baru Mas enggak pernah betulin jadi enggak pernah ngobrol atau berhubungan dengan apa pun.”
“Kamu tahu sendiri kan, Mas lebih baik berkekurangan daripada minjam kalaupun Mas pinjam, Mas enggak akan pinjam ke sesama anak kost. Pasti akan pinjam ke orang yang sudah bekerja. Misal pada Pak satpam atau sopir. Atau mungkin sama si mbok daripada sama sesama anak kost yang sama-sama masih nunggu kiriman orang tua.”
“Sekarang soal pinjam buku. Buku apa? Dia jurusan apa Mas enggak tahu. Memang Mas pernah baca novel sehingga bisa saling tukaran? Kan enggak.”
“Apa dia baca buku motivasi? Kan enggak. Enggak ada kesamaan topik yang bisa saling tukar. Buku Mas hanya buku tentang mesin, bukunya dia Mas enggak tahu dia jurusan apa,” jawab Yanto menerangkan dengan sejujurnya.
Seperti dugaan Yanto tadi, pasti istrinya cemburu. Yanto ingat saat dia diajak bareng oleh anak kost agar cepat sampai ke sekolahnya dari kampusnya Fitri. Fitri langsung marah.
“Kan sudah Mas bilang toh, Mas enggak pernah dekat dengan perempuan lain selain kamu. Ingat kan yang sudah jadi istri siri aja enggak pernah Mas sentuh karena pernikahan itu bukan keinginan Mas. Terlebih-lebih hanya teman kost. Percayalah Mas enggak pernah punya hubungan lain.”
“Kalau dengan anak kost yang beberapa kali minta pertolongan lalu ngajak makan bakso dan sebagainya yaitu hanya sekadar makan saat itu enggak pernah lebih, tapi bukan Arum juga. Nyatanya mereka enggak niat cari Mas kan?”
__ADS_1
“Oh tadi namanya Arum?” Fitri memperjelas sosok perempuan itu.
“Iya yang Mas tahu namanya Arum. Dia kuliah di mana jurusan apa Mas enggak pernah tahu.”
“Sayank, cukup ya kita jangan marah karena persoalan ini. Dari tadi Mas sudah bilang kan Mas ndak tahu dia jurusan apa dan kuliah di mana. Dia pindah sebelum kita menikah jadi dia enggak tahu juga ama maunya. Lalu katanya dia pernah ke rumah tapi kok orang rumah enggak ngasih tahu bahwa kita sudah menikah dan tinggal di Jogja. Kayaknya dia enggak nanya ke rumah karena dia hanya tahu kita tinggal di Jogja,” kata Yanto.
“Cukup ya Sayank, enggak perlu energinya dibuang-buang buat hal enggak penting seperti itu ya? Kasihan jagoannya papa jadi ngambek.”
“Cie cie sekarang ngomongnya JAGOAN ya, karena sudah tahu belalai,” Fitri dia langsung berubah mood-nya.
Itulah emosinya ibu hamil, sangat labil. Cepat berubah dari marah langsung bahagia, nanti menangis lagi dan memang Yanto ekstra sabar menghadapinya.
“Ya tahu dong dia jagoannya Papa. Pasti mulai nanti malam dia lebih spesifik manggilnya,” Yanto plong, dia gunakan seat beltnya dan mulai menyalakan mesin mobil.
“Paling jagoan akan ngajak Papa main catur atau diskusi tentang laki-laki atau ngajak main bola,” jawab Yanto sambil tersenyum dan Fitri yang memperhatikan wajah suaminya dari samping makin gemas pada kekasih pertama dan terakhirnya itu.
“Ih coba itu. Yang diingat cuma main bola sama main catur sama Jagoan aja. Enggak ingat Mama.”
“Pantes ya dia sukanya makanan kegemaran Papa, bukan makanan Mama ternyata dia sama gantengnya sama Papa,” goda Yanto.
“Iya ya Pa. Ternyata dia samaan sama Papa,” Fitri menjawab sambil mengusap perutnya perlahan-lahan. Fitri sangat bahagia karena keinginan mereka punya anak lelaki sebagai anak pertama akan terpenuhi. Kalau dikasih perempuan pun tentu mereka bahagia karena menunggunya aja sangat lama.
“Semoga habis ini langsung dapat amanah lagi ya Yank? Kamu enggak akan KB kan?” tanya Yanto.
__ADS_1
“Aku enggak berani KB Mas. Kalau KB nanti pas sudah lepas KB malah kamu pas sulit lagi bagaimana. Sudah biarin aja yang penting kita jaga jarak sampai 3 bulan pertama aja. Bisa kan?” Fitri sepakat dengan Yanto tak akan menunda momongan berikutnya mengingat bagaimana sulitnya mereka dapat momongan pertama.
“Insya Allah bisa. Nanti sebelum itu kita pakai KB Mandiri aja. Bisa pakai sarung atau pakai apa yang penting biar enggak terlalu dekat jaraknya dengan MAMAS-nya. Nanti kalau sudah 4 bulan baru enggak usah pakai KB Mandiri,” Yanto bertekad membuat Fitri nyaman dan tak ketakutan karena jarak anak yang terlalu dekat.
“Iya aku setuju Mas. Jangan sampai sundulan juga kasihan.”
“Sejak awal kita antisipasi Yank. Walau ada yang bilang kasih ASI itu adalah KB alami, buktinya sejak dulu banyak yang sundulan padahal kasih ASI. Kalau sundulan nanti mamas-nya belum puas minum ASI, dedeknya udah lahir.”
“Iya. Semoga kita enggak terlalu lama dapat adiknya. Kita dapetin si sulung ini aja yang lama. Semoga aja yang berikutnya cepet. Paling ya itu tadi, kita jaga jarak dulu agar tidak sundulan,” balas Fitri.
“Aamiiiin. Semoga dapat cepat biar enggak terlalu lama seperti si sulung. Nanti pernikahan kita keempat baru dia lahir.” kata Yanto.
“Kita dapat satu juga sudah Alhamdulillah,” Fitri menyadari keterbatasan Yanto dan dia tak mau berharap terlalu tinggi agar tak kecewa.
“Semoga kita enggak hanya dikasih satu ya Yank. Kasihan kesepian nanti.”
“Aku sudah ngerasain itu Mas, yang anak tunggal kan aku. Itu sebabnya ibu dan ayah selalu dekatkan dengan para sepupu agar aku enggak merasa sendiri.”
“Makanya mudah-mudahan kita enggak cuma dikasih satu kepercayaannya. Sehingga anak kita enggak jadi anak tunggal. kasihan kalau dia enggak punya saudara nanti saat tuanya.”
“Tapi kan ada saudara ipar Mas,” bantaah Fitri. Dia merasa punya dua adik yang sangat sayang padanya.
“Kalau dapat saudara iparnya yang baik-baik, banyak saudara ipar yang tidak rukun dengan sesama perempuan kan?”
“Iya sih.” Jawab Fitri. Dia juga banyak mendengar teman-temannya seperti itu, tidak akur dengan iparnya malah mereka saling sikut.
biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok.