BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
OLEH-OLEH KHUSUS UNTUK TUTOR


__ADS_3

“Sesuai dengan percakapan kita kemarin kan Pak? Bisa diantar ke kandang kami?” tanya Timah.


“Jelas sesuai Dek, bisa diantar. Itu dekat kok,” kata pedagangnya yang tak percaya calon pembelinya anak-anak. Kalau beli hanya satu atau dua ekor saja, banyak anak-anak yang belanja padanya. Tapi dua anak ini hendak beli untuk peternakan. Tentu dia sedikit tak percaya.


Timah dan Tria telah muter-muter dan akhirnya kembali ke satu penjual kelinci lokal yang diinginkan oleh Timah dan Tria. Mereka pun mengambil bibit sesuai keinginan.


Banyak pilihan yang Tria dan Timah ambil untuk pejantan dan juga betinanya karena mereka juga harus berpikir variasi warna anak-anaknya kelak.


Untuk tahap awal Tria mengambil 6 pejantan dan 18 betina untuk kelinci jenis lokal. Dan semua berbulu polos. Hitam, putih dan coklat polos. Tak ada yang belang. Dan pilihan induk warna putih juga sengaja Tria pilih lebih sedikit.


“Wah aku jadi kepengen ini Mbak. Aku akan beli deh buat di rumah. Pasti Daffa dan Daanish suka.


“Halah bilang saja kamu pasti ngoleh-ngolehin Mbak Fitri kan?” tebak Tria.


“He he he. Iya Mbak benar. Aku mau oleh-olehin Mbak Fitri satu jantan dan dua betina saja,” kata Timah saat mereka sudah ada di peternakan kelinci jenis import.


“Yang ini yang dibawa pulang Mbak?” tanya seorang ibu yang mereka datangi.


“Iya Bu. Tolong taruh di dus yang rapi ya dan kasih lubang seperti biasa,” pinta Timah. Dia bayar sendiri tiga ekor kelinci yang untuk di rumah. Agar tak tercampur dengan pengeluaran Tria.


“Yang lain akan dikirim?” tanya penjual itu lagi.


“Ya betul Bu. Kirim saja,” Tria membenarkan pertanyaan ibu penjual tersebut.


“Nanti kalau dikirim ke rumah apa nggak apa-apa?”  tanya Timah saat si ibu penjual sedang memisahkan semua pilihan Timah dan Tria.


“Yang terima siapa?”


“Aku sudah kasih nomor pegawai ku untuk nomor kontak yang bisa di hubungi. Aku sudah merekrut seorang lelaki keponakannya satpam. Jadi dia bisa dipertanggungjawabkan kejujuran dan kerajinannya. Kalau dia sampai berbuat yang macam-macam, satpam akan kena dampak. Dia pasti akan ditegur Pak RW juga. Karena kan proyek ini bukan proyek aku sendirian dalam artian pak RW dan developer akan mengawasi terus.”


“Oh sip lah. Maksud aku kalau Mbak Tria yang terima kan nanti ibu sama bapaknya ngelihat kalau besok diantarnya. Besok kan mereka di rumah karena besok hari Minggu.”

__ADS_1


“Belum tentu mereka ada di rumah saat hari Minggu. Tapi memang sudah aku antisipasi.  Kalau aku ketahuan pas di sana, aku bilang saja lagi lihat-lihat, bukan aku pemiliknya. Sebelum pembukaan mereka belum tahu perlu dulu.”


“Sip lah Mbak,” kata Timah tenanng.


“Hari ini kita ngebakso atau mau makan apa?” kata Tria saat mereka akan pulang dari peternakan.


“Masak bakso terus sih, nggak cari yang lain?” tanya Timah.


“Males sih cari yang lain. Mau makan apa dong?” kata Tria.


“Kita makan kebab yuk,” ajak Timah.


“Apa dong enaknya?” kata Tria berbarengan dengan ajakan Timah.


