
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Yanto dan Fitri bergerak ke sisi lain
"Setrikaan bagaimana Mas?"
"Iyalah setrikaan penting itu. Mesin cuci nya nanti ya Dek."
"Enggak apa-apa enggak pakai mesin cuci," Fitri mengerti bila keuangan Yanto belum cukup.
"Tetep pakai nanti aku belikan. Cuma nggak sekarang. Sekarang kita yang urgent dulu. Bukan uangnya enggak cukup, tapi kita mau cepat pulang. Nanti ibu sama ayah kepikiran kalau kita enggak cepat pulang." jelas Yanto.
Kalau hanya ranjang dan alat dapur tentu Yanto tak takut hilang. Kalau ninggalin mesin cuci tentu belum tahu lingkungan, Yanto tak berani. Nanti saja kalau mereka sudah tinggal disana.
"Insya Allah Mas akan belikan mesin cuci biar kita sama-sama nggak terlalu kelelahan," kata Yanto. Kalau tak ada mesin cuci kasihan Fitri. Terlebih sebagai sopir dan montir baju Yanto pasti sangat kotor.
\*\*\*
"Bawa barang sekalian *wae* nTo," saran Suradi pada menantunya.
"*Maksud te pripun* Pak?" Tanya Yanto.
__ADS_1
"Ya jangan bawa setiap Minggu satu-satu sedikit-sedikit bawa sisan pakai mobil box satu kali jalan. Semua sudah rampung Kamu nggak ke beban."
"Kami enggak bawa apa-apa kok Yah. Cuma bawa baju kami aja," Yanto menegaskan dia hanya membolehkan Fitri bawa baju saja, tentu dengan sepatu dan tas. Tapi tak perlu bawa barang lain. Semisal ranjang, lemari atau barang besar lainnya.
"Ya tapi setidaknya itu meja riasnya Fitri kan bisa dibawa toh? Ibu dengar kamu sudah beli peralatan dapur. Jadi enggak perlu bawa lagi dari sini. Tapi kan mungkin meja kompor atau meja makan perlu dibawa. Bawa aja pakai mobil bak kecil kalau kamu enggak mau pakai truk," Kata bu Erlina.
"Kalau lemari baju dan lain-lain kami tak perlu. Fitri juga tak butuh lemari tas dan lemari sepatu. Karena saya enggak tau apa dia mau bawa semua sepatu dan tasny. Kami hanya butuh tas dan sepatu seperlunya saja. Kami hanya butuh lemari pakaian, mungkin nanti kami beli yang plastik kan aja," jawab Yanto. Dia juga tak ingin berseteru lebih panjang dengan mertuanya.
"Ya sudah kamu siapin aja barang-barang yang bisa dibawa, mungkin meja belajarmu itu bisa dibawa di sana dipakai buat meja makan atau apa yang ada di kamarmu itu di kamar lama," kata Suradi.
"Kamu juga bisa bawa meja buat kompor sehingga masaknya nggak merunduk."
Erlina dan Suradi tak bisa bersikeras lagi karena memang menantunya seperti itu.
\*\*\*
Hari ini adalah hari kepindahan Fitri dan Yanto ke Jogja.
Sesuai dengan permintaan Erlina dan Suradi, mereka membawa satu mobil bak kecil untuk bawa barang-barang. Suradi dan Erlina pun ikut mengantar pasangan suami istri baru itu dengan mobil mereka dan di antar sopir.
Yanto membawa meja belajarnya di kamar belakang.
__ADS_1
"Ini alamatnya masuk daerah mana?"
"Ini daerah patang puluhan Yah." Suradi meminta alamat lengkap rumah kost itu.
"Tolong beli makan siang ya," pinta Suradi pada sopirnya untuk membeli makan siang mereka.
"Inggih Pak," kata sopirnya.
\*\*\*
"Ayah tahu kamu bukan tidak mampu membelikan mesin cuci, dan Ayah juga tahu kamu bilang akan membeli setelah kamu tinggal di sini, karena takut hilang."
"Sekarang kamu sudah tinggal di sini, Ayah hanya ngasih hadiah ini aja ya, nanti kalau barangnya datang diterima karena itu memang Ayah belikan untuk kamu." Yanto kaget karena di situ tertera Suradi memesan mesin cuci juga kulkas dan televisi.
"Kalau mesin cuci dan kulkas memang kami butuh tapi kalau televisi buat apa Yah. Sepulang kerja kami sudah terlalu lelah untuk menonton televisi," Yanto menerima bon pembelian dari Suradi.
"Biarlah buat punya-punya," Kata Erlina.
"Baiklah Bu," jawab Yanto pelan.
"Tapi untuk selanjutnya kami cukup diberi doa aja nggak perlu Ayah dan Ibu memberi barang lain," kata Fitri. Fitri tahu Yanto ingin semua barang di rumah dari hasil tangannya sendiri."
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR yok
__ADS_1