BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
SAYA MAAFKAN, ASAL ANDA SANGGUP …


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Assalamu’alaykum,” sapa Yanto pada dua orang tamu yang duduk di ruang tamu rumah Suradi. Bukan di teras. Artinya tuan rumah menghormati karena di persilakan duduk di dalam rumah. Tak hanya di teras saja.



“Wa’alaykumsalam,” jawab perempuan yang menjadi tamu Yanto kali ini bersama bersama seorang lelaki cukup umur yang tidak dia kenal.



“Yah, ini ibunya perempuan busuk itu,” tanpa takut Yanto mengatakan kalau tamu itu adalah ibu perempuan busuk, tanpa mau menyebut nama Yani.



“Dan ini entah siapa saya tidak pernah kenal atau bertemu. Perkenalkan ini ayah mertua saya,” kata Yanto. Suradi dan ibunya Yani serta lelaki yang menyertainya bersalaman.



“Ada perlu apa datang ke sini dan bagaimana Ibu bisa tahu alamat rumah ini?” tanya Yanto datar. Dia sebenarnya ingin memaki-maki perempuan jahanam ini. Perempuan yang sengaja menjebaknya agar anak perempuannya yang sedang hamil dengan orang lain mempunyai suami yang bisa menafkahinya. Andai tak ketahuan di bidan, tentu sampai melahirkan, aqiqah dan semua kebutuhan bayi dia yang akan menanggung biayanya.



“Ibu tahu alamat ini karena saya tanya pada sopir cadangan kamu,” jawab ibu itu jujur. Rupanya dia dapat alamat ini dari Burhan.



“Waktu itu saya sudah nyari saat kamu masih koma, sejak itu saya tahu kalau kamu kecelakaan. Saat bersamaan dan Yani harus melahirkan karena terpeleset.”



“Sejak kamu koma saya ingin bicara. Itu sebabnya saya sering bertanya pada Budi karena Burhan jarang mau bicara dengan saya. Burhan sangat setia kawan.”



“Dari Budi saya mendengar kamu sudah sehat. Dan bulan lalu adik sepupu saya ini minta saya antar ke rumah kamu. Jadi saya minta alamat kamu pada Burhan. Awalnya Burhan menolak memberitahu. Tapi saat saya beritahu alasan saya ingin bertemu dengan kamu, dia kasih alamatmu ini.”



“Maksudnya apa ya datang ke sini dan ada perlu apa? Apa saya berutang pada anda? Bukan kebalikannya anda telah menipu saya dan sebenarnya kalau saat itu saya tidak kecelakaan, saya ingin menuntut anda karena telah membuat keluarga saya berantakan. Saya ingin membuat Anda dan anak anda di penjara!” kata Yanto geram



Suradi menepuk lengan menantunya agar sedikit sabar karena saat itu dia mendengar suara Yanto sudah sangat berapi-api. Yanto yang biasa sangat santun dan sopan kali ini bicara penuh amarah. Dan baru kali ini Suradi melihat menantunya seperti ini.

__ADS_1



“Setelah kamu memberi talak di bidan dan membongkar semua kelakuan Yani pada para tetangga di sana Yani diusir pemilik rumah. Demikian juga Ibu karena rumah petak kita satu pemilik.”



“Kami tinggal bersama keponakan saya di rumah petak juga, hanya satu rumah karena tak sanggup ambil dua rumah. Keponakan saya belum bisa full tinggal di rumah itu karena keluarganya tak tahu hubungan terlarangnya dengan Yani. Suatu hari saat hendak ke rumah petakan, keponakan saya itu celaka membuat Yani terburu-buru sehingga terpeleset dan anaknya lahir sebelum waktunya.”



“Lalu ada urusan apa dengan saya? Saya tidak berutang, saya tidak pernah menyentuhnya, walaupun dia sudah resmi jadi istri saya. Tak pernah sekali pun saya mau menyentuh barang yang menji-jikkan seperti anak anda itu. Walau dulu saya tidak tahu bahwa dia bekas orang, tapi feeling saya tidak enak menyentuh barang yang sudah terbiasa disentuh oleh orang lain dan telah menjebak saya sedemikian rupa. Anda tahu ketika saya beritahu tak ada bekas sper-ma atau darah saat anda pertama kali melihat saya ada di rumah anda. Anda dalang penjebakan itu!” Yanto memotong kalimat ibunya Yani.



“Sejak semua terbongkar kehidupan kami makin terpuruk dan makin hancur. Sekarang si bayi juga tidak terlalu sehat karena Yani harus jungkir balik cari uang sedang bapak si bayi yaitu keponakan saya hanya cacat di tempat tidur tanpa bisa bergerak.”



“Lalu urusannya dengan saya apa? Enak kan dulu saya yang ngasih makan anak anda, pacarnya tinggal makan dan nidurin dia aja. Lelaki sialan itu enggak ngasih makan, enggak ngasih uang buat kontrol juga enggak ngasih uang buat rumah tinggal. Mereka tinggal bersama di rumah yang saya sewa kurang apa saya?” bentak Yanto yang didengarkan oleh Fitri dan Erlina dari ruang tengah.



“Sebenarnya saya bapak lelaki tersebut,” kata tamu lelaki yang menemani ibunya Yani.




“Wajar anda bayar, itu anak dan cucu anda. Apa ingin saya yang tanggung biaya melahirkan juga biaya rawat anak sia-lan anda itu?” tanya Yanto pada lelaki yang mengakui kalau dia ayah dari lelaki yang ikut datang saat di kantor PO untuk minta pertanggung jawaban kehamilan Yani.



“Anak sialan anda yang bikin hamil perempuan kotor itu, tapi dengan tak tahu malu anak anda mengantarkan ibu dari anaknya minta pertanggung jawaban saya di kantor PO. Anak anda lelaki tak punya otak karena bergaul dengan perempuan sampah dan ibunya yang berniat menjebak saya. Saya yakin anak anda yang menggotong saya untuk ditaruh di kasur saat penjebakan itu.”



Lelaki itu hanya diam dan pasrah. Karena memang kelakuan anaknya dan Yani serta ibunya yang telah menjebak Yanto sangat kelewatan. Dan selama ini memang anaknya tak kerja, bagaimana dia bisa menghidupi Yani, anaknya serta ibunya Yani?



“Saya tahu anak saya salah, dan sekarang saya yang minta maaf atas kesalahan anak saya. Dia dan Yani serta sepupu saya ini memang sangat keterlaluan telah menjebak anda,” sahut lelaki itu.



“Akibat kecelakaan, anak saya lumpuh total. Saya mendapat berapa nasehat agar meminta maaf pada anda yang telah dirugikan oleh anak saya juga oleh keponakan saya yaitu Yani agar hidup kami bisa kembali tenang tanpa gangguan.”


__ADS_1


“Kalian kira saya mengirim sesuatu yang membuat hidup anak anda dan perempuan sampah itu gelap? Kelakuan kotor mereka yang membuat itu, karena sebelum saya ada dua lelaki lain yang mereka jebak. Saya yakin sepupu anda yang duduk di sebelah anda tak cerita kegagalannya menjebak dua lelaki lain sebelum saya kan?” Yanto bicara sinis memandang ji-jik ibunya Yani.



“Kami memang sangat tak tahu diri, saya tidak tahu kelakuan anak saya dan keponakan saya bahwa mereka punya anak dan mereka mencari korban untuk hidup mereka. Saya tidak tahu kalau ada korban lain sebelum anda. Saya baru tahu ini.”



“Saya juga baru tahu soal kehamilan Yani setelah anak saya kecelakaan dan cucu kami lahir. Dan yang terparah saya baru tahu soal penjebakan kamu itu tiga bulan lalu saat seorang kiyai memberitahu ada kamu yang terluka hatinya. Saya lalu bertanya pada anak saya dan dia cerita tentang kamu. Itu awal saya mencari kamu,” kata lelaki tersebut.



“Dari beberapa saran yang saya dapat, saya diminta meminta maaf pada anda dan istri anda atas nama anak saya dan juga keponakan saya agar anak saya bisa sembuh.”



“Anda tahu saya 32 hari tidak sadarkan diri? Saya hampir 40 hari di rumah sakit. Anda tahu berapa biaya yang dikeluarkan oleh mertua saya? Walau ada potongan dari Jasa Raharja tapi mertua saya memasukkan saya di ruang VIP dan karena kondisi saya yang kritis istri saya yang sedang hamil juga harus berkali-kali dirawat di rumah sakit.”



“Belum lagi biaya mondar-mandir kami sekeluarga dari rumah ke rumah sakit dan biaya makan kami. Anda tahu biaya semua bukan hitungannya juta tapi sudah melebihi 1 M! Anda bisa tanggung itu?” tanya Yanto mencibir.



“Saya bisa memaafkan asal anda menanggung biaya itu. Kalau anda tidak menanggungnya saya tidak akan bisa memaafkan. Anda cari uang dan buktikan pada saya bahwa Anda bisa membayar biaya pengganti.”



“Semua uang pengganti itu akan saya sumbangkan kepada beberapa panti asuhan dan rumah jompo. Tidak akan saya ambil satu rupiah pun. Tapi anda harus bayar semua itu cash pada saya, baru anda dapat maaf saya,” jelas Yanto tak peduli Suradi dan kedua tamunya bengong.



“Saya tidak rela anak dan istri saya terluka karena saya harus kecelakaan. Memang kecelakaan itu tidak secara langsung akibat dari perbuatan Yani, tapi saya mengalami itu karena saya berpikir bagaimana dengan nasib keluarga saya yang hancur akibat perbuatannya. Itu hubungan antara perempuan sampah itu dengan kecelakaan yang saya alami. Bisa anda bayangkan bila saat itu saya langsung meninggal saat istri saya hamil 5 minggu?”



“Bagaimana nasib anak saya sejak lahir tak punya ayah? Juga beban sejak hamil pada istri saya hingga melahirkan dan membesarkan anak sendirian tanpa ada saya? Itu sebabnya saya minta biaya pengganti itu. Bukan untuk saya. Karena mertua saya tak butuh uang itu.”



“Maaf saya lebih baik melihat anak saya daripada melihat anda semua!” Yanto langsung berdiri masuk ke dalam tak peduli pada kedua tamu serta pada mertuanya.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.


__ADS_1


__ADS_2