“Kita ke food cornernya alun-alun saja. Disana banyak pilihan,” ajak Timah.


“Ya Oke. Kita makan di sana, jadi pilihan kita beda, karena disana banyak penjual aneka makanan,” akhirnya mereka pun menuju alun-alun dulu sebelum pulang.


“Kamu bawa apa Dek?” tanya Yanto melihat adiknya masuk rumah dengan satu kardus berlubang.


“Apa itu?” kata Fitri yang mendengar namanya disebut oleh adik iparnya.


“Ini lho Mbak hasil survei aku. Ini khusus buat Mbak yang sudah jadi tutor kami berdua. Tapi ini dari aku, nanti dari Mbak Tria dia pasti lain lagi hadiahnya.”


“Mas kok nggak dikasih hadiah ya?” protes Yanto dengan canda.


“Mas kan nggak ikut bimbing kami,” jawab Timah lugas.


“Eh jangan salah, pemikiran Mbak Fitri itu kan karena Mas support,” jawab Yanto dengan senyum.


“Ih enak saja ngaku-ngaku,” jawab Fitri.

__ADS_1


“Ha ha ha, mbak Fitri aja bilang bukan!”


Baru mau dibuka kardusnya Daanish langsung minta gendong pada Fitri.


“Jangan gendong Mama sayang, kita buka kardus aja yok,” tolak Fitri.


“Hati-hati lepas Mbak, kan dia belum biasa di rumah ini. Jadi sebaiknya kita tutup dulu pintu-pintunya. Takut dia kabur dan kita susah nangkapnya.”


“Oh iya benar,” kata Fitri. Dia pun menutup pintu ruangan.


“Ya ampun lucu banget,” kata Fitri menggendong satu kelinci dari dalam kardus. Daffa dan Daanish tentu saja terbelalak senang melihat kelinci itu.


“Ambiiin,” kata Daanish. Dia mengira hewan kecil itu adalah anak kambing.


“Bukan kambing Sayang. Ini kelinci,” jelas Fitri.


“Kan Adek sudah pernah dikasih tahu ini kelinci,” lanjut Fitri.


“Waktu itu kan jauh ngelihatnya, jadi dia pikir kelinci itu sangat kecil. Ini kan besar sebesar anak kambing yang baru lahir,” jawab Yanto.


“Iya juga sih ya Mas. Ya kan biasanya ngelihat kelinci dari jauh nggak pernah dipegang seperti ini. Dan jenis ini memang besar,” kata Fitri.


“Kamu mau taruh di mana?” tanya Yanto.


“Kalau malam mungkin mau aku taruh di kandang kambing untuk sementara Mas. Nanti biar aku buatkan kandang dari bambu saja tapi tetap di dalam lahan miring sehingga kotoran dan urinenya akan masuk bersamaan dengan kotoran kambing saja. Karena kan memang cuma skala kecil begini nggak perlu kita buat kandang khusus untuk jual,” kata Timah.


“Lalu pakannya mau kamu kasih konsentrat atau sayuran hijau?” tanya Yanto lagi.


“Dia bisa kok sayuran hijau asal yang layu. Nggak boleh yang segar malahan karena kebanyakan air buat dia nggak baik buat lambungnya.”


“Wah Mas baru tahu hal itu,” kata Yanto. Dia pikir yang baik adalah sayuran segar.

__ADS_1


“Nggak Mas. Kami sudah belajar cukup lama. 3 minggu kami mendalami karakter mereka. Memang pandangan di masyarakat adalah pakan yang bagus untuk ternak adalah sayuran segar. Tetapi untuk kelinci ternyata tidak boleh seperti itu. Kalau mau konsentrat ya nggak apa-apa. Tapi kan kalau konsentrat jadi kemahalan harga jualnya nanti,” jelas Timah.


‘Walaupun untuk skala rumahan dia tetap hitung keuntungan bisnisnya. Emang anak ini super luar biasa,’ Yanto mengomentari adiknya hanya dalam hati.


__ADS_2