
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Pagi-pagi begini kalian mau ke mana?” tanya Yanto pada kedua adiknya yang sudah rapi.
“Kemarin ayah mau beliin aku sepeda listrik aku menolak Mas. Karena aku takut biaya listrik di rumah membengkak. Lalu ayah memaksa aku untuk dibelikan sepeda biasa, tapi aku tetap tidak mau karena kan kita sudah ada motor yang dari ayah juga.”
“Aku bilang kalau memang ayah mau kasih sesuatu ya tabungan aja. Jadi sekarang kami mau buka tabungan di bank,” jawab Timah jujur. Dia tak ingin nanti pulang dari bank malah ribut kalau tak jujur.
Yanto tak percaya kalau kemarin ayahnya memaksa kedua adiknya untuk menerima hadiah lagi. Selama ini adik-adiknya memang selalu berhasil menolak barang elektronik mahal dari Erlina dan Suradi.
Untungnya adik-adiknya bukan anak yang konsumtif yang ditawari apa saja langsung terima. Adik-adiknya selalu berpikir fungsi dan kegunaannya apa kalau barang tersebut diterima. Lalu bagaimana dengan efek sampingnya seperti tadi Timah bilang bahwa nanti biaya listrik akan membengkak dan itu dia tidak mau karena akan membebani Gendis.
Dan untungnya Suradi juga tak langsung memberikan, dia selalu bertanya lebih dulu agar semua berguna. Semua itu memang sudah diberitahu oleh Fitri. Fitri tak ingin ayahnya kecewa jika pemberiannya ditolak. Jadi sebelum di belikan lebih baik tanya lebih dulu.
“Oh ya sudah, hati-hati ya. Dan ingat kita hidup harus sewajarnya aja. Kalau diberi kita harus berpikir itu berguna tidak,” Yanto memberi petuah pada adiknya agar tak terpeleset dalam kehidupan yang tak bisa mereka gapai lalu nanti malah bertindak ngawur untuk memenuhi semua keinginannya.
“Iya Mas, aku selalu ingat itu,” jawab Herry.
Memang Pak Suradi sengaja mengajak pagi-pagi sebelum dia menerima petugas yang akan pasang tenda buat acara pengajian 4 bulan esok. Pengajian memang akan diadakan besok jam 09.00 pagi.
“Jadi berangkat Yah?” tanya Erlina.
__ADS_1
“Jadi, kenapa?” Jawab Suradi.
“Ini aku titip ya Yah, bahan-bahan buat bikin salad. Kan di warung enggak ada, tadi Fitri kepengin salad,” Erlina memberi catatan yang harus Suradi beli di supermarket.
“Ya, nanti Ayah carikan, jawab Suradi.
“Perginya lama enggak?” tanya Erlina.
“Ya enggaklah, wong cuma ke bank aja. Kita kan tahu anak-anak itu enggak mau kalau diajak jalan, diajak makan juga mereka sulit. Mereka bilang lebih baik makan di rumah. Kalau bukan jam makan mereka enggak akan mau jajan,” kata Suradi.
“Jadi habis dari bank, tepat supermarket buka. Ayah langsung belanja pesanan Ibu,” jelas Suradi.
“Yo wis. Kasihan Fitri kalau saladnya kelamaan.”
“Ayah kenapa banyak banget?” tanya Timah melihat angka yang ditransfer Suradi sebagai tabungan perdana bagi Timah dan Herry.
“Ya enggak apa apa namanya tabungan, kalau kalian belum butuh ya enggak usah diambil, nanti kalau kalian butuh tinggal diambil karena ada ATM atas nama kalian. Nanti pin-nya diingat-ingat ya,” kata Suradi.
“Iya Yah, jawab Herry yang masih tak percaya tabungannya dan tabungan Timah sangat besar untuk ukuran mereka.
Lalu keduanya dipandu untuk menggunakan kartu ATM dan nomor pin-nya diganti tidak nomor PIN yang dari aslinya oleh pegawai bank. Sengaja Suradi membiarkan mereka berdua yang duduk di depan CS.
__ADS_1
“Kartu bisa digunakan besok ya Mbak dan Mas kecil,” kata customer service-nya.
“Injih Tante, matur nuwun,” jawab Timah sopan.
Timah sangat takjub mempunyai kartu ATM dengan namanya sendiri.
“Inget ya Dek nomor pin-mu jangan dikasih tahu siapa pun dan enggak usah dibawa ke mana-mana, nanti malah hilang. Taruh aja di rumah. Ingat buku dan tabungan mas Yanto yang selalu ada di lemari ibu? Dia aja yang sudah dewasa tak bawa-bawa setiap saat,” kata Herry menasehati.
“Iya Mas aku ngerti, aku enggak akan pamer-pamer kartu ATM-ku. Nanti malah hilang jadi repot.”
“Dan kalau nabung tinggal dibawa buku aja enggak perlu bawa kartu atm-nya kan enggak dipakai.” Lanjut Herry.
“Ya Mas aku akan nabung besok di bank. Nanti kalau kita butuh bisa kan ditaruh di bank yang dekat rumah.”
“Yang dekat rumah itu namanya bukan bank, tapi itu hanya agen Dek. Maksudmu yang di warung tempat kita biasa ambil uang dari Mbak Fitri kan?” tanya Herry.
“Iya Mas di situ.”
“Kamu bisa menabung di sana kasih tahu aja nomor rekeningmu tak perlu bawa bukunya kalau di agen. Lalu masukkan uangmu nanti dia akan transfer ke nomor rekening kita,” kata Herry.
“Jadi kita enggak perlu ke bank sini ya?”
“Sesekali kita perlu, untuk urus sesuatu yang berkaitan dengan banknya misal ingin cetak buku. Tapi kalau hanya untuk setor dan ambil bisa di agen terdekat misalnya warung sembako tempat kita biasa belanja itu.” Herry menerangkan adiknya yang memang masih tak mengerti urusan perbankan. Namanya juga anak SD, wajarlah Timah belum terlalu paham.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok.