
Orang tua Fabianto tentu tak terima anaknya dijadikan tersangka. Mereka meminta kepada Herry untuk mencabut gugatan
“Silakan Ibu menghubungi pengacara saya saja. Saya tak ada urusan apa pun dengan persoalan tambak. Yang membuat saya rugi adalah anak Anda, jadi mohon maaf Ibu, bukan saya tak menghormati Ibu tetapi ini sudah urusan hukum. Jadi bicaranya dengan pengacara saya saja,” jawab Herry di belakang ruang sidang saat sedang berak sidang.
“Atau kalau Ibu mau minta pengurangan hukuman, Ibu minta kepada hakim. Saya juga nggak mengerti kenapa tiba-tiba Totok melakukan itu kepada saya. Padahal saya tidak kenal dia. Saya juga tidak pernah bersinggungan dengan dia. Saya tidak pernah merugikan dia. Dia yang membuat itu pada saya Bu. Lalu kenapa Ibu menekan saya? Tanyakan saja pada anak Ibu kenapa dia melakukan itu pada saya yang tidak kenal dia. Yang tidak punya urusan apa pun, tidak punya dosa sama dia. Jangan ke saya Bu.”
“Ibu menekan saya pun, akan saya sebarkan soal penekanan ini. Saya tidak terima,” kata Herry.
__ADS_1
“Bahkan gara-gara ini. gara-gara anak Ibu akhirnya Tria dan Ayahnya juga terekspos di media karena Tria menolak cintanya Fabianto. Saya tak mengerti mereka juga terseret-seret Bu. Bukan hanya saya aja kan yang dirugikan. Kenapa jadi Ibu menekan saya untuk mencabut pengaduan?”
“Saya nggak menekan kamu ya! Kamu anak kecil, tapi sombong sekali!” bentak ibu terdakwa dengan keras.
“Kalau begitu Ibu enggak usah berhubungan sama anak kecil Bu. Ibu berhubungan saja sama orang dewasa yaitu pengacara saya. Bereskan?” kata Herry sambil berlalu. Tentu saja itu membuat orang tua Fabianto tambah marah. Ternyata di situ ada wartawan yang mendengarkan dan mencatat semua itu lalu berita heboh berikutnya adalah : IBU FABIANTO TERSANGKA UTAMA KALAH SAMA ANAK KECIL!
Kata-kata Herry juga terdengar jelas dan gamblang kalau dia tak ada hubungan apa pun dengan Fabianto, mengapa Fabianto merugikan dia dan sekarang orang tuanya kok menekan dia. Tentu saja akhirnya keluarga besar Fabianto semakin mengucilkan Ibu dan juga Fabianto karena mereka tak mau nama mereka terseret-seret oleh kelakuan Fabianto dan Ibunya.
__ADS_1
“Anak Ayah ini hebat loh,” kata Suradi membaca berita di koran pagi tadi.
“Kenapa Yah?” tanya Erlina yang sedang menyiangi sayuran yang dia ambil dari kebun. Enaknya hidup di desa, semua hanya tinggal dia panen dari kebunnya.
“Anak Ayah menohok Ibunya Fabianto dengan mengatakan nggak usah berhubungan sama anak kecil seperti dia, karena si Ibu memaki-maki Herry dengan kata-kata kamu tuh anak kecil nggak usah bertingkah.”
“Lah udah tahu anak kecil kenapa juga dimintain keringanan atau cabut gugatan?” kata Erlina. Dia juga kesal mendengar anaknya dihujat seperti itu. Memang Herry bukan anak kandungnya, tapi sejak Fitri menikah dengan Yanto, Herry dan Timah adalah anak mereka. Bukan hanya sekadar membiayai mereka sekolah atau apa pun. Tapi hati mereka memang terikat pada dua anak itu. Secara emosional mereka menyayangi Timah dan Herry seperti menyayangi Fitri. Tak ada perbedaan begitu pun terhadap Yanto. Mereka mencintai ke-4 putra dan putrinya itu secara rata.
__ADS_